Gaya Hidup

Onthelis Kuno Kediri Tak Dipusingkan Cicilan di Tengah Pandemik Corona

Kediri (beritajatim.com) – Pembagian Si Jamal (Sinergi untuk Jaring Pengaman Sosial) untuk juru parkir se-Kota Kediri berlangsung di Balai Uji Dishub Tamanan, Kota Kediri (16/4/2020). Meski profesi sama, cara hidup beda-beda. Adalah Masduki (65) yang tak perlu dipusingkan oleh cicilan motor, karena ia tak pernah punya cicilan motor. Ia memilih setia pada sepeda ontanya yang sudah 40 tahun menemani.

Memang, beberapa lembaga keuangan menangguhan cicilan terkait pandemik ini. Hanya saja, cicilan tetaplah cicilan meski diundur. Demikian yang dirasakan oleh beberapa juru parkir yang mengambil Si Jamal. Beberapa dari mereka memiliki kendaraan bermotor yang bagus namun belum lunas.

Sementara itu, Masduki datang dengan sepeda ontanya yang sudah berkarat tapi masih kuat, tampak nyaman, menyatu dengan pengendaranya. Kecuali bahwa pedalnya tanpa karet, jadi hanya besi melintang saja. Sadel kulitnya dibungkus dengan tas plastik hitam untuk melindungi dari hujan agar pantat tak basah. Hari itu, ia mengayuh lebih dari 40km PP untuk mengambil paket Si Jamal.

“Sepeda ini mungkin sudah 40 tahun. Tidak pernah ganti. Eh, pernah ganti sekali, karena waktu itu sepeda saya seperti ini juga, hilang,” kata Masduki. “Kalau sekarang, sepeda gini enggak ada yang mau ambil. Jadi saya malah tenang, di mana-amana aman,” tambahnya sambil tertawa. Ia memilih tak mengambil kredit motor karena merasa sudah cukup dengan sepeda ontelnya.

“Ini saja cukup. Kalau sepedaan lebih sehat. Uangnya bisa dikasih untuk cucu,” katanya. Anaknya 5 orang dengan 8 orang cucu. Kini masih ada 2 orang anak yang dihidupi oleh Masduki.

Setiap hari, ia mengayuh sepedanya dari Plosoklaten, Kabupaten Kediri tempat ia tinggal menuju jalanan sekitar Stasiun Kediri tempat ia bertugas. Hal yang sudah dilakoni lebih dari 30 tahun menjadi juru parkir.

“Pernah kena marah. Dituduh mencuri karena saya mindahin sepeda motor biar rapi. Pernah juga dimarahi pengendara mobil karena saya tidak pas kasih aba-aba,” terangnya mengenai pekerjaannya. Hanya ia mengaku, selagi ia melihat, pasti ia akan membantu pengendara memarkirkan atau membantu pengendara motor yang mengambil kendaraannya. Jadi bukan sekadar juru parkir yang tiba-tiba nongol ketika minta bayaran.

Sama seperti juru parkir lain, Masduki juga mengalami penurunan pendapatan. Memang, sesuai dengan aturan di Kota Kediri, kebanyakan pengendara sudah parkir berlangganan. Tapi kerap kali ada pengendara yang memberi sekadar ucapan terima kasih. Dalam sehari, kadang ia bisa mengantongi Rp 50.000,-/hari. Tempatnya bertugas termasuk ramai. Setelah Covid-19, ia hanya bisa mendapatkan Rp 10.000,-/hari. Kadang kurang karena tidak banyak orang yang bepergian.

“Saya berterima kasih pada Kota Kediri, walau rumah saya bukan di kota, tapi tetap dapat,” kata Masduki. Ia letakkan paket Si Jamal di boncengan sepedanya setelah dibungkus dengan plastik besar, kemudian diikat erat-erat. Masduki pun mengayuh laju sepedanya, menuju Stasiun Kediri, tempatnya bertugas.

Sebagaimana disampaikan oleh M. Ferry Djatmiko, Kadishub Kota Kediri, semua petugas parkir resmi yang bertugas di Kota Kediri didata untuk mendapatkan bantuan meski tidak semua ber-KTP kota, beberapa ada yang kabupaten. [nm/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar