Gaya Hidup

Nisfu Sya’ban: “Saporaan”

Pamekasan (beritajatim.com) – Bagi kalangan umat Islam Indonesia, khususnya di wilayah Madura. Malam Nisfu Sya’ban diidentikkan dengan malam silaturrahmi dan saling memaafkan atas segela salah dan khilaf antar sesama muslim.

Terlebih pada pertengahan Sya’ban dalam kalender hijriyah, yakni pada tanggal 15 Sya’ban menjadi momentum tepat untuk saling memaafkan. Karena pada saat itu, catatan amal manusia selama setahun terakhir dilaporkan secara langsung kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Bersamaan dengan moment tersebut, tidak jarang juga dibarengi dengan amalan ibadah puasa sunnah seperti dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; “Ini (Sya’ban) adalah bulan yang tidak banyak diperhatikan oleh orang-orang antara Rajab dan Ramadan, ini adalah bulan saat berbagai amal diangkat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya suka amalan saya diangkat saat sedang berpuasa”.

Berdasar catatan kalender, malam Nisfu Sya’ban tahun ini atau tanggal 15 Sya’ban 1442 Hijriyah tertepatan dengan hari Minggu (28/3/2021). Sekaligus menjadi momentum bagi umat untuk mengamalkan salah satu hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam;

“Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nisfu Sya’ban, kemudian Dia akan mengampuni semua makhluk-Nya. Kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam)”.

Bagi masyarakat Madura, malam Nisfu Sya’ban tidak ubahnya sebagai sebuah momentum yang dirayakan layaknya lebaran, baik Idul Fitri atau Idul Adha. Masyarakat saling berkunjung (silaturrahmi) dengan menyampaikan ungkapan terdalam berupa permohonan maaf, dalam bahasa Madura; Saporaan.

Praktik tersebut bagi kalangan masyarakat Madura, sudah berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan sudah menjadi tradisi tersendiri yang berlangsung secara turun temurun. Hal tersebut kemungkinan besar berangkat dari salah satu hadits Nabi yang menjelaskan tentang keutamaan Nisfu Sya’ban.

Seperti yang disampaikan Mu’adz bin Jabal, tentang sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; “Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaban, Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan”.

Senada dengan hadits tersebut yang diriwayatkan Abdullah bin Amr, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni hamba kecuali dua orang; “Allah mendatangi mahluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang, yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa”.

Penguatan keistimewaan bulan Sya’ban juga disampaikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentang keutamaan 5 (lima) malam; “Ada lima malam di mana doa tidak tertolak pada malam-malam tersebut, yaitu malam pertama bulan rajab, malam Nisfu Sya’ban, malam Jumat, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha”.

Lepas dari semua itu, malam Nisfu Sya’ban juga seringkali dijadikan momentum untuk melakukan berbagai amal shaleh. Seperti melaksanakan puasa sunnah, bersedekah, memberikan santunan kepada anak yatim, serta berbagai jenis amalan ibadah lainnya. [pin/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar