Gaya Hidup

Pihak Istri Banyak Ajukan Gugat Cerai, Ini Penyebabnya

Foto ilustrasi

Mojokerto (beritajatim.com) – Dari 1.453 perkara perceraian rumah tangga yang ditangani Pengadilan Agama (PA) Mojokerto mulai bulan Januari hingga November 2019, mayoritas diajukan pihak istri. Yakni sedikitnya, ada 1.118 perempuan di Mojokerto yang mengajukan gugatan cerai.

Panitera Muda (Panmud) Hukum PA Mojokerto, Supardi mengatakan, dari 1.453 perkara, 1.118 perkara diajukan dari pihak istri. “Artinya, ketidakcocokan pihak istri dalam menjalin hubungan rumah tangga lebih dominan ketimbang suami. Ada beberapa penyebab yang melatarbelakangi ribuan perceraian itu terjadi,” ungkapnya, Rabu (25/12/2019).

Tidak jauh beda dengan catatan tahun sebelumnya, faktor ekonomi menjadi faktor dominan para penggugat mengajukan perkara cerai. Yakni, sebanyak 755 perkara. Banyak yang tidak kuat membina hubungan suami-istri lantaran tak mampu atau mendapat nafkah cukup sesuai tingkat kebutuhan hidup sehari-hari.

“Khususnya, bagi suami-istri yang background pendidikan terakhir SD sampai SMA. Yang sebagian besar diasumsikan sebagai pekerja kasar atau kaum buruh dengan tingkat penghasilan di bawah UMK. Lulusan SD sebanyak 275 pemohon, SMP 471 pemohon dan SMA 418 pemohon,” katanya.

Sementara yang lulusan sarjana hanya 60 pemohon. Selain ekonomi, faktor perselisihan, pertengkaran terus menerus hingga Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga menjadi alasan terbanyak di balik pengajuan cerai di tahun 2019. Yakni sebanyak 435 perkara. Termasuk faktor orang ketiga.

“Campur tangan orang tua menjadi dominasi terbanyak alasan di balik perpisahan. Perselisihan itu juga masih banyak jenisnya, bisa karena pernikahan nggak disetujui orang tua, atau juga karena dijodohkan tapi tidak cocok. Yang jelas, perselisihan baik bersifat verbal maupun fisik,” pungkasnya. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar