Gaya Hidup

MSU Galakkan Apresiasi Penulis Naskah Teater Muda Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Majelis Sastra Urban (MSU) kembali mengadakan diskusi interaktif sastra. Kali ini MSU mengusung tema Panggung dan Kegilaan dari sebuah naskah drama Elliot; Tentang Emma dan Yang Lainnya karya sastrawan muda Surabaya, Dyah Ayu Setyorini, Rabu (28/8/2019) di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS).

Naskah Elliot; Tentang Emma dan Yang Lainnya sebelumnya telah dipentaskan pada 3 Mei 2019 di Gedung Teater Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Naskah ini juga merupakan naskah untuk pentas perdana No-exit Theatre Surabaya, besutan beberapa alumni Fakultas Ilmu Budaya Unair.

Naskah yang bercerita tentang kehidupan seorang perempuan pengidap skizofrenia dan DID di abad 18 M. Dyah Ayu mengaku terinspirasi dari kisah-kisah penyakit mental seperti A Beautiful Mind (2001), Inception (2010), atau novel 24 Wajah Billy karya Daniel Keyes.

Mengangkat perempuan dan kegilaan, Dyah Ayu ingin mengangkat ruang eksistensi feminisme yang lebih personal terhadap tingkat dan kelas sosial. Berbedanya naskah ini dengan karya sejenis lainnya adalah Dyah Ayu berani menyuguhkan tulisan dengan pendekatan diksi dan gaya bahasa Victoria sesuai dengan latar belakang peristiwa naskah. Ia mengaku pemilihan gaya bahasa dan  latarbelakang peristiwa naskah merupakan salah satu upaya pendekatan ‘kemurnian’ budaya terutama kelas sosial.

Alih alih memilih pendekatan yang lebih bernuansa Indonesia, Dyah Ayu mengatakan bahwa dalam riset yang dia lakukan bersama tim terdapat perbedaan besar dan mendasar dalam memandang kelas sosial dan definisi perempuan.

“Dalam budaya barat pada abad 18, pandangan kelas sosial itu lebih jelas dan dapat dikatakan lebih murni, standarnya tegas pada modal. Juga pandangan pada perempuan, tidak banyak dibumbuhi dengan kabut mitos. Juga konsep sopan santun diatur oleh negara. Sehingga dari segi bentuk akan lebih mudah untuk dipahami,” ungkap perempuan alumni Ilmu Sejarah Unair ini.

MSU juga menilai naskah ini cenderung berbeda karena mengambil latar belakang yang jauh dari Indonesia dan bernuasa zaman romantik. Tetapi menurut Ribut Wijoto, salah satu pendiri MSU, pendekatan ini justru diapresiasi karena penulis naskah mau mengambil resiko yang cukup besar dari segi auntentifikasi dan adaptasi ruang waktu.

“Justru ide-ide yang bisa dibilang gambling ini menandakan gelora anak muda, perwujudan semangat dan ide milenial yang tidak ingin terkungkung dalam batasan ruang dan waktu yang sempit,” ujar kritikus sastra ini.

Disamping itu, MSU ingin terus memberikan kesempatan bagi para penulis naskah muda untuk terus berkreasi. Karena Ribut menilai, Surbaya memiliki banyak pensyair muda tetapi sedikit sekali yang terjun pada bentuk prosa apalagi naskah drama.

“Kita (masyarakat Surabaya, red) seakan tidak memiliki lagi penulis naskah drama selain Akhudiat. Jadi memberikan ruang apresiasi bagi anak muda yang mau terjun dalam penulisan naskah adalah sebuah kewajiban,” tambah Ribut.

“Dengan memberikan apresiasi kepada penulis naskah muda diharapkan semangat dan produktivitas terus mengalir hingga akhirnya Surabaya mampu melahirkan penulis naskah baru yang sekelas bahkan mengungguli Akhudiat,” pungkasnya. [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar