Gaya Hidup

Nguri-Uri Warisan Leluhur, Padepokan Jati Rogo Lamongan Gelar Sarasehan dan Pagelaran Budaya

Suasana saat acara Sarasehan dan Pagelaran Budaya berlangsung di Padepokan Jati Rogo Paciran

Lamongan (beritaatim.com) – Lembaga Pendidikan Islam Padepokan Jati Rogo Paciran bekerjasama dengan AKSI Nusantara (Asosiasi Kebudayaan Dan Seni Nusantara) menyelenggarakan acara tasyakuran bertajuk ‘Pagelaran Budaya Warisan Leluhur’, yang bertempat di Halaman Padepokan Jati Rogo Dusun Semerek Desa Sendangagung Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Minggu (29/30/2021).

Pengasuh Padepokan Jati Rogo, Mbah Nur mengungkapkan, bahwa acara ini digelar sebagai wujud syukur atas Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-76. Selain itu, acara ini juga digelar dengan beberapa sub acara di dalamnya, di antaranya Sarasehan Sejarah, Pentas Santri, dan Pagelaran Seni Budaya, yang berlangsung hingga malam hari.

“Kegiatan ini digelar sebagai wujud dari rasa syukur kami atas Kemerdekaan RI, sehingga dengan adanya serangkaian kegiatan yang kami gelar ini bisa nguri-uri budaya lokal dan mengenang jasa dari para leluhur dan pejuang kita semua,” ujar Mbah Nur kepada beritajatim.com, Minggu (29/8/2021).

Lebih lanjut, Mbah Nur juga menyampaikan, bahwa kegiatan ini diharapkan tidak hanya sekadar ceremonial atau euforia belaka. Namun juga mampu menggali dan melestarikan kembali seni dan budaya, khususnya di kawasan Paciran Lamongan, sehingga acara ini bisa benar-benar bermakna.

“Melalui pagelaran dan sarasehan ini, ke depan, khususnya generasi muda bisa aktif dalam menggali dan menjaga ekosistem kebudayaan lokal. Karena dengan menggali kebudayaan, berarti kita sama saja dengan menggali siapa sebenarnya jati diri kita. Intinya, jangan sampai para generasi muda ini hanya menjadi penonton,” terang Mbah Nur.

Diketahui, dalam acara sarasehan sejarah ini juga menghadirkan sejumlah pemateri yang terdiri dari sejarawan dan budayawan di Jawa Timur, yakni Tri Priyono Wijoyo (Surabaya), Ahmad Zaki (Surabaya), Dewa Angga (Lamongan), Efendy Yusuf (Jombang), Lucky Aksara (Nganjuk), dan Agus Subandriyo (Garda Wilwatikta).

Kemudian juga sejumlah Seniman di pagelaran seni budayanya, yakni Atik Yulia Efendi (Surabaya) yang membacakan dongeng anak, Ririn Surya Danarti (Lamongan) yang membacakan puisi, Cak Wafiq (Lamongan) yang membawakan musik adat, Cak Kempit (Lamongan) mengisi stand-up komedi, dan Ki Ompong Soedarsono (Temanggung) dengan pertunjukan Wayang Blang-Bleng yang disuguhkannya.

Dalam kesempatan tersebut, Dewa Angga yang juga Ketua AKSI Nusantara menuturkan, bahwa kajian sejarah yang dilakukan dalam sarasehan ini utamanya menitikberatkan pada benda-benda purbakala cagar budaya yang ada di Lamongan sehingga bisa terus terjaga dan dilestarikan.

“Pada momen gairah Agustusan ini, selanjutnya selain pelestarian terhadap benda-benda purbakala, kita juga mengangkat seni budaya dan mempelajarinya. Karena ada beberapa seni dan budaya di Lamongan yang menyusut. Ternyata kita nemu di sini, kebetulan saya juga ketua AKSI Nusantara, ada 11 objek pemajuan kebudayaan. Salah satunya pemajuan tentang permainan tradisional,” papar Angga.

Lebih jauh, Angga juga menyebutkan, bahwa terdapat permainan tradisional yang sebenarnya masih ada tapi sangat jarang terekspos, khususnya di kawasan pantura Lamongan. “Di sini ada permainan Gelindingan. Kita punya permainan itu, tapi jarang terekspos. Padahal masih sering digunakan. Selain itu juga ada Dakon dan Gobak Sodor, serta lain-lain yang setengah musnah, karena anak-anak sekarang lebih suka main gadget. Maka kita ingin mengangkatnya kembali,” sambungnya.

Sehubungan dengan hal itu, Angga menambahkan, pihaknya melalui AKSI Nusantara berupaya terus membumikan sejumlah permainan tradisional tersebut melalui sosialisasi dan menularkannya ke beberapa lembaga pendidikan yang ada, yakni untuk turut aktif dalam menanamkan rasa kepemilikan dan peduli terhadap kekayaan budaya nusantara, termasuk permainan tradisional itu sendiri.

“Permainan tradisional ini menurut saya sangat penting, karena merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai-nilai luhur di dalamnya, dan harus dilindungi keberadaannya agar tidak tergerus zaman. Bahkan, permainan tradisional juga bisa menjadi sarana edukasi sekaligus melatih motorik anak-anak,” tandasnya.

Sementara itu, pemateri lainnya yang berasal dari Surabaya, Tri Priyono Wijoyo menuturkan, bahwa kehadirannya di acara ini karena ingin nguri-uri sejarah masa lampau. Pria yang memiliki background sebagai penggiat sejarah masa klasik ini mengaku bahwa dulunya ia juga pernah beberapa kali ke Lamongan untuk merangkum situs-situs purbakala secara detail.

“Saya sering ke Lamongan, dengan sahabat saya Kang Supriyo. Lamongan itu luar biasa, data prasastinya aja kurang lebih ada 40-an tentang Airlangga, dan tersebar hampir menyeluruh mulai dari Lamongan utara, tengah, dan selatan. Itu lengkap sekali, termasuk Candi Pataan. Kita memang sejak dulu juga ikut mengawal, dan saat ini belum tuntas sebenarnya,” tuturnya

Pria yang juga akrab disapa Kang TP itu menjelaskan, bahwa pentingnya menjaga sejumlah situs purbakala yang ada di Lamongan. Menurutnya, hal itu merupakan ikon kebanggaan orang Lamongan, maka jangan sampai masyarakat tidak mengerti akan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya, apalagi melupakannya.

“Banyak harapan saya tentang cagar budaya yang ada di Lamongan. Saya berupaya mengedukasi ke semua masyarakat, apabila di daerahnya ada potensi temuan ODCB (Objek Diduga Cagar Budaya) maka segera dilaporkan, karena sekarang prosedurnya lebih enak. Tidak ribet seperti dulu, sekarang tinggal buat laporan dari Kasun, Kades, Camat, Bupati dan kemudian dilaporkan ke BPCB Trowulan,” ungkap Kang TP.

Kang TP juga menyoroti tentang Kabupaten Lamongan yang hingga kini belum punya museum daerah. Sebagai Kabupaten yang memiliki artefak luar biasa, imbuh Kang TP, seharusnya Lamongan sudah memiliki museum, yang kemudian menginventarisir artefak mulai dari temuan prasejarah, masa klasik, hingga masa kemerdekaan.

“Lamongan harusnya punya museum. Kan yang ada baru museum lokal seperti museum Sunan Drajat, belum punya museum daerah. Seingat saya, dulu Kang Supriyo juga pernah mengusulkan ke Bupati Fadhli. Dengan adanya artefak yang sangat luar biasa, keberadaan museum sangat penting. Juga para generasi muda ini biar mengerti,” jelasnya.

Terakhir, Kang TP juga memaparkan terkait langkah yang harus dilakukan oleh Pemkab Lamongan jika ingin membangun museum. Di antaranya dengan menentukan lokasi, materiil biaya pembangunannya, koleksi, dan lain-lain. “Nah koleksi mungkin bisa dimulai dari beberapa artefak yang tergeletak dan tercecer, biar tidak hilang, salah satunya Batu Yoni di Kumisik Sugio. Diberi catatan, diinventarisir di museum, sehingga nilai sejarahnya pun terjaga,” pungkasnya.[riq/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar