Gaya Hidup

Pemuda Gondang Ini Kebanjiran Pesanan Wayang Kertas

Mojokerto (beritajatim.com) – Subekti Alam Muk’arif, pemuda 25 tahun ini merupakan pengrajin wayang kertas. Dalam satu bulan, Dusun Slawe, Desa Padi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto ini mendapatkan pesanan sampai lima buah wayang kertas.

Subekti mengaku, keahliannya dalam membuat wayang kertas ia pelajari secara otodidak. Dia hanya berbekal kemampuan menggambarnya dan pola garis wayang ia pelajari dari buku. Semua karena dari kecil, sang ayah sering memberinya cerita soal wayang.

“Sebenarnya, saya membuat wayang kertas untuk koleksi pribadi. Karena sejak kecil ingin punya wayang kulit. Saya memang sejak kecil sudah suka pewayangan. Karena, ayah saya sering bercerita kisah pewayangan hingga tertidur lelap,” katanya.

Sehingga, sekitar tahun 2007 lalu atau saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ia membuat wayang dari bahan kertas. Wayang kertas buatannya tersebut kemudian dipajang di ruang tamu. Saat tetangga berkunjung ke rumahnya, dia diminta untuk membuatkan wayang kertas.

“Ternyata para tetangga merespon baik kerajinan wayang kertas buatan saya ini, tetangga saya itu memesan satu wayang kertas karakter Arjuna. Beberapa hari kemudian, wayang kertas saya mulai dilirik tetangga lain dan banyak yang pesan,” ujarnya.

“Dalam satu bulan, ada 5 pesanan wayang kertas. Wayang ukuran 10 cm saya banderol Rp30 ribu, kalau yang ukuran 1 meter saya banderol Rp150 ribu. Selain itu, saya juga membuat wayang dari bahan talang (seperti karpet) harganya paling kecil Rp 60 ribu,” jelasnya.

Masih kata Subekti, wayang talang bisa dibuat pertunjukan wayang karena tidak mudah robek. Sementara untuk wayang kertas hanya cocok untuk pajangan di ruang tamu. Wayang kertas buatan Subekti terbuat dari kertas karton atau duplex ukuran A3 dan goresan garis-garis membentuk karakter wayang dari pensil.

“Setelah karakter wayang terbentuk, kertas digunting sesuai pola garis dan di cat air menggunakan kuas. Pengecatannya untuk wayang ukuran kecil sampai 3 hari, kalau gunungan bisa sampai 1 minggu. Agar bisa berdiri, di bagian tengah yang nyambung ke pegangannya, saya gunakan bambu,” tuturnya.

Menurutnya, jika menggunakan rotan maka harga juga berbeda. Setelah selesai pengecatan maka dipernis dengan tujuan agar mengkilap, sedangkan untuk potongan tangan wayang ia menggunakan senar pancing yang besar dan dibakar api sedikit agar mengunci.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar