Gaya Hidup

Pahlawan 12 Jam

Banyuwangi (beritajatim.com) – “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”, setidaknya itulah kutipan pernyataan paling terkenal dari seorang proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno. Selain pekik Merdeka tentunya. Ya, semangat pemuda bisa saja merubah warna dunia. Andai saja seluruh pemuda ini adalah seorang pelukis.

Pelukis yang memberi perbedaan pemikiran, dan semangat juang membangun peradaban negeri. Bukan sekedar, melukis warna bantal guling dengan cairan liur, berdarmawisata dengan segudang mimpinya. Pemuda harus memiliki semangat pejuang. Pejuang yang kelak dikenang menjadi pahlawan. Layaknya pahlawan di negeri ini yang telah gigih berjuang mengukir kemerdekaan.

Mari sejenak mengheningkan cipta untuk mereka yang telah pergi mendahului. Mengheningkan cipta mulai….. Selesai. Begitu, cara pemuda menghargai para pahlawannya. Menyanjung pahlawan sebagai sosok yang sangat dibanggakan. Berjasa serta berharga untuk nusa dan bangsanya. Begitu jua bagi kehidupan, bumi yang dipijaknya. Insyaallah.

Mengenang para pahlawan kemerdekaan tentu begitu banyak. Mereka semua berjasa dan berharga. Tak terkecuali, buyut, mbah dan orang tua tentunya.

Tapi, kembali ke konteks kemerdekaan RI terbesit sosok-sosok pahlawan yang tak akan pernah asing. Meski beberapa di antaranya pernah diasingkan. Salah satunya yang sudah tersebut di paragraf paling atas. Agar terkesan lebih hormat, sehingga disebut beliau dalam tulisan ini, beliau adalah Bung Karno.

Seorang Bapak Bangsa sekaligus Presiden Negara Indonesia paling wahid alias pertama. Sudah kenalkah? Pemuda pasti banyak yang tahu, tapi lebih banyak yang tak kenal. Sosoknya yang lebih dikenal dalam sejumlah tulisan sejarah, dan pelajaran dalam sekolah menginspirasi banyak anak di negeri ini. Sehingga mayoritas pemuda masa kini mengaguminya.

Setiap bulan Agustus, nama Soekarno diingat bangsa seantero nusantara. Begitupun dengan tandemnya sepanjang masa dalam sejarah proklamasi, Mohammad Hatta. Dua wajah yang tak akan pernah asing kala orang memandangnya. Baik dari kalangan tetua maupun kalangan siswa.

Dari dua orang ini dan pahlawan bangsa, sejarah kemerdekaan Indonesia dimulai. Tepat tanggal 17, bulan Agustus, tahun 1945, bangsa ini merdeka. Merdeka! seperti pekik Bung Karno yang acap kali mudah diucapkan di masa milenial ini.

Setengah abad lebih, bekas negara Hindia-Belanda resmi berganti nama Republik Indonesia. Bertahta presiden dan sehingga kemudian mengenal era demokrasi. Setiap tahun, seluruh warga mengisi senyum tuah kemerdekaan. Tak terkecuali saat peringatan beloved Indonesian Independence Day atau lebih kerennya disebut hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Indonesia tercinta.

Tapi, tepat di HUT ke 75 ini virus merenggutnya. Euforia yang acap kali menjadi hiburan penyemangat sekejap sunyi. Pandemi Corona Virus Disease (Covid19) bak penjajah yang datang menyelinap dari balik punggung bumi pertiwi.

Nyaris menghentikan roda aktivitas. Tak ada lagi gerak jalan, karnaval budaya yang menyita bahu jalan bahkan, sepakbola “bersayak” yang menyita tawa. Tapi bukan pemuda yang hilang masa, hilang pula kreativitasnya. Justru, momen ini semakin memantik semangat. “Pemuda harus tetap berkarya,” ucap Muhammad Iqbal Arif pemuda Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Sabtu (29/8/2020).

Sore itu sekitar pukul 14.55 WIB, salah seorang kawannya Arga Algus Diawang menggugah nasionalismenya. “Awalnya saya hubungi Mas Ari. Mas, Agustus hampir habis, masak nggak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Sayang kalau dilewatkan,” ajak Arga (dalam bahasa jawa) sembari menghampiri Ari sapaan akrab Muhammad Iqbal Arif.

Pemuda yang juga mengabdikan dirinya sebagai guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Tegaldlimo ini, lantas tak berpaling. Ajakan diiringi dengan spontanitas ide yang menarik. “Lalu saya mengajak Mas Ari membuat kegiatan yang bisa kita lakukan,” katanya.

Lantas, keduanya berunding bak merentjanakan susunan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Bedanya, rencana itu sepakat di rumah Pak Mesidi disaksikan Bagas anak SMA keponakan Arga. “Ya, semula kita sepakat untuk merencanakan membuat mural tema perang,” kata Guru alumni seni rupa Universitas Adi Buana, Surabaya itu.

Begitu sepakat, Iqbal alias Ari meminta untuk menggambar desain awal. Tak ada alat sederhana. Semua dilakukan dengan alat digital, seperti laptop dan perangkat lunaknya. “Lha kok, desain perang nggak jadi berubah sosok pahlawan,” kata Ari.

Berbekal aplikasi Corel draw dan download-an gambar pahlawan di google langkah awal dimulai. Keduanya sepakat mengambil dua sosok proklamator kemerdekaan Indonesia. “Alasannya, Bung Karno dan Bung Hatta menginspirasi pemuda, termasuk kita. Bung Karno dengan kata-katanya yang terkenal ‘Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia’ membuat kami merasa bergetar,” kata pemuda kelahiran 1990 itu.

Sembari merangkai desain, Arga kemudian keliling mencari public space untuk kanvasnya. Muter-muter, ketemulah tembok pojok di simpang empat Dusun Dambuntung, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo.

Lokasi yang tak jauh dari tempat tinggal ketiga pemuda ini. Itu adalah tembok sebuah toko milik Samsul, penjual bahan kebutuhan pokok dan sembako. “Saya ijin, ke Pak Samsul. Awalnya istrinya masih ragu, tapi kemudian Pak Samsul memperbolehkan. Dari pada ditempeli pamflet iklan, terus dipaku gambar-gambar bikin tembok rusak,” ucap Arga.

Waktu menjelang maghrib, gambaran desain selesai. Eksekusi berlanjut usai salat Isya. “Waktu itu, kami juga buat pamflet digital yang kami pasang di story WhatsApp masing-masing. Harapannya, ada pemuda dan kawan lain yang ikut gabung. Eh, gak disangka ternyata ada juga yang konfirm mau ikut,” seloroh lajang 26 tahun silam itu.

Menuju waktu eksekusi, sejumlah persiapan dilakukan. Begitu juga memastikan untuk menambah ikon pahlawan lain di dalam desain yang akan mereka gambar. “Ya, kemudian muncul lagi selain Bung Karno dan Bung Hatta kami selipkan gambar Garuda Pancasila di tengahnya. Karena itu lambang negara kita, ada Bhineka Tunggal Ika di dalamnya. Termasuk ada dua pahlawan lain yang ternyata spontanitas muncul. Satu Bung Tomo dan Cut Nyak Dien,” ujar Ari

Alumus D3 Desain Grafis di Modeling School of Design Yogyakarta ini mengaku punya cerita menarik tentang dua nama pahlawan terakhir di atas. Bung Tomo, menurutnya mewakili penggerak warga Jawa Timur khususnya Surabaya.

Kata Dia, Bung Tomo dengan orasi yang menggelegar, dan takbir yang mengangkasa menyulut adrenalin. “Sosoknya hanya pernah kita dengar, kita lihat dan kita baca dalam sejarah,” ungkapnya.

Sementara Cut Nyak Dien, justru tak terprediksi. Karena menurutnya, pahlawan asal Daerah Istimewa Aceh itu muncul mewakili desain dari sisi wanita. “Ya itu, aku malah gak kepikiran sama sekali. Setelah jadi baru ingat, kalau mewakili kaum perempuan itu kan Kartini ya,” ucapnya sambil semua tertawa karena teringat nama awalan Cut yang lain.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Niat sama baiknya lakukan saja. Mulailah mereka menggambar. “Kita gambar dengan menggunakan proyektor, kita sorot ke dinding itu,” katanya.

Enam kilo cat tembok dengan warna primer berbeda telah tersedia. Lampu sorot juga telah terpasang. Mulailah mereka mencampur adonan cat bak warna-warni negeri ini dengan segudang adat istiadatnya.

Sesekali pengguna jalan menoleh, sambil mengecap-ecap bibir bercengkrama dengan anak dan istrinya yang dibonceng. Tak sedikit dari mereka yang berhenti melihat gerakan seni para pemuda.

“Ya, tidak hanya bertiga. Ada beberapa teman lain yang kala itu ikut datang karena melihat flyer yang kita pasang tadi. Ada, Pak Dedy yang juga menggeluti seni rupa, Tako, Ali, Udin, Dendi dan Triana satu-satunya cewek juga. Ini yang susah karena mau ikut tapi suruh minta ijin dulu ke orangtuanya. Tapi akhirnya boleh, karena termasuk siswa saya,” sahut Arga.

Menjelang tengah malam, bukan mata yang meredup. Justru semangat makin membara, seiring bunyi perut yang bernada. “Luwe tenan,” keluh kesah Ari yang duduk mojok sambil melinting kertas rokok berisi tembakau merah yang makin digandrungi.

Kolaborasi belasan muda-mudi semangat mengayuh kuas dengan komando dua pemuda itu. Empat rupa pahlawan hampir kelar. Tak lupa ucapan kata selamat untuk tanah air tercinta juga tertata rapi. “Ini kan temanya kemerdekaan, kita kasih ucapan Dirgahayu Indonesia ke 75, Indonesia Maju. Semangat 75 tahun, negaraku semakin jaya, berkaryalah pemuda,” pesan pemuda pecinta motor klasik ini.

Tepat pukul 03.12 WIB, para pemuda generasi bangsa ini menyudahi aksinya. Lengkap sudah empat wajah pahlawan dan satu lambang Garuda Pancasila terpampang.

“Ini yang bisa kita lakukan, setidaknya ini adalah pesan untuk anak-anak muda masa kini. Negara kita sudah merdeka, kita tinggal mengisinya. Dan jangan lupa menghargai jasa para pahlawan untuk negeri ini,” imbuh Alumnus Pondok Pesantren Darul Arqom, Balung, Jember ini.

12 Jam lebih mereka berkarya. Satu orang pahlawan tanpa tanda jasa, satu orang perupa mengukir sejarah pertama dalam seni mural di daerahnya. Kelak, mereka juga akan disebut sebagai pahlawan setidaknya bagi keluarga dan lingkungannya. (rin/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar