Gaya Hidup

Menikah di Tengah Pandemi Covid-19 Boleh Saja, Asal Sesuai Protokol

Pernikahan dengan konsep new normal.

Malang (beritajatim.com) – Dampak dari pandemi Covid-19 salah satunya adalah rencana resepsi pernikahan. Agenda ini biasanya menjadi pesta yang paling dinanti oleh dua mempelai pengantin. Sebab, di momen spesial ini kedua pengantin menggelar pesta dengan mengundang keluarga, kerabat, dan teman-temannya.

Namun, dalam situasi pandemi pesta pernikahan diimbau untuk dibatalkan. Apalagi ada larangan dilarang mengumpulkan massa yang berkerumun. Alhasil, banyak dari calon pengantin hanya melangsungkan akad nikah saja. Sedangkan resepsi pernikahan terpaksa di tunda sampai memasuki masa new normal.

Menyikapi situasi seperti ini, Feliz Organizer melihat sebagai peluang. Mereka menawarkan, ‘New Normal Wedding Concept’. Apalagi wilayah Malang Raya saat ini memasuki masa transisi menuju new normal. Pemerintah Kota Malang sendiri mulai membuka opsi resepsi pernikahan boleh digelar asal hanya dihadiri oleh 50 persen dari kuota gedung atau tempat resepsi pernikahan.

“Kita telah melakukan simulasi untuk menerapkan protokol kesehatan dalam acara resepsi pernikahan. Dimana kurangnya dan dimana saja yang harus diperbaiki. Semua sesuai acuan pemerintah,” ujar Owner Feliz Organizer, Achmad Safiaji, Jumat, (19/6/2020).

Achmad mengatakan, protokol yang dimaksud antara lain, tamu yang datang tak lagi membawa undangan fisik melainkan undang digital yang memiliki scan barcode. Selanjutnya, tamu yang datang wajib cuci tangan menggunakan air mengalir, sabun ataupun hand sanitizer. Selanjutnya, undangan di scan sebelum memasuki area resepsi pernikahan. Tim terima tamu yang bersiaga di pintu masuk menggunakan alat pelindung diri lengkap dengan face shield.

Tamu undangan kemudian memasuki gedung resepsi pernikahan. Di masa pandemi ini tamu undangan tidak diperkenankan untuk bersalaman dengan pengantin maupun kedua orangtua yang berada di kuade. Tamu undangan hanya melintas dan mengucapkan salam dari jarak jauh saja.

“Bahkan untuk foto, harus sesuai physicial distancing harus berjarak. Itupun hanya untuk tamu khusus atau VIP saja. Untuk makanan, bisa diantar. Untuk di area prasmanan, juga dilengakpi APD pembatas, seluruh tim resepsi pernikahan menggunakan face shield,” papar Achmad.

Achmad mengungkapkan, untuk penyajian makanan ada tiga konsep. Pertama sistem ala carte dengan hidangan secara langsung yang diantarkan kepada tamu. Alat makan dipastikan tidak digunakan secara bersama. Kedua, sistem antrian berjarak pengambilan makanan diambilkan oleh tim cathering. Ketiga, dengan sistem hampers atau bingkisan. Jadi tamu undangan hanya datang bertatap muka dengan pengantin. Tanpa salaman secara langsung, kemudian pulang membawa hampers yang telah diisi souvenir, makanan dan minuman.

“Sebenarnya dengan konsep new normal biaya bisa ditekan untuk cathering karena tamu undangan hanya 50 persen. Undangan dipastikan 50 persen saja. Misal kapasitas 1000 yang boleh datang hanya 500 saja,” tandas Achmad. (luc/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar