Gaya Hidup

Nyastra Ginyo, Membaca Seni Pertunjukan Lamongan

Kegiatan Seni dan Budaya 'Nyastra Ginyo yang dihelat oleh Komunitas Ginyo dan Lesbumi Lamongan, di Blosoo Kopi, Paciran, Sabtu (11/6/2022) malam.

Lamongan (beritajatim.com) – Sejumlah pelaku seni dan budaya Lamongan yang tergabung dalam komunitas Ginyo dan Legian (Lembaga Kajian Seni Budaya dan KeIslaman Lamongan) menggelar kegiatan Nyastra Ginyo bertajuk “Membaca Seni Pertunjukan di Lamongan”, di Blosoo Kopi, Paciran, Lamongan.

Tak hanya melakukan dialog seputar seni dan budaya dalam pertunjukan teater di Lamongan, dalam kesempatan ini juga disuguhkan musikalisasi puisi. Tampak puluhan peserta yang hadir pun sangat berantusias mengikuti pagelaran ini.

Salah satu narasumber dalam kegiatan ini, Luqman Hakim menyampaikan bahwa para pelaku seni teater di Lamongan bisa dikategorikan dalam tiga kelompok, yakni teater pelajar, teater kampus, dan teater indie.

“Iklim kesenian Lamongan bisa bagus itu tergantung dari pelaku seninya sendiri. Ada teater pelajar, teater kampus dan teater indie. Namun, majunya teater sebenarnya tergantung dari keberadaan teater kampus,” ujar Tohex, panggilan akrab Luqman Hakim.

Teater kampus ini memiliki posisi yang penting. Menurut Tohex, teater kampus adalah gudangnya intelektual yang mampu memperkaya khazanah kesenian dan kebudayaan, sehingga teater kampus akan terus memotivasi teater pelajar di sejumlah lembaga pendidikan yang ada.

“Teater kampus ini juga akan menggugah masyarakat untuk lebih mencintai teater. Teater kampus di Lamongan itu ada Roda dan STNK di Unisda, lalu Rasa di Unisla, Klaras di Stitaf, Ilat di IAI Tabah, dan Serulink di Insud, serta teater Teken dulu di Pondok Sunan Drajat,” sebutnya.

Tohex menegaskan, yang penting untuk dilakukan saat ini adalah bagaimana membangkitkan minat berkesenian para generasi muda dulu. Dengan begitu, iklim kesenian di Lamongan akan lebih baik dan terbentuk.

“Kepada para teater pelajar, biasanya kami tidak saklek harus menyampaikan materi ini dan itu. Selain tentang kemampuan dasar dalam berteater, kami juga membebaskan kepada mereka tentang hal-hal yang mereka suka. Silahkan untuk buat sejarah sendiri,” tambah pria yang juga Ketua Ginyo Lamongan tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, narasumber kedua bernama Khumaidi Abdillah menjelaskan lebih khusus mengenai bentuk seni pertunjukan. Ia menyebut, ada pergeseran dan pertarungan seni pertunjukan di era digital seperti ini.

“Di era digital, pertarungan seni pertunjukan mengalami pergeseran, dari yang berbasis komunitas, adanya interaksi dengan penonton, kini menjadi individualistik,” kata pria yang akrab disapa Memet tersebut.

Memet menambahkan, bahwa pertunjukan seni bukan semata-mata sebagai tontonan, tapi juga sebuah ritual. Seiring berjalannya waktu, bentuk apresiasi untuk seni pertunjukan dari generasi muda juga mengalami perubahan, sehingga reformulasi pertunjukan adalah suatu keniscayaan.

“Beda zaman, beda apresiasinya, tergantung kadar edukasinya. Seni pertunjukan itu tidak dikotomi hanya teater saja. Tapi semua yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan.
Kenapa teater paling populer, karena multi dimensi atau banyak pertunjukan kesenian yang ditampung,” terangnya.

Kegiatan Seni dan Budaya ‘Nyastra Ginyo yang dihelat oleh Komunitas Ginyo dan Lesbumi Lamongan, di Blosoo Kopi, Paciran, Sabtu (11/6/2022) malam.

 

Memet menuturkan, banyak varian seni pertunjukan yang tak lepas dari nilai atau dogma agama, begitupun juga di Lamongan. Perbedaannya hanya pada estetiknya saja. Meski begitu, tandas Memet, semua pertunjukan pada prinsipnya haruslah berfaedah dan mengedukasi.

“Wayang pun sebagai pertunjukan yang tua, konsep suguhannya pun kian berubah saat ini, karena terkooptasi oleh screen culture. Semua seni pertunjukan itu harus ada proses transmisi nilai spiritual yang diusung. Tidak boleh nir nilai atau unfaedah,” paparnya.

Sementara itu, Sukirno, salah satu pegiat teater Lamongan mengatakan bahwa geliat teater kampus yang ada di Lamongan mulai tampak pada tahun 2004, ditandai dengan keberadaan teater Roda di Kampus Unisda kala itu.

“Teater kampus di Lamongan mulai eksis sejak tahun 2004, di Kampus Unisda, yakni teater Roda. Waktu itu, saya dan teman-teman mulai aktif menggelar sejumlah kegiatan seperti Festival Pelajar dan Temu Teater se-Jatim. Dalam rentang waktu tahun 2004 sampai 2009 setidaknya ada tiga kali temu karya yang digelar. Saat ini sudah banyak perhelatan yang digelar maupun diikuti oleh teman-teman teater roda,” katanya.

Sukirno bersyukur, keberadaan teater di Lamongan hingga kini terbilang cukup dinamis. Meski begitu, sejak pandemi Covid-19 melanda, intensitas pertemuan dan seni pertunjukan oleh para pegiat teater di Lamongan sedikit terkendala.

“Pada tahun 2007, teater kampus mulai bermunculan di Lamongan, seperti di Kampus Unisla dan lainnya. Kini juga dengan adanya komunitas Ginyo Lamongan, banyak aspirasi dari para pegiat seni dan budaya di Lamongan yang terwadahi,” sambungnya.

Salah satu pendiri Komunitas Ginyo Lamongan, Mahrus Ali yang berkesempatan hadir dalam kegiatan ini juga mengapresiasi atas kegiatan yang digelar. Tak cukup itu, ia juga menceritakan mengenai awal mula berdirinya Komunitas Ginyo Lamongan.

“Ginyo Lamongan ini berawal dari pertemuan para seniman dan sastrawan yang ada di Lesbumi NU Lamongan. Komunitas ini berdiri pada tanggal 16 Januari 2011 silam,” ujar Mahrus, alumnus teater Sabda, IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Terkait keputusan untuk memilih kata “Ginyo”, Mahrus mengatakan bahwa hal ini muncul secara alamiah dari hasil rembuk yang dilakukan pada waktu itu. Ginyo, sebutnya, merupakan kata khas Lamongan yang berarti ajakan atau permohonan dengan kata seruan.

Kegiatan Seni dan Budaya ‘Nyastra Ginyo yang dihelat oleh Komunitas Ginyo dan Lesbumi Lamongan, di Blosoo Kopi, Paciran, Sabtu (11/6/2022) malam.

“Dulu kita diundang untuk mementaskan pertunjukan teater di Surabaya dalam rangka mengenang wafatnya Bilan Tiwi. Karena wajib ada nama kelompok teater, akhirnya muncul nama Ginyo yang kemudian disepakati bersama pada 2011,” akunya.

 

Lambat laun, para seniman maupun sastrawan yang tergabung dalam teater Ginyo tak hanya berasal dari kalangan NU. Bahkan, banyak seniman yang berasal dari berbagai golongan pun turut bergabung di Ginyo. Sehingga Ginyo berubah menjadi teater umum.

“Hingga saat ini ada sekitar 8 komunitas teater pelajar yang menjadi binaan dari Ginyo Lamongan. Untuk seni pertunjukannya kita tidak harus berpedoman pada satu corak. Kita lebih mementingkan substansi atau isi dari wujud pertunjukan itu sendiri. Yang penting konsisten. Ginyo menampung segala kesenian yang ada, mengisi ruang kosong yang belum diisi sembari menggali semua potensi yang dimiliki,” tutupnya.[riq/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar