Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Museum Sandi Jogja, Museum Kriptologi Satu-satunya di Indonesia

Museum Sandi yang berlokasi di Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Yogyakarta (beritajatim.com) – Bagi Anda yang sudah pernah ke Yogjakarta, apakah sudah pernah mengunjungi Museum Sandi? Museum Sandi yang berlokasi di Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta ini merupakan museum kriptologi satu-satunya di Indonesia.

Museum Sandi merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang memiliki tugas untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi BSSN dalam meningkatkan budaya keamanan informasi melalui edukasi kepada masyarakat dan melestarikan nilai-nilai sejarah perjuangan insan persandian.

Yakni sebagai bagian integral perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pendirian Museum Sandi berdasarkan Peraturan BSSN Nomor 3 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Museum Sandi. Museum Sandi menyimpan berbagai benda bersejarah tentang ilmu kriptografi Indonesia dan sekaligus bisa belajar tentang sejarah ilmu persandian di dunia.

Saat berkunjung ke Museum Sandi, pengunjung tak dikenai biaya masuk karena gratis. Namun akan ada edukator museum yang akan menjelaskan fungsi dan keberadaan koleksi di Museum Sandi. Museum Sandi didirikan atas prakarsa Kepala Lembaga Sandi Negara dan Sri Sultan Hamengku Bawono X pada tahun 2006.

Pembangunannya sempat terkendala karena bencana gempa pada Mei 2006, sebelum akhirnya diresmikan pada tahun 2008. Sebelum di lokasi sekarang, Museum Sandi di kawasan Mergangsang. Yakni berada di satu gedung dengan Museum Perjuangan. Namun pada 2014, museum ini pindah ke Kotabaru, menempati gedung lama milik AURI yang sudah tidak terpakai.

“Dulu namanya Dinas Kode. Gedung pertama di kawasan Mergangsang. Gedung yang ditempati sekarang ini adalah dulu kantor AURI pada saat Ibukota Jakarta pindah ke Yogyakarta. Pas Jakarta pindah ke Yogjakarta, wilayah kawasan Kotabaru ini merupakan kantor pemerintahan,” ungkap Edukator Museum Sandi, Ayu Diah.

Gedung Museum Sandi merupakan gedung kantor Kementrian Luar Negeri. Bangunan ini memiliki 2 lantai dengan 9 ruang display yang menyimpan berbagai benda bersejarah sejak masa perang kemerdekaan. Beberapa bangunan bergaya Indis yang membangkitkan kenangan mengenai masa kolonial yang sudah lampau.

Masuk Museum Sandi, Anda akan ditunjukkan ruangan display di lantai 1 yang banyak bercerita tentang kehidupan dr Roebiono Kertopati. dr Roebiono Kertopati merupakan Bapak Persandian Negara Republik Indonesia. Beberapa ruangan menampilkan berbagai benda bersejarah dalam dunia persandian Indonesia.

Seperti buku sandi, sepeda onthel para kurir dan lain-lain. Ada juga beberapa diorama yang menggambarkan kegiatan petugas sandi di zaman perang kemerdekaan. dr Roebiono menjadi kepala Dinas Code pada tahun 1946. Di bawah kepemimpinan dr Roebiono, Dinas Code memegang perang penting dalam Agresi Militer Belanda 1 dan 2, sebelum akhirnya berubah nama menjadi Lembaga Sandi Negara.

Pada awal kemerdekaan berbagai instansi di Indonesia masih menggunakan sandi lama dari masa kolonial sehingga mudah diretas oleh pihak tentara Belanda. dr Roebiono kemudian berinisiatif membentuk sandi baru yang hanya dapat digunakan oleh pihak Republik Indonesia.

Sandi baru ini ditulis dalam enam buku yang disebut sebagai “Buku Code C”, yang masing-masing berisi 10.000 kata sandi dalam bahasa Belanda dan Inggris. Berbagai tipuan yang digunakan para kurir untuk mengantarkan pesan rahasia tanpa diketahui pasukan Belanda. Beberapa kurir yang memodifikasi stang sepeda onthel agar bisa disusupi lembaran kertas pesan.

“Yang perlu kita teladani, dulu itu meskipun menyampaikan sandi memakan waktu dua-tiga jam tapi saat yang dikasih sandi tidak ada, dia akan kembali lagi bawa sepeda dan pesannya ke pengirimnya. Di sini juga memiliki koleksi alat-alat persandian kuni seperti alat persandian kuno Yunani yang digunakan untuk mencatat hasil dagang, pertanian dan harta benda,” katanya.


Selain melihat mesin dan alat-alat sandi modern, pengunjung di Museum Sandi juga bisa belajar cara kerja sandi sederhana dari masa lampau. Misalnya Skytale yakni sandi berbentuk gulungan yang dipakai pada zaman Yunani Kuno. Ada lagi Cardan Grille, sandi berbentuk tulisan panjang yang bisa dipecahkan melalui kunci khusus berbentuk kertas berlubang.

Lalu ada juga Book Cipher, sandi berbentuk tulisan panjang yang mirip Cardan Grille namun dengan kunci berupa urutan angka, masing-masing menunjukan posisi suatu huruf dalam satu paragraf. Misal angka 23412, angka pertama menunjukan paragraf, angka kedua menunjukan urutan kalimat dan seterusnya.

Salah satu sandi yang paling unik adalah sandi tattoo, berasal dari tahun 499 sebelum masehi dan digunakan oleh sang tiran Histiaeus dari Yunani. Sang tiran menggunakan seorang budak sebagai pembawa pesan, yang dikirim dengan metode tertentu agar tidak diketahui musuh. Pesan tersebut ditujukan kepada sang menantu, Aristagoras, dalam sebuah perang di daerah Persia.

“Jadi dulu ada seorang budak diperintahkan oleh majikannya untuk mengirim pesan ke anak menantunya. Sandi ditulis berupa tattoo di kepala budak yang sudah dicukur. Histiaeus menunggu sampai rambut budak tersebut kembali tumbuh dan menutupi tattoo, baru dikirim ke menantunya si Aristagoras,” jelasnya.

Di ruangan terakhir, terdapat beberapa komputer yang bisa kita gunakan untuk mengetahui informasi lebih lengkap mengenai ilmu kriptografi. Selain itu, ada pula beberapa games sandi yang menantang And untuk memecahkan sandi vigenere, sebuah sistem sandi klasik yang menjadi dasar penyandian modern di berbagai negara.

“Museum Sandi adalah untuk sharing budaya keamanan informasi. Museum Sandi banyak menerima kunjungan baik anak sekolah. Sebelum pandemi rata-rata 10-50 orang, rombongan 400 orang. Beberapa ada yang menceritakan pengalaman mereka sehingga menarik pengunjung lainnya untuk datang. Kapasitas tidak luas sehingga dibagi. Free, tidak ada tiket masuk,” tegasnya. [tin/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar