Gaya Hidup

Parameter Takwa dalam Berpuasa

WAHAI orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Agar kamu bertakwa,” QS Al-Baqarah: 183.

Seperti diketahui bersama, bahwa ayat tersebut merupakan salah satu perintah bagi setiap muslim yang beriman agar melaksanakan ibadah puasa selama Ramadan. Sekaligus menjalankan salah satu dari lima rukun Islam, yakni Puasa Ramadan.

Namun yang pasti, puasa bukan hanya sekedar menahan dahaga dan lapar semata. Sebab jika hal itu terjadi, justru kita akan terjebak terhadap dimensi fisik belaka. Padahal substansi puasa secara prinsip lebih condong pada dimensi kejiwaan atau lebih tepatnya memadukan dimensi fisik dan kejiwaan.

Hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; “Begitu banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus belaka,” al-Hadits.

Esensi takwa dalam ayat di atas, prinsipnya merupakan sebuah proses untuk kembali kepada fitrah sebagai manusia. Artinya bertingkah laku sebagai manusia seutuhnya dengan memaknai esensi mahluk ciptaan terbaik, bukan hanya untuk pribadi tetapi juga bagi seluruh alam.

Sebagai seorang hamba, manusia diciptakan tidak lain bertugas sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga manifestasi sifat takwa merupakan bentuk konktit dari perbuatan baik, satu poin penting dari ketakwaan tersebut tentunya dengan mengikhlaskan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Bentuk keikhlasan dan ketaatan tersebut, nantinya bakal memberikan efek positif terhadap prilaku pribadi. Baik bagi diri sendiri, orang lain, lingkungan dan beragam jenis amal shalih lainnya. Bahkan semuanya harus dipadukan dan berkesinambungan, sehingga tercipta relasi dengan Tuhan, manusia dan alam.

Katagori takwa dalam hal puasa ‘dipatok’ sebagai tujuan dari rukun Islam ketiga, sebab puasa yang baik dan berhasil akan berdampak pada aspek ketakwaan. Meliputi peningkatan kualitas diri, dengan sesama, lingkungan dan tentunya dengan peningkatan kualitas hubungan dengan Sang Khaliq.

Pada saat seseorang mencapai semua itu, pada dasarnya ia sudah kembali pada pada fitrahnya sebagai manusia seutuhnya, yakni Insan Kamil. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai jenis parameter yang dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan puasa yang dijalani.

Dari beragam parameter tersebut, dapat diurai secara singkat tentang tanda-tanda yang dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan puasa. Di antaranya badan lebih sehat, emosi lebih rendah, hati lebih lembut dan peka, ibadah lebih bermakna, lebih tenang dan tawadhu’, pikiran lebih jernih dan tentunya kebijaksanaan pada aspek sikap dan perilaku.

Lepas dari semua itu, memang masih banyak lagi manfaat yang dapat dijadikan sebagai parameter untuk mengukur keberhasilan puasa. Namun dari uraian di atas, terdapat gambaran komprehensif tentang berhasil tidaknya puasa yang dijalani. Tentunya dalam mengubah karakter seorang beriman menjadi lebih bertakwa. Wallahu A’lam. [pin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar