Gaya Hidup

Peringatan Hari Kemerdekaan di Gunung Penanggungan Diprediksi Membludak

Pengibaran bendera merah putih di Puncak Gunung Penanggungan saat peringatan Hari Kemerdekaan RI tahun lalu. [doc]

Mojokerto (beritajatim.com) – Untuk mengantisipasi membeludaknya peserta pendakian di Gunung Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto saat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, Senin (17/8/2020) besok, petugas bakal melakukan pembatasan. Yakni dengan menerapkan sistem buka tutup.

Sekretaris LMDH Sumber Lestari, Khoirul Anam mengatakan, mengaca pada tahun sebelum-sebelumnya Gunung Penanggungan menjadi jujugan para pendaki untuk memperingati moment 17 Agustus. Biasanya, para pendaki banyak melalui jalur pendakian Tamiajeng di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

“Untuk mengantisipasi membludaknya para pendaki, kami akan menerapkan sistem buka tutup jika terdapat kerumunan. Khususnya di Pos Registrasi Pendakian Tamiajeng. Ini dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di tengah pandemi khususnya di Pos Registrasi Pendakian Tamiajeng,” ungkapnya, Minggu (16/8/2020).

Masih kata Anam, tahun ini ada tiga titik lokasi upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-75 di Gunung Penanggungan. Yakni di Puncak Pawitra, Puncak Bayangan dan Bukit Gajah Mungkur. Pembagian lokasi upacara tersebut lantaran pandemi Covid-19 sehingga tidak dilakukan terpusat di satu titik.

“Untuk tahun ini, kegiatan 17 Agustus di Gunung Penanggungan tidak seperti tahun lalu karena kita tahu sendiri masih pandemi. Kami juga telah melakukan berkoordinasi dengan beberapa pos penanggungan jawab di jalur resmi. Seperti jalur Kedungudi, Seloliman dan jalur Telogo,” katanya.

Tujuannya, lanjut Anam, ketika pendaki jalur Tamiajeng membludak maka pendaki disarankan bisa melalui jalur lain. Sesuai dengan aturan protokol kesehatan, jumlah pendaki dibatasi hanya 50 persen dari jumlah normal. Namun, karena ini momen 17 Agustus, maka akan disesuaikan dengan catatan tidak sampai terjadi penumpukan.

“Jalur Tamiajeng kapasitasnya secara normal bisa mencapai 2.300 orang, itu dengan asumsi bisa mendirikan tenda semuanya. Namun pada tahun ini, khusunya di jalur Tamiajeng kita antispasi adanya penumpukan massa terlebih di registrasi yang paling rawan. Mengantisipasinya, kita akan memberlakukan sistem buka tutup,” jelasnya.

Tak hanya antisipasi membludaknya pendaki, pihaknya juga bekerja sama dengan potensi relawan lain. Seperti LPBI-NU dan juga Wlirang Comunity serta potensi relawan yang ada di Mojokerto. Kerja sama ini dilakukan terkait sektor pengamanan para pendaki selama melakukan pendakian di Gunung Penanggungan.

Sementara itu, Ketua LPBI-NU Mojokerto, Saiful Anam mengatakan, dalam penjagaan pengamanan pendaki menjelang moment 17 Agustus di Gunung Penanggungan, pihaknya bersama potensi relawan yang ada di Mojokerto akan membagi tim di beberapa sektor.

“Tentunya kita akan siapkan anggota yang akan berjaga di tiap-tiap pos, termasuk di jalur pendakian resmi yang lain. Ini dilakukan tak lepas apabila ada insiden yang tak di inginkan. Karena tahun ini ada tiga lokasi upacara bendera, di Puncak Pawitra akan dikibarkan 1.000 meter bendera merah putih, Puncak Bayangan dan di bukit Gajah Mungkur,” ujarnya.

“Di Bukit Gajah Mungkur dilaksanakan oleh Tim Corp Barisan Pelajar (DKC CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Mojokerto via jalur Pendakian Telogo, Kecamatan Ngoro Mojokerto. Tim lainnya ada di jalur Tamiajeng, Kedungudi dan Seloliman,” jelasnya. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar