Gaya Hidup

Masyarakat Surabaya Perlu Belajar ke Thailand

Surabaya (beritajatim.com) – Sama-sama memiliki sungai yang membelah kota, Surabaya nampaknya perlu belajar dari Bangkok untuk mengelola destinasi wisata air di tengah kota. Paling tidak, hal itu lah yang saya dapat selama kunjungan yang dilakukan bersama rombongan Pemkot Surabaya, beberapa waktu lalu.

Wisata sungai yang menjadi unggulan di Kota Bangkok-Thailand adalah Sungai Chao Praya. Selain menjadi destinasi wisata utama, sungai sepanjang 372 Km itu juga jalur transportasi penting bagi masyarakat setempat pada masanya.

Berwisata di Sungai Chao Phraya merupakan pilihan wisata yang murah. Wisatawan hanya perlu naik SkyTrain Silom Line atau BTS, menuju Saphan Taksin BTS Station. Begitu tiba di stasiun BTS ini, anda bisa melanjutkan perjalanan hanya dengan berjalan dan mengikuti petunjuk menuju ke arah sungai atau Sathorn Pier (Central Pier).

Di wisata susur Sungai Chao Praya, dapat dengan mudah ditemukan kapal-kapal yang mengangkut wisatawan. Restoran-restoran terapung pun lazim ditemukan. Biasanya wahana-wahana itu selalu dipadati pengunjung, baik malam maupun siang hari.

Jika dibandingkan dengan Surabaya, tentunya potensi yang ada di Bangkok tentu jauh lebih besar kita miliki. Hanya saja, manajemen pariwisata dan kesadaran penduduk Bangkok terkait pentingnya sektor itu mengalahkan arek-arek Suroboyo.

Mr Dee, pemandu wisata kami pada kesempatan itu menjelaskan bahwa seluruh sektor bahu membahu dalam menjaga iklim pariwisata di Bangkok dan tempat-tempat lainnya. “Kami sadar betul dengan kebutuhan kami yang tinggi di sektor pariwisata. Tanpa pariwisata, ekonomi kita bisa terpuruk,” katanya.

Ucapan Mr Dee bukan isapan jempol semata. Seluruh warga lokal disana nampak benar-benar disiplin menjaga iklim pariwisata. Contoh paling sederhana adalah perkara merokok. Tidak ada orang yang merokok sembarangan. Sehingga, puntung-puntung rokok tidak akan sembarangan bisa ditemukan. “Ada denda sekitar 2000 Bath (sekitar 1 juta Rupiah) untuk mereka yang merokok sembarangan,” ujar Mr Dee lebih lanjut.

Ketua rombongan kami selama di Bangkok, Kadiskominfo Kota Surabaya M. Fikser menyadari jika ada perbedaan budaya masyarakat dalam membangun sektor masyarakat. Namun Ia memastikan, dengan modal Kota Surabaya yang lebih indah, Pemkot Surabaya tengah membangun kesadaran yang dibutuhkan.

“Pada tahun 2019 jumlahnya naik menjadi 22 juta jiwa. Para wisatawan ini di dominasil dari Paris, London dan Dubai. Kalau wisatawan Asia hampir semua merata. Dibandingkan dengan Surabaya, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bangkok jauh lebih banyak dengan Surabaya,” paparnya.

“Kenapa Thailand bisa? jika diamati lebih dalam lagi, cukup mudah bagi Pemerintah untuk menerapkan suatu kebijakan atau aturan di Thailand, bukan hanya di Bangkok saja. Mengingat sistem pemerintahannya adalah Kerajaan yang semua warganya harus patuh terhadap titah kerajaan,” tambah Fikser.

Lebih lanjut Fikser pun memastikan jika Kota Surabaya memiliki beberapa keunggulan lain yang tidak dimiliki Bangkok, dan bahkan Thailand sekalipun. Jika itu dimaksimalkan, maka bukan tidak mungkin Surabaya bisa menyalip Negeri Gajah Putih dalam hal pariwisata.

“Kita sebagai warga Surabaya patut bersyukur karena kota Surabaya lebih indah dari Bangkok. Di Surabaya pedestrian lebar, sepanjang jalan ada taman, dan ada jalur sepeda. Kalau di Bangkok pedestriannya kecil,” pungkas Fikser. [ifw/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar