Gaya Hidup

Pertunjukan Reyog Ponorogo di New Normal, Begini Ketentuannya

Penari jathil menggunakan masker saat pertunjukan reyog. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Selama pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama tiga bulan ini, praktis acara-acara yang mendatangkan banyak massa dilarang. Salah satunya pertunjukan reyog Ponorogo.

Jika sebelum pandemi, masyarakat dimudahkan dengan pertunjukan reyog setiap tanggal 11 setiap bulannya serentak di desa/ kelurahan di Ponorogo. Kini sudah jarang bahkan nyaris tidak ada pementasan lagi.

“Mau tidak mau, pementasan reyog ya harus sesuai protokol kesehatan dan ada ketentuan lainnya supaya tidak menjadi mata rantai penularan Covid-19,” kata Bupati Ipong Muchlissoni, Selasa (16/6/2020).

Nantinya, kata Ipong seluruh pemain reyog, mulai dari klonosewandono, ganongan, jathil dan pembarong harus selalu mengutamakan jaga jarak dalam pertunjukanya. Dan tidak lupa selalu pakai masker.

Selain itu pertunjukannya pun harus menyesuaikan tempat. Jika tempatnya tidak mencukupi untuk mereka bermain normal atau seperti biasanya, ya pemainnya harus dikurangi.

“Misalnya tempatnya hanya menampung 15 orang, pemain jathil atau ganongannya dikurangi,” katanya.

Kalau pemain reyognya sudah menerapkan protokol kesehatan Covid-19 saat pertunjukannya, penontonnya pun juga sama. Penonton juga harus jaga jarak dan memakai masker. Nah itulah pertunjukan reyog dalam new normal.

Ke depan jika sudah penerapan new normal, seluruh kegiatan masyarakat boleh dilaksanakan secara normal. Tetapi mungkin ada beberapa ketentuan baru, selainĀ  sesuai dengan protokol kesehatan tentunya. Salah satunya dengan pembatasan jumlah pesertanya dan kapasitas tempatnya. Yakni dengan jumlah peserta 60 persen dari kapasitasnya.

“Misalnya acara yasinan, jika rumahnya bisa menampung 100 orang, namun yang diundang nantinya hanya 60 orang. Supaya kegiatannya berjalan dan physical distancingnya juga berjalan,” pungkasnya. (end/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar