Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Nganjuk Gelar Pameran Seni Rupa Tunggak Tuwuh

Nganjuk (beritajatim.com) – Pameran Seni Rupa Tunggak Tuwuh diadakan di Desa Candirejo Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk selama seminggu mulai tanggal 22 sampai 29 Mei 2021. Pameran diikuti oleh 15 perupa dari Nganjuk, Madiun, Surabaya, Sidoarjo dan Tuban dengan memamerkan 23 karya dalam bentuk lukisan, seni instalasi, kriya batik dan keramik.

Kurator pameran ini adalah Alif Badriyatin seorang pemerhati seni rupa Nganjuk dan Agus R. Subagyo seniman asli kelahiran Nganjuk. Pameran diadakan di rumah Ibu Maria penduduk Desa Candirejo.

Tunggak Tuwuh begitulah para perupa muda Nganjuk menamai pameran yang diadakannya. Istilah tunggak tuwuh tentu memunculkan pertanyaan-pertanyaan terutama dalam hal pemaknaannya. Karena tunggak tuwuh tidak lazim digunakan dalam bahasa keseharian. Yang lazim dan biasa digunakan adalah “tunggak semi”.

Ya tunggak tuwuh adalan sinonim dari tunggak semi. Tunggak Tuwuh berasal dari kata tunggak dan Tuwuh. Tunggak adalah sisa pohon yang ditebang bagian bawah yang masih menancap pada tanah lengkap dengan perakatannya. Sedangkan Tuwuh adalah tumbuh dan memberi. Tuwuh tidak sekedar hidup dan tumbuh kembali tetapi tumbuh yang memberikan manfaat.

Tunggak Tuwuh adalah kehidupan yang berasal dari sesuatu yang dibabat/ditebang/dipotong (dimatikan) dengan segala daya dia tetap memberikan manfaat kebermanfaatan. Tunggak tuwuh jika diubah ke Bahasa Indonesia menjadi “pantang mati tumbuh kembali.”

Pameran dibuka pada Sabtu, 22 Mei 2021 oleh Ronny Giat Bramanto Kepala Desa Candirejo. Juga dengan tampilan kesenian Gejok Lesung dan Titir Kenthongan dari para pemuda desa juga beberapa tampilan lainnya. Acara pembukaan pameran dihadiri sekitar 250 orang yang disominasi oleh anak-anak dan pemuda dari Desa Candirejo. Selain itu juga dihadiri oleh RT dan Gus Sunarno Pengasuh Pondok Pesantren Ramadhani Mojoroto Kediri.

“Luar biasa acara ini, panitia bisa dapat tempat ini dan alangkah baiknya jika acara seperti ini bisa berlanjut terus. Dan jika bisa tempat pameran ini dijadikan sanggar kesenian yang dikelola dibawah binaan pemerintah desa.” kata Gus Sunarno yang malam itu hadir bersama 2 putranya.

Acara pembukan diadakan di halaman rumah tempat pameran dengan panggung sederhana namun tetap meriah bahkan setelah acara pembukaan selesai dan ruang pameran dibuka anak-anak berebut memainkan dan membunyikan lesung dan kenthongan yang ada di panggung.

Khafidz Fadli dari Sidoarjo salah satu seniman yang ikut pameran mengatakan dia kurang paham dengan folklor di Nganjuk tapi tetap memberanikan diri memamerkan karyanya dari hasil observasi selama 2 hari sebelum pameran.

Dia memamerkan karya seni instalasi dengan banyak sumber folklor. Ada fosil ikan laut dari Tritik Ngluyu, Sedudo, Putri Wilis dan ilmu pengobatan kuno Ngliman yang dikaitkan dengan kondisi Nganjuk yang tertangkap dalam observasi yang dilakukannya. Senada dengan yang dituturkan peserta pameran dari luar Nganjuk lainya.

Menurut Candra Wangi-wang, pameran kali ini adalah wujud kepedulian dari serakan folklor di Nganjuk yang semakin lama hilang, makanya pameran ini mengangkat tema folklor yang ada di wilayah Nganjuk.

Sedangkan alasan pemilihan tempat adalah Candirejo merupakan pusat peradaban pertama Nganjuk. Demikian menurut Lamijan salah satu penggagas acara ini. Juga untuk membangun ekosistem keseniannya serta membongkar eklusivitas apresiasinya.

Sebuah upaya menumbuhkembangkan kecintaan terhadap budaya lokal seiring dengan ungkapan kurator pameran Agus R Subagyo bahwa pameran ini adalah upaya revitalisasi dan konservasi folklor Nganjuk karena semakin langkanya penutur folklor di Nganjuk. Agar semakin dikenal oleh masyarakat Nganjuk juga daerah di sekitarnya dengan alih wahana folklor ke media senirupa.

Pameran Seni Rupa Nganjuk ini merupakan pameran yang mendata seni visual di wilayah Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Tema “TUNGGAK TUWUH” digunakan sebagai cara menjaring keberagaman bentuk dan gagasan kreatif para perupa terhadap

potensi cerita folklor daerahnya sendiri, khususnya yang berada di wilayah Nganjuk dan bersedia mengirimkan kreasinya ke panitia penyelenggara pameran ini. Tema “TUNGGAK TUWUH” diajukan untuk melihat sejauh mana gagasan para perupa yang sekaligus insan yang peka terhadap perubahan situasi yang terus berubah pada kebiasaan yang berhubungan dengan tradisi, cerita folklornya atau petilasan yang berada di desa-desa.

Kehidupan modern yang membuat pemuda masa kini merasa asing terhadap lingkungan sekitar dan tidak sejalan dengan tradisi yang telah ada sebelumnya, berabad-abad menjauhkan asal-usul diri dan menjauhkan manusia dari kehangatan yang berpadu pada kelegaan yang di mana seseorang keluar dari lingkaran mahkluk sosialnya.

Pameran kali ini, kita akan melihat semua aspek keberagaman dan kreativitas yang disajikan dengan tradisi yang tidak banyak berubah dari seni visual global. Menyalurkan apresiasi dan emosi kedalam bentuk lukisan atau medium 2 dimensi,” kata Rego Ilalang, seniman Nganjuk.

Melukis dengan proses meniru pemandangan alam sebagai gagasan mengagumi keindahan, juga kita dapat melihat ada kesetiaan pada seni tradisi yang dikreasikan sebagai tanda kecintaan. Proses metafor dan ikonik yang sudah hadir sejak lama pada kreativitas seni rupa menjadi dominan sebagai cara penyajian tampilan visual para perupa.

Ditambahkannya, tantangan bagi perupa disini ialah mampu membangun generasi muda masa kini mengenai tradisi yang hangat serta keindahaan cerita sehingga tumbuhlah kecintaan pada folklor di daerahnya sendiri yang dituangkan pada pameran “TUNGGAK TUWUH”. Kajian dan studi yang lebih mendasar mengenai folklor mengungkapkan bahwa pentingnya budaya maupun tradisi sebagai elemen-elemen positif bagi kehidupan setiap individu khususnya generasi muda masa kini yang bisa meningkatkan kualitas hidup tanpa meninggalkan asal-usul mereka serta memberikan panduan dan batasan-batasan akan gaya hidup yang lebih sesuai pada akar budayanya dimasa modern ini, meskipun tradisi dan modern adalah realitas yang membuat dunia terbuka dan pengembangan diri menjadi tidak terbatas. Namun, mengembalikan khasanah keindahan, tradisi, ritual kemasyarakatan adalah sebagai nilai kebahagiaan.

“Dengan demikian Pameran Seni Rupa Nganjuk ini diharapkan bisa menjadi ajang bersama dan menjadi peranan yang positif sebagai usaha kepada masyarakat umum khususnya generasi muda dalam memberikan rangkulan kehangatan menghadapi perubahan dan tenggelamnya jati diri pada pengetahuan budaya atau tradisi masing-masing yang dikemas dengan istimewa dalam karya seni,” kata sang kurator Alif Badriyatin dalam pengantar kuratorialnya.

Pameran ini diadakan selama seminggu dan setiap harinya diisi dengan kegiatan tour de situs, sarasehan, bedah karya, workshop dan tampilan kesenian dan kreativitas anak-anak Nganjuk. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar