Gaya Hidup

Majelis Sastra Urban Luncurkan Buku Antologi Puisi Dua Penyair Millenial

Surabaya (beritajatim.com) – Kamis (2/4/2019) Majelis Sastra Urban Dewan Kesenian Surabaya mengadakan Launching dan Bedah buku Antologi Puisi 2 Penyair Millenial dengan judul ‘Juru Demung dan Perempuan yang Berangkat Mandi‘ di Galeri DKS.

2 Penyair Millenial tersebut adalah Rizki Amir dan Intan Jihane. Mereka adalah 2 pemuda yang aktif berkesenian dan menulis sastra di tengah hiruk-pikuk kehidupan millenial.

Dalam buku antologi puisi tersebut terdapat 10 puisi dari Rizki Amir yang memang aktif di komunitas Rabu Sore. Ia menuturkan bahwa puisi-puisi yang ia tulis di buku antologi Juru Demung dan Perempuan yang Berangkat Mandi ini terinspirasi dari kecintaan kakeknya atas Kisah Ramayana.

Menurutnya, Kisah Ramayana tersebut harus mampu hidup dalam bentuk tulisan maupun versi apapun. Sehingga, menurut Rizki, ini adalah salah satu misinya untuk tetep mendekatkan sisi tradisi di era Millenial. “Ramayana itu dapat ditulis dengan versi manapun. Untuk itu, kisah-kisah tersebut dapat interpretasi dengan puisi, yang lebih ringkas daripada kisah Ramayana,” ujar Rizki.

Sedangkan Intan Jihane sebagai manusia dan perempuan masa kini yang pada kesehariannya disibukkan dengan rutinitas, menuliskan puisi yang bernuansa pop-surealisme. Sebanyak 10 puisi Intan dinilai sarat dengan visual, ia menuliskan kata-kata yang dapat nikmati sebagai sebuah panorama.

Intan pun mengaku bahwa dirinya terilhami dengan lukisan atau gambar-gambar yang ia sukai. “Saya menulis ya karena saya senang melihat gambar, kebetulan saat saya melihat gambar, kata-kata muncul,” ujar Intan.

Terkait hal tersebut, Kritikus Sastra Binhad Nurrohmat mengatakan bahwa kedua puisi yang dibawakan oleh Rizki dan Intan, ringan tanpa kepentingan idealisme yang terlalu dalam. Binhad menggambarkan bahwa puisi-puisi tersebut sangat ringan seperti menulis pesan WhatsApp.

Sehingga menciptakan kesan bahwa generasi millenial tidak terlalu memikirkan gagasan puisi yang selama ini dibawa oleh penyair-penyair terdahulu. “Generasi sekarang lebih nyaman dalam menulis puisi. Mereka menikmati puisi seperti menikmati kopi di kafe, sambil bermain gawai,” ujarnya.

Binhad mengapresiasi kenyamanan generasi sekarang dalam menulis puisi. Tapi ia tetap menyayangkan karena tematik yang dipilih generasi sekarang masih berkiblat pada masa lalu. “Acara ini dilabeli dengan tema penyair milenial. Memang secara usia dua penyair ini mewakili generasi milenial. Tapi secara tematik, puisinya masih menggunakan ruang yang digunakan oleh para pendahulunya di dunia sastra,” pungkasnya. [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar