Gaya Hidup

Pengusaha Konveksi di Mojokerto Ini Bikin Masker dan Dibagikan Gratis

Mojokerto (beritajatim.com) – Merebaknya pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia membuat Alat Pelindung Diri (APD) langka, salah satunya masker. Langkanya masker membuat harga masker melonjak tinggi, hal ini yang membuat seorang pengusaha konveksi di Mojokerto tergugah untuk membuat masker.

Masker bikinan pengusaha konveksi Tri Widiyatmoko warga Dusun Tegalsari, Desa Puri, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Tak ayal, ia pun kebanjiran pesanan. Dibantu 14 karyawannya, dalam sehari bapak dua anak ini mampu membuat 250 buah masker.

“Ini adalah bentuk keprihatinan, karena saat ini masker harganya melambung tinggi dan sulit untuk mendapatkannya. Karena saya punya karyawan, mesin jahit dan sisa kain katun jenis combed dan spunbond yang bisa digunakan untuk membuat kain sehingga saya buat,” ungkapnya, Kamis (9/4/2020).

Masih kata Tri, meski ia belum pernah membuat masker sebelumnya, namun semua bisa dilakukan dengan mudah. Ini lantaran, ia melihat tutorial pembuatan masker yang ada di media sosial (medsos). Ia menilai dua jenis kain yang dimilikinya tersebut memiliki pori-pori yang padat sehingga relatif cocok untuk penyaring.

“Jadi kalau dipakai nyaman, tidak panas. Insya Allah sudah standard karena saya kemarin sempat melihat di medsos jika memang kesulitan mencari masker kain berjenis spunbond dan sisa kain jenis combed yang kebetulan saya punya banyak, bisa menjadi solusi. Karena kain ini bahan dasar konveksi saya,” katanya.

Kain katun jenis combed tersebut merupakan dari sisa pembuatan kaos di tempat konveksinya sehingga bahannya masih tersedia cukup banyak. Dia mengaku tidak berpikir untuk menjualnya meski diakui setelah ia membuat masker, banyak pesanan yang datang dari luar Mojokerto.

“Hasilnya saya bagikan kepada lingkungan secara gratis dan yang membutuhkan. Banyak yang pesan, rata-rata dari orang yang saya kenal atau orang dekat tapi tetap saya batasi. Ya, saya khawatir saja ada penimbunan atau barang kali dimanfaatkan,” ujarnya.

Dengan kondisi seperti saat ini, lanjut Tri, apa yang bisa diperbuat untuk sesama ia akan lakukan. Meski diakui soal mencari keuntungan, ia juga butuh. Namun ia ingin dalam pembuatan masker tersebut untuk sosial tanpa mencari keuntungan. Meski banyak pesanan yang berdatangan, tak ia manfaatkan.

“Saya ingin membuat masker dengan konsep sosial. Untuk pembuatan masker kain ini, kalau ngomong uang yang menghabiskan cukup lumayan banyak karena beberapa bahan pembuatan seperti karet dan kain juga mengalami peningkatan harga. Kalau kain spunbond ini masih stabil tapi semua demi sesama,” tegasnya.[tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar