Gaya Hidup

Pentas Teater di Kebun, Seniman Mojokerto Kritisi Kondisi Bumi

Pagelaran teater berjudul 'ANU' yang dimainkan di sebuah kebun milik warga di Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Bumi Pertiwi sedang terluka, tubuhnya remuk terbalut wabah merebak, bahkan seantero nusantara yang entah kapan penghujungnya. 

Bumiku semakin sesak nafasnya, saat penghuninya merusak pepohonan dan menggali tanah tanpa melihat di sekitarnya.
Ibu pertiwi adalah ibunda kita yang harus ya kita rawat bukan menghujat.

Yang harus kita sayang bukan ditendang
Yang harus kita hormati bukan menggerogoti
Pohon pohon banyak ditebang
Sungai-sungai beraroma busuk limbah.

Gunung-gunung menjerit mengeluarkan amarah.
Ibu Pertiwi merintih
Menatap anak cucunya saling menikam
Dan menghujam dari belakang.

Saatnya kita bersujud menghujam langit dengan doa
Menundukkan kepala dan hati dengan ikhlas
Agar wabah cepat usai di Nusantara.

Ibu yang melahirkan kita
Dan bumi akan menjepit saat kita tidur nanti
Sujud ku pada ibu Pertiwi.

Puisi ini berjudul ‘Sang Tanah Sujud Bumi’, sebuah karya Kukun Triyoga di sesi terakhir  pagelaran seni teater berjudul ‘ANU’ yang dimainkan di sebuah kebun milik warga di Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Teater karya Bagus Mahayasa ini diperankan 25 seniman dan aktor dari berbagai kalangan. Pementasan teater ini bercerita tentang kondisi bumi yang tak baik-baik saja. Para seniman melontarkan kritikan pedas karena banyaknya tambang galian C yang tersebar di Kabupaten Mojokerto.

Selain berisi tentang kegelisahan terhadap kondisi bumi, terlebih, di tengah pandemi para seniman tidak bisa berkarya. Naskah tersebut ditulis beberapa bulan sebelum pandemi Covid-19 berawal dari pembicaraan di warung kopi hingga terkuncinya seniman.

“Saya tulis beberapa bulan lalu, menghadapi pandemi. Dibalik pandemi ini berkeinginan mengkorek-korek keinginan teman-teman seniman itu “merasa dikebirikan” dalam tanda kutip. Adanya pandemi ini mereka tidak berkreasi,” ungkap Bagus Mahayasa.

Ia menggambarkan bahwa seniman saat ini hidup di rumahnya sendiri namun menjadi orang lain di rumah sendirinya itu. Dengan karya berjudul ‘ANU’, ia mencoba untuk mengkritik dengan mengambil bahasa sehari-hari. Istilah ‘ANU’ merupakan istilah dengan berbagai arti.

Namun dalam pementasan kali ini para seniman mengibaratkan sebagai bumi yang tengah rusak akibat tangan manusia. Tak hanya bumi yang sedang rusak akibat diinjak-injak oleh manusia serakah. Pagelaran teater ini merupakan pertunjukan yang digagas oleh berbagai komunitas seniman.

Tak hanya para pengiat seniman teater, melainkan juga dari seni rupa, dalang hingga tari. Dalam pagelaran teater ini mengambil sosok perempuan sebagai ibu pertiwi yang menjadi peran utama. Ibu pertiwi diperankan oleh perempuan bernama Leny.

Dia mengendong boneka bayi yang dewasanya menjadi perusak bumi dengan diiringi tiga penari perempuan sebagi sosok suara hati perempuan. Yang menarik perhatian dalam pagelaran seni ini adalah sosok laki laki dalam kubangan tanah yang diperankan oleh Kukun Tri Yoga.

Dia berperan sebagai tanah yang menari seolah mengikuti iringan musik. Dengan telanjang dada, mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut tertutup tanah berwarna coklat. Ini merupakan gambaran Kabupaten Mojokerto.

Yang seharusnya menjadi daerah penyangga, namun banyak yang dikeruk secara liar, hutan-hutan digunduli. Dia juga memaparkan tentang kondisi pandemi yang hingga kini masih merebak di Mojokerto.

“Kita miris dan prihatin. Bahasa kami melihatnya mungkin bumi atau tanah kita menangis. Ruang gerak kami (seniman) terbatas bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Hanya lewat ‘ANU’ inilah, kami sampaikan kepada siapapun. Bumi kita, tanah kita dalam kondisi tak baik-baik saja,” tegasnya. [tin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar