Gaya Hidup

Pertahankan Tanpa PHK, Karyawan Hotel di Sumenep Masuk 14 Hari Kerja

Sumenep (beritajatim.com) – Sejumlah hotel di Kabupaten Sumenep hingga saat ini masih berusaha bertahan di tengah pandemi Covid-19. Hotel-hotel itu tetap buka meskipun tingkat huniannya ‘terjun bebas’.

Manajer Hotel Kaberaz Luxury Sumenep, Saiful menjelaskan, di tengah masa sulit seperti sekarang ini, managemen tetap berusaha bertahan agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para karyawannya. Namun solusi yang harus dilakukan adalah pengurangan hari kerja.

“Kami tidak ingin ada PHK karyawan. Tapi kami terpaksa mengurangi hari kerja mereka, karena okupansi hotel juga terus menurun selama masa pandemi Covid-19,” katanya, Senin (01/06/2020).

Hotel Kaberaz Luxury merupakan salah satu hotel di Sumenep yang baru beroperasi pada Desember 2019. Sejak beroperasi hingga pertengahan Maret 2020 atau awal masa pandemi Covid-19, okupansi di Hotel Kaberaz Luxury sekitar 30 persen dari 51 kamar.

Bahkan pada Maret 2020 atau tiga bulan berjalan sejak beroperasi, tingkat hunian kamar di hotel tersebut menunjukkan tren meningkat seiring dengan banyaknya permintaan penggunaan kamar.

“Tapi sejak pandemi Covid-19  okupansi terus menurun yang membuat target minimal pendapatan akhirnya tak tercapai. Saat ini okupansi hotel kami tinggal 10 persen,” ujarnya.

Karena itulah, managemen Hotel Kaberaz Luxury terpaksa membuat kebijakan baru terhadap karyawan. Semula hari kerja per karyawan 24-25 hari per bulan, saat ini menjadi 14 hari.

“Kebijakan itu harus kami lakukan karena memang sekarang keuangan kami dalam kondisi sulit. Syukurlah karyawan bisa menerima kebijakan itu, yang penting tidak ada PHK,” ucapnya.

Sementara Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumenep, M Yusly menjelaskan, sebagian besar hotel di Sumenep masih beroperasi, meski tingkat huniannya anjlok.

“Kami rasa semua hotel pasti mengalami hal yang sama saat ini. Bahkan bukan hanya di Sumenep. Tetapi rata di semua wilayah. Semoga saja pandemi Covid-19 ini segera berlalu,” harapnya.

Ia menjelaskan, untuk Sumenep, sebagian besar pengelola hotel memang memilih untuk tidak mem-PHK karyawannya, dengan alasan kemanusiaan. Namun konsekuensinya, hari kerja dan pendapatan dipotong hingga 50 persen.

“Ini memang kondisi yang sulit bagi kami. Tetapi kami tidak punya pilihan lain. Yang penting karyawan bisa menerima kebijakan pengurangan jam kerja tanpa PHK, hingga kondisi normal kembali,” terangnya. (tem/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar