Gaya Hidup

Penjualan Face Shield di Surabaya Meningkat

Surabaya (beritajatim.com) – Kini face shield menjadi salah satu alat pelindung yang diincar oleh masyarakat usai masker yang digunakan di masa transisi new normal pandemi Covid 19.

Pasalnya kini berbagai sektor seperti pusat perbelanjaan, perhotelan dan transportasi mulai mewajibkan pengunjungnya menggunakan face shield untuk mencegah penularan covid 19 melalui droplet.

Salah satunya Andi Wantono yang mengawali bisnis sebagai pengrajin tas, dirinya mencoba banting setir untuk memproduksi alat pelindung diri salah satunya face shield yang mulai diburu masyarakat.

“Traffict penjualan face shield sangat meningkat tajam sejak digaungkannya new normal life oleh pemerintah pada awal juni lalu,” ungkapnya saat ditemui di tempat produksinya, Jalan Dukuh Setro Surabaya, Minggu (21/6/2020).

Dalam sehari, Andi mampu memproduksi 2000-3000 pieces alat pelindung wajah yang siap didistribusikannya keseluruh Indonesia dengan dominasi wilayah Jatim. Diantaranya Surabaya, Madiun, Tulungagung, Kediri, Malang dan terjauh Jayapura.

“Untuk pesanan produk didominasi oleh wilayah Jatim terutama perusahaan-perusahaan swasta,” lanjutnya.

Tak hanya banjir pesanan, face shield buatannya juga mampu menghasilkan omzet hingga berkali lipat dengan kisaran jumlah 200-300 juta per bulan.

Turut mengikuti selera pasar, Andi Wanonto menciptakan dua jenis model face shield dengan material yang aman dan nyaman. Karena face shield yang sudah jadi akan dilakukan proses packing untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia.

“Ada dua model face shield, diantaranya jenis standart dengan konsep buka tutup yang fleksibel. Kemudian model kedua lebih praktis dengan adanya kacamata,” imbuhnya.

Dari segi material, face shield produksinya menggunakan mika tebal 0.45 cm yang tidak mudah melengkung dan melebar dengan harga Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu per satu face shield.

Untuk pembuatannya, face shield hanya membutuhkan bahan sederhana seperti mika, busa, elastis karet dan pin lock sebagai pengait.

“Tahapannya mulai dari pemotongan mika, kemudian perekatan busa dan pemasangan elastis dengan lem dan semuanya disatukan dengan pin lock atau keling,” kata Fitri, karyawan packing production. [way/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar