Gaya Hidup

Nikmatnya Berbuka dengan ‘Palotan Pendang’ Khas Sumenep

Sumenep (beritajatim.com) – Salah satu menu unik khas Sumenep yang perlu dicoba untuk berbuka puasa adalah ‘palotan pendang’ atau ketan berlauk ikan pindang.

Mungkin terdengar aneh bagi yang belum pernah mengenalnya. Tetapi ketika sudah mencicipinya, dijamin akan jatuh cinta. Rasa gurih ketan yang dimasak dengan santan kental ini berbaur dengan ikan pindang goreng yang masih ‘fresh’, benar-benar membuat lidah bergoyang.

Kalau ingin menikmati menu spesial ini, silahkan mengunjungi sebuah warung yang jauh dari kata mewah, di Desa Jabaan, Kecamatan Manding. Meski warung ini sederhana, jangan tanyakan penggemarnya. Harus antri panjang kalau ingin menikmati ‘palotan pendang’ yang masih hangat.

Seperti yang dituturkan Nabila. ABG Sumenep yang kuliah di Malang ini mengaku kerap merindukan ‘palotan pendang’ khas tanah kelahirannya. “Meski lauknya sederhana, tapi rasanya luar biasa. Enaaak banget. Benar-benar bikin kangen pokoknya kalau lama gak kesini,” ucapnya sambil mengacungkan dua jempol tangannya, Selasa (19/05/2020).

Palotan pendang itu tidak hanya berlauk ikan pindang goreng, tetapi juga dilengkapi dengan rennang atau peyek udang. Di atas ketan hangat itu akan ditaburi kelapa parut yang menambah tajam rasa gurihnya.

Setiap hari, warung ‘palotan pendang’ itu tidak pernah sepi dari pembeli. Bahkan yang mengantri di warung itu tidak hanya warga Sumenep. Lezatnya palotan pendang ini tampaknya sudah cukup kesohor.

Sebelum bulan puasa, warung ini mulai buka pada pukul 06.00 Wib dan tutup pada pukul 12.00 Wib. Kadang sebelum adzan Dhuhur berkumandang, palotan pendang di warungnya sudah habis terjual. Ketika memasuki bulan.Ramadan, Misnata pun mengubah jam buka warungnya menjadi pukul 15.00 -17.00 WIB.

“Setiap hari, saya memasak 25 kg ketan. Kalau kelapa dan ikannya menyesuaikan. Alhamdulillah setiap hari selalu habis dan tidak pernah bersisa,” terangnya.

Hanya saja, tuturnya, saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, dirinya meminta agar semua pembeli membawa pulang palotan pendang. Ia tidak lagi mengijinkan pembeli menikmati palotan pendang di warungnya.

“Kalau dulu sebelum corona ya banyak yang makan palotan pendang di warung. Kalau sekarang saya minta semuanya dibungkus. Tidak ada yang dimakan disini,” ujarnya.

Harga sebungkus palotan pendang ini benar-benar tidak membuat kantong bolong. Cukup dengan Rp 10.000, kita sudah bisa membawa pulang sebungkus palotan pendang.

“Saya mbungkus palotan pendang ini pakai daun, bukan kertas nasi. Jadi biar aroma ketan ini lebih tajam harumnya. Selain itu juga membuat tidak mudah basi. Jadi kalau misalnya dibawa ke luar kota, ketan ini masih tahan seharian,” ungkapnya sambil tersenyum. (tem/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar