Gaya Hidup

Masa Pandemi Covid-19, Masjid Perlu Menjadi Promotor Kebangkitan

DMI Jawa Timur mengumpulkan Takmir Masjid di Bojonegoro dalam Launching Program Takjil Ramadan.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Masa sulit selama Pandemi Covid-19 sudah berjalan setahun lebih. Berbagai sektor terdampak, baik dari segi ekonomi, sosial, pendidikan, bahkan kegiatan-kegiatan keagamaan yang sifatnya komunal.

Berbagai upaya untuk menekan dampak Pandemi Covid-19 terhadap beberapa kegiatan masyarakat telah dilakukan baik oleh pemerintah, swasta, pengusaha, serta masyarakat untuk memulihkan dan bangkit kembali dari kondisi sulit.

Masjid menjadi salah satu tempat berkumpul dan menjadi tempat organisasi bagi umat Islam. Di tengah situasi pandemi yang terjadi saat ini, Dewan Masjid Indonesia (DMI) Wilayah Jawa Timur berharap masjid bisa menjadi salah satu promotor kembangkitan.

Pengurus Besar Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur, Roziki mengatakan, selain sebagai tempat ibadah kegiatan di masjid bisa menjadi promotor kebangkitan dengan cara menyejahterakan dari segi ekonomi bagi umatnya. Salah satunya masjid punya usaha yang berbasis syariah.

“Jadi perlu ada pilot projek masjid yang punya usaha, atau mungkin menjadi agen dari produk yang menjadi kebutuhan umat. Sehingga masjid bisa saling menguatkan dari segi pemberdayaan yang berbasis syariah,” ujarnya, Senin (19/4/2021).

Konsepnya, kata dia, memakmurkan masjid dan dimakmurkan masjid. Memakmurkan masjid salah satunya, kata Rizaki, dengan memperbanyak shof salat, pengajian, maupun kegiatan-kegiatan keagamaan lain. “Itu kan sudah biasa, sebagai bentuk memakmurkan masjid,” jelasnya.

Sedangkan dimakmurkan masjid ini yang jarang dilakukan, artinya jamaah ini merasa makmur dengan adanya masjid. Baik dari segi batiniah maupun ekonomi. “Harus ada yang mulai, misalnya masjid ini punya koperasi untuk memberi modal bagi jamaah, atau toko bahan pokok yang bisa melayani jamaah dan keuntungannya kembali ke masjid,” jelasnya.

Di Jawa Timur sendiri, konsep ini sudah ada beberapa yang menerapkan, terutama masjid-masjid besar. Bahkan, sudah ada yang memiliki posko kesehatan sendiri. “Posko kesehatan ini dari jamaah yang berprofesi dokter, sesekali membuka praktek gratis di masjid,” lanjut pria yang juga pensiunan Kepala Kanwil Kementerian Agama 2 tahun lalu itu.

Sebagai bentuk menyejahterakan jamaah masjid, DMI Jawa Timur juga sudah tahun ketiga memberikan dana untuk imam masjid yang bersumber dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Tahun ini ada 395 imam masjid yang masing-masing mendapat dana sebesar Rp2 juta. “Paling tidak ini juga bisa memberi semangat, dari Gubernur Jatim. Sesuai program nawa cita,” pungkasnya.

Sementara Ketua Takmir Masjid Besar di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro H Asrin mengatakan, kegiatan masjid yang saat ini sudah berjalan memang masih dari segi pendidikan, sosial dan keagamaan. Seperti hataman Alquran, tahlil bergiliran, maupun TPA.

“Program masjid yang sudah berjalan ya kegiatan sosial keagamaan, kalau yang kesejahteraan ekonomi bagi jamaah belum,” ujar Takmir Masjid Wonocolo yang juga menjadi masjid besar di Desa Wonocolo, Kedewan, Hargomulyo, Beji dan Desa Kawengan Kecamatan Kedewan. [lus/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar