Gaya Hidup

Perempuan Ini Sukses Olah Belalang Jadi Camilan

Mojokerto (beritajatim.com) – Berawal karena sejak kecil suka mengonsumsi belakang untuk dijadikan camilan keluarga, Fatmawati (34) warga Dusun Suru lor, Desa Suru, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto mengolah belalang menjadi camilan.

Belalang, serangga herbivora yang banyak ditemui saat musim panen padi atau musim penghujan seperti saat ini dialoh menjadi belalang goreng. Ada dua varian rasa yang diciptakan ibu tiga anak ini, yakni sedang dan pedas. Omzetnya tembus Rp1,3 juta per hari.

“Belalang sudah menjadi makanan favorit keluarga saya. Dari situ timbul inisiatif untuk membuka bisnis olahan makanan belalang. Resep olahan belalang saya dapat dari ibu saya, kemudian saya kembangkan,” ungkapnya, Kamis (21/2/2019).

Masih kata Fatmawati, ia mulai menggeluti bisnis olahan belalang sejak tahun 2014 lalu. Meski awalnya, ia hanya menjual ke beberapa tetangganya karena masih belum merasa percaya diri untuk menjual ke pasaran. Namun setahun kemudian baru ia memberanikan diri.

“Saya memanfaatkan media sosial untuk menjual hasil olahan belalang ini. Saat ini, pelanggan saya sudah tersebar di beberapa kota di Jawa Timur seperti Surabaya, Sidoarjo dan Malang. Ada pula pelanggan dari luar Jawa yakni Batam, Palangkaraya serta Bali,” sebutnya.

Olahan belalang buatan Fatmawati memiliki rasa gurih bercampur pedas. Rasa inilah yang membuat para pelanggan kecanduan. Dalam sehari dirinya mendapat pesanan 2 kg hingga 8 kg olahan belalang. Ia membanderol olahan belalang Rp280 ribu per kilonya.

“Saya juga menyediakan pilihan olahan belalang dengan kemasan plastik dengan berat 1 ons seharga Rp30 ribu. Dalam sehari, omzetnya Rp400 ribu sampai Rp1,3 juta. Pelanggan juga bisa beli olahan belalang mentahan seharga Rp165 ribu,” katanya.

Belalang yang sudah dimasak bisa bertahan sampai tiga minggu. Ada tujuh orang pemburu yang menyuplai belalang ke Fatmawati, mereka berasal dari Desa Sooko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Belalang yang disuplai jenis belalang kayu dan padi.

“Stok belalang bakal melimpah saat musim penghujan dan panen padi. Saya mengambil belalang di pemburu seharga Rp120 ribu sampai Rp180 ribu perkilo. Selain dimakan sebagai camilan, belalang goreng juga nikmat dimakan bersama nasi putih hangat dan sambal,” tegasnya.

Istri Andi Setiawan ini menambahkan, bagi yang memiliki alergi terhadap makanan yang berprotein tinggi sebaiknya berhati-hati saat menikmati makanan yang satu ini. Karena tidak sedikit orang yang alergi setelah mengonsumsi belalang.

Ada beberapa tahap pengolahan belalang. Sebelum diolah, kotoran, kaki belakang dan sayap belalang harus dibuang. Setelah itu, dicuci sebanyak tiga kali hingga kulit belalang bersih dari kotoran. Kemudian baru digoreng. Dalam proses pengolahan belalang Fatmawati dibantu oleh keluarganya.

“Untuk proses penggorengan, digoreng setengah matang dulu sampai warnanya memerah. Setelah itu baru dimasukkan bumbu kuning seperti bawang putih, bawang merah, cabai rawit, garam hingga daun jeruk. Bumbu itu ditumis terlebih dahulu,” ucapnya.

Selanjutnya, setelah bumbu di tumis beberapa menit, kemudian belalang yang sudah di goreng setengah matang dimasukkan sampai benar-benar matang atau bumbu meresap. Yakni kurang lebih 15 menit.

Salah satu pelanggan belalang goreng, Tini (31) mengatakan, ia setiap hari selalu memesan belalang goreng dan sudah menjadi pelanggan tetap sejak Fatmawati merintis bisnis tersebut. “Rasanya gurih dan pedas sungguh menggoyang lidah. Apalagi disantap dengan nasi jagung,” urainya. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar