Gaya Hidup

Menikmati Sunrise Penanjakan, Bromo Mulai Bergeliat dengan Protokol Kesehatan

Surabaya (beritajatim.com) – Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TBTS) terpilih salah satu tempat sosialisasi protokol kesehatan atau CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability) di tempat wisata oleh Kemenparekraf RI.

Rombongan Kemenparekraf RI bersama 10 wartawan media cetak dan online Jatim, termasuk beritajatim.com melakukan kunjungan media langsung ke Bromo pada Sabtu (3/10/2020).

Wisatawan Selfie di Bromo

Menginap di Hotel Lava View Lodge Bromo Indonesia di ketinggian 2.400 mdpl pada malam harinya, rombongan berangkat menuju spot pertama di Penanjakan pada pukul 03.30 dini hari.

Pantauan beritajatim.com, Jeep yang mengantar berkeliling di Bromo, mulai Penanjakan, Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies menerapkan protokol kesehatan. Ada plastik pemisah antara driver Jeep dengan penumpang di sebelahnya, begitu juga dengan penumpang belakang. Hanya boleh ada tiga penumpang berada di dalam jeep.

Begitu juga dengan lingkungan hotel, yang telah dilakukan penyemprotan desinfektan di setiap kamarnya dan disediakan tempat cuci tangan di depan hotel. Petugas di loket kedatangan Bromo juga meminta surat keterangan kesehatan, baik hasil rapid test atau tes swab kepada seluruh pengunjung yang datang.

Wisatawan domestik menikmati Sunrise Penanjakan Bromo mas ted

“Kami menerapkan protokol kesehatan ketat, Mas. Kami juga melakukan rapid test secara berkala. Tak lupa kami juga menyediakan hand sanitizer di dalam mobil. Alhamdulillah, Bromo mulai bersangsur pulih, meskipun belum 100 persen normal seperti sebelum pandemi. Total Jeep di kawasan TNBTS ada 1.500 unit. Dari jumlah itu, 800 Jeep ada di jalur Probolinggo. Sudah 100 Jeep yang mulai beroperasi,” ujar Amin, driver Jeep kepada beritajatim.com, Sabtu (3/10/2020).

Setelah sampai di gerbang depan Penanjakan, jarum jam menunjukkan pukul 05.00. Sebelumnya, rombongan harus berjalan kaki sejauh 1 km dari tempat pemberhentian Jeep hingga Penanjakan. Angin yang berhembus kencang dan dinginnya menusuk tulang tak membuat langkah kami surut untuk mengejar sunrise di Penanjakan. Pukul 05.15 WIB, matahari mulai menampakkan diri. Masya Allah, betapa indahnya pemandangan Gunung Bromo dan Gunung Batok, secuil surga yang diturunkan Tuhan YME.

Setiap sudut di Penanjakan, terlihat gentong-gentong besar untuk pengunjung cuci tangan menggunakan sabun. Selain itu, juga diberikan tanda physical distancing atau menjaga jarak di sekitar lokasi pengambilan spot foto dengan latar belakang Gunung Bromo dan Gunung Batok.

Kawasan Bromo memang telah dibuka sejak sebulan lalu. Traveler yang rindu dengan pemandangan sunrise di Penanjakan Bromo 1 kini bisa kembali merasakan keindahan alam tersebut dengan protokol kesehatan.

Kebetulan, wisata Bromo menjadi satu dari sembilan destinasi di Indonesia yang dipilih oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI untuk dilakukan sosialisasi protokol kesehatan atau CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability).

Pengunjung tetap bisa menikmati sunrise di atas ketinggian 2.770 mdpl dengan nyaman tanpa harus melanggar protokol kesehatan. Untuk kuota sendiri, di area Penanjakan 1 dijatah hanya untuk 250 orang pengunjung tiap harinya.

Gunung Bromo Probolinggo Jatim

Kepala Balai Besar TNBTS, John Kenedie, mengatakan jumlah wisatawan Bromo di waktu weekend selalu penuh. Total kuota saat hari weekend baik Sabtu dan Minggu berjumlah 1.478 pengunjung.

“Ya jadi awalnya kuota pengunjung seharinya 739 alias 20 persen. Minggu lalu kita evaluasi takut ada klaster. Syukur tidak ada dan dari evaluasi kita tambah kuota jadi 40 persen karena permintaan juga. Evaluasi itu bersama tim terpadu Satgas Covid-19 kabupaten, juga bersama kepolisian dan masyarakat adat di Bromo,” kata John Kenedie dihubungi via telepon di Bromo, Sabtu (3/10/2020).

Dalam kesempatan ini, John juga mengapresiasi dipilihnya kawasan wisata BTS sebagai tempat sosialisasi protokol kesehatan atau CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability) di tempat wisata.

Selain sosialisasi CHSE untuk tempat wisata, Kemenparekraf juga memberi panduan sosialisasi dan simulasi panduan kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan pada penyelenggaraan kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

Para Wisatawan domestik ,menikmati keindahan alam kawasan Gunung Bromo

Sebesar 60 persen dari total 969 destinasi wisata di Jawa Timur disebut sudah buka dan beroperasi hingga akhir September 2020 sejak ditutup total pada Maret 2020 karena pandemi Covid-19.

Sementara pergerakan wisatawan lokal yang tercatat mencapai 2,4 juta hingga 24 September 2020 lalu dan okupansi hotel juga merangkak naik hingga angka 70 persen hingga akhir September 2020.

“Alhamdulillah sudah 60 persen destinasi di Jatim yang buka. Pergerakan wisatawan lokal terus naik di angka 2,4 juta, sementara okupansi hotel sampai 70 persen,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Provinsi Jatim Sinarto.

Menurut Sinarto, kebanyakan destinasi wisata yang sudah buka dan beroperasi adalah wisata alam.

Sementara wisata buatan, masih sedikit yang buka dan beroperasi karena masih menyesuaikan dengan kebijakan satuan tugas penanganan Covid-19 daerah setempat.

Meski daerahnya zona orange, tapi kalau pengelola dan pemerintah daerahnya punya komitmen menegakkan protokol kesehatan, bisa saja destinasi dibuka, karena wewenang membuka destinasi adalah wewenang pemerintah daerah,” ujarnya.

Lidya, salah seorang wisatawan asal Surabaya mengaku sangat rindu berkunjung ke Bromo. Dirinya kali terakhir mengunjungi Bromo pada Agustus 2019. “Saya setahun lalu ke sini. Karena pandemi, baru bisa bulan Oktober ini ke Bromo lagi. Lebih dingin yang sekarang. Saya tak khawatir ke Bromo, karena semuanya menggunakan masker, menjaga jarak dan disediakan tempat cuci tangan pakai sabun. Mulai hotelnya bersih, dan Jeep juga disekat dengan plastik. Saya harap pandemi berakhir, agar wisatawan mancanegara juga bisa datang kembali,” tuturnya sambil menggigil kedinginan. (tok/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar