Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Pandemi Covid-19 Buat Pedagang Kue Satru Khas Pasuruan Menjerit

Kue Satu Khas Pasuruan

Pasuruan (beritajatim.com) – Kuliner di Indonesia banyak ragamnya. Mulai dari makanan, minuman hingga hidangan berupa kue-kue rumahan yang siap memanjakan lidah kita.

Salah satunya adalah Kue Satu, Kue Sota atau kue sagu. Nah, kalau di Pasuruan lebih popular dengan istilah Kue Satru.

Kue ini banyak diproduksi di Desa Rejoso Lor, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Rata-rata setiap rumah di 8 dusun, semuanya membuat kue satru. Sehingga pantas kalau Desa Rejoso Lor sering dijujuki banyak orang yang ingin membeli kue ini.

Seperti Asiyah (45) dan Nur Khosim (65) yang merupakan satu pasangan rumah tangga di RT 02 RW 03, Dusun Kedung Bendo yang sudah 6 tahun menggeluti usaha pembuatan kue satru.

Asiyah bercerita bahwa awal ketertarikan dirinya untuk menekuni usaha kue satru, tak lain karena banyaknya tetangga yang bisa membuat satru. Selain itu, Asiyah juga tak tega melihat suaminya yang bekerja sebagai tukang pengantar material rumah, sudah berumur.

“Semua warga satu kampung bikin satru, jadi saya juga tertarik membuatnya. Setelah itu, bapak yang kebetulan berprofesi sebagai penarik pick up material, dapat uangnya juga gak banyak,” katanya.

Dengan bermodalkan nekat, uang yang didapatkan sang suami, langsung dibelikan kacang hijau sebagai bahan dasar pembuatan kue satru. Masih lekat dalam ingatannya, Asiyah membeli 5 kilogram kacang hijau yang tanpa pikir panjang langsung ia habiskan untuk membuat satru.

“Uang hasil kerja siami langsung dibelikan kacang ijo sebagai bahan membuat satru. Ya dari itu, akhirnya saya coba-coba,” ungkapnya.

Gayung pun bersambut, usaha yang dirintisnya mulai berkembang. Satu per satu pembeli datang kepadanya. Kata Asiyah, pesanan pertama yang datang kepadanya yakni 2 kilogram satru yang dibeli oleh salah seorang perangkat Kecamatan Rejoso untuk keperluan lomba. Dan hasilnya, kue satru bikinannya jadi juara.

Dulu, per 1 kilogramnya dijual seharga Rp 29 ribu. tapi sekarang ia jual dalam kemasan dengan harga Rp 22 ribu dengan pelanggan yang bukan hanya berasal dari Pasuruan saja, melainkan merambah sampai ke Probolinggo, Madura, Malang dan Surabaya.

“Pokoknya alhamdulillah, karena banyak yang suka dari Pasuruan, Probolinggo, Madura, Malang dan sekitarnya,” ucap Asiyah sembari menjemur satru bikinannya.

Hanya saja, lamanya Pandemi Covid-19 membuat usahanya sempat mandeg jegrek. Diakui Asiyah, karena Covid-19, produksi kue satru tak sebanyak dulu, yakni hanya 25 kilogram dalam dua hari sekali. Padahal dulu bisa sampai 1 ton hanya dalam satu hari saja.

“Gara-gara Pandemi, usaha kami hampir drop. Tapi untungnya sekarang sudah mulai membaik meski masih mulai kemarin,” ucapnya.

Untuk membuat Kue Satru terbilang mudah bagi Asiyah. Kue satru dibuat dari kacang hijau, gula pasir dan tepung sagu. Contohnya dalam 1 (satu) resep terdiri dari 12 kg kacang hijau dan 12 kg gula pasir, sedangkan tepung sagu itu sendiri berfungsi untuk melepaskan kue satru dari cetakan.

Kepada seluruh masyarakat yang ingin membuat kue satru, Asiyah pun memberikan tips atau cara membuat kue satru yang mudah dan cepat. Yakni harus menggunakan kacang hijau yang berkualitas.

“Saya belinya langsung dari petani. Kalau beli di toko banyak yang kopong, termasuk di Bulog, meski sempat menawarkan dengan harga yang rendah, tapi saya gak mau,” tutupnya. (ada/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar