Gaya Hidup

Miris, 97 Persen Pernikahan Dini di Ponorogo, Karena Alasan Ini

Panitera PA Ponorogo Ishadi(foto/Istimewa

Ponorogo (beritajatim.com) – Pernikahan dini di Ponorogo berbanding lurus dengan kasus perceraiannya. Ya dua hal itu, tahun ini sama-sama tinggi. Jika angka pengajuan cerai sampai bulan Agustus lalu mencapai 1.317 kasus. Pengajuan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama (PA) Ponorogo dalam 8 bulan terakhir mencapai 165.

“Saya belum tahu apakah tingginya pengajuan dispensasi nikah yang tinggi ini dipengaruhi oleh pandemi Covid-19, saya belum meneliti sampai kesitu,” kata Panitera PA Ponorogo Ishadi, Rabu (16/9/2020).

Namun, jika melihat data perbandingan pengajuan dispensasi nikah, tahun ini yang lagi pandemi Covid-19 memang ada kenaikan  drastia dibanding tahun lalu. Data dari PA Ponorogo merinci, sampai bulan Agustus 2019, pengajuan dispensasi nikah hanya 54 perkara. Jika dijumlahkan sampai bulan Desember 2019, tidak sampai tiga digit yakni diangka 97 perkara.

“Memang ada selisih cukup besar. Kenaikan pengajuan dispensasi nikah tahun ini naik lebih dari 50 persen dibandingkan tahun lalu. Padahal 165 perkara itu masih sampai bulan Agustus,” katanya.

Ishadi menyebut pengajuan dispensasi nikah  dari wali atau orang tua yang menikahkan, alasannya kebanyakan karena anak yang dinikahkan ini sudah terlibat hubungan badan layaknya suami istri. Ada yang sudah telat menstruasi beberapa bulan. Bahkan ada yang perutnya membesar karena sudah mengandung.

“Bisa saya katakan 97 persen alasan pengajuan dispensasi nikah, karena kedua anak yang akan dinikahkan ini pernah terlibat hubungan layaknya suami istri,” katanya.

Untuk diketahui, dispensasi nikah ini  adalah pemberian hak kepada seseorang untuk menikah. Meski usia yang bersangkutan belum mencapai batas minimal menikah, yakni usia 19 tahun. Sesuai undang-undang perkawinan yang baru, UU 16 tahun 2019, prinsipnya seorang laki-laki dan seorang perempuan diizinkan menikah jika mereka sudah berusia 19 tahun ke atas. Namun, jika ternyata keadaan menghendaki, perkawinan dapat dilangsungkan meskipun salah satu dari pasangan atau keduanya belum mencapai usia yang dimaksud.

Cerai, Foto: Ilustrasi

Artinya, para pihak dapat mengesampingkan syarat minimal usia perkawinan. Penyimpangan hanya dapat dilakukan melalui pengajuan permohonan dispensasi oleh orang tua dari salah satu atau kedua belah pihak calon mempelai.

Diberitakan sebelumnya, angka perceraian di Ponorogo bisa dibilang cukup tinggi. Dari data Pengadilan Agama (PA) Ponorogo, tercatat ada 1.317 perceraian yang telah diajukan ke PA. Jumlah tersebut diajukan dari awal tahun, hingga bulan Agustus.

“Dari jumlah itu, perceraian yang sudah diputus Pengadilan Agama Ponorogo sebanyak 1.087 kasus, sisanya masih dalam proses,” kata Panitera PA Ponorogo Ishadi.

Ishadi menjelaskan, faktor tertinggi penyebab perceraian didominasi permasalahan ekonomi. Permasalahan ekonomi menempati peringkat teratas alasan berpisah, yakni ada 784 kasus. Kemudian 197 kasus ditengarai salah satu pihak meninggalkan pasangannya. Pertengkaran terus menerus menempati urutan ketiga dengan 150 kasus.

“Jadi alasan klasik masalah ekonomi mendominasi pengajuan cerai ke PA Ponorogo,” katanya. (end/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar