Gaya Hidup

Pasar Gembong Surabaya Sepi, Ini Kata Pedagang

Surabaya (beritajatim.com) РPasar  baju bekas impor di kawasan Kapasan, Surabaya  kian sepi sejak impor dari luar ke Surabaya ditutup karena Virus Corona.

Pasar Gembong orang Surabaya biasa memanggil ini biasanya selalu rame sejak siang ketuka di buka. Namun, kini hal semacam itu tak tampak di sana.

Bahkan, para pedagang tak tampak lagi terlihat berbaris menjual barang-barang bekas, mulai pakaian hingga peralatan lainnya. Pasar barang bekas serba ada di Surabaya ini tampak sepi, karena terdampak virus corona atau covid-19.

Salah satu pedagang sepatu bekas di Pasar Gembong, Abdul Manab mengaku tak satupun barang yang ia jual laku. Hal itu sudah ia rasakan selama satu bulan ini.

“Parah ini hutang saya di warung kopi sampai numpuk. Serta barang dagangan belum ada yang terbeli,” kata Abdul saat ditemui, Selasa (14/4/2020).

Abdul mengakui, kondisi yang ia alami ini tak cuma dirasakanya. Tapi semua pedagang di Pasar Gembong juga merasakan hal yang sama.

Abdul sendiri saat ditemui tak sedang meladeni pembeli, ia hanya duduk santai sambil menyedot sebatang rokok di tangan, sambil menunggu datangnya pembeli.

Padahal, barang-barang yang dijual pun cukup variatif. Bisa dikatakan mulai kebutuhan fashion, olahraga, dan gaya ada di lapaknya. Meski hanya beralaskan terpal biru di atas lantai.

“Bener-bener sepi banget, kayaknya semua pada takut keluar rumah,” imbuh dia.

Tak hanya itu, Abdul mengatakan barang yang ia jual ini berasal dari luar negeri. Mulai dari jam tangan, raket tenis, tas, sepatu, hingga botol bekas minuman keras tak ada yang dari pabrikan lokal.

“Semua barang yang saya jual ini dari luar negeri, tapi ya begitu akibat corona jadi sepi, padahal biasanya jam segini sudah rame-ramenya,” ujar dia.

Senada dengan Abdul Manab, Mat Hasan juga merasakan hal yang sama. Ia yang berjualan sepeda angin bekas juga selama sebulan ini belum mendapatkan pembeli.

“Sama, benar-benar lagi sepi, tapi mau gimana lagi, ya begini ini usahanya orang dagang, harus menunggu,” ucap dia.

Hasan bercerita untuk mengusir rasa bosan sambil menunggu pembeli yang mampir, ia pun melakukan aktivitas dengan membenarkan sepeda-sepeda bekas yang akan dijual.

“Ini loh kebetulan sepeda anak saya. Kebetulan saya bisa benerin, ya saya kerjakan sendiri, itung-itung mengusir rasa bosan,” tambah dia.

Meskipun sejumlah pedagang mengaku penjualan sepi, bukan berarti suasana pasar ikut sunyi. Musik dangdut masih bersahut-sahutan di sini. Hal itu dilakukan pedagang supaya kondisi pasar tetap terlihat rakai sambil menghibur para pedagang yang sedang gundah menunggu pembeli.

“Cara itu memang sengaja dilakukan untuk meyakinkan kepada calon pembeli. Serta menghibur penat para pedagang yang terkena imbas corona. Sehingga para penjual sound dan tape ini menyetel musik cukup keras dengan tujuan itu,” ucap Hasan.[way/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar