Gaya Hidup

Ludruk Baladda, Barisan Ludrukan Anak Muda Sidoarjo

Sidoarjo (beritajatim.com) – Tanggal 26 Maret 2021 kemarin bisa saja bakal jadi momentum bagi perkembangan ludruk di Sidoarjo. Pada hari Jumat itu telah berdiri Ludruk Baladda alias Barisan Ludrukan Anak Muda Sidoarjo. Sebuah kelompok ludruk yang mengusung sepirit kekinian.

“Tinggal ngurus NIK (Nomor Induk Kesenian, red). Dan persiapan pagelaran perdana. Ludruk Baladda dibentuk untuk wadah generasi muda Sidoarjo yang ingin sinau ludruk,” kata Robets Bayoned, penggagas berdirinya Ludruk Baladda, Jumat (2/4/2021).

Pria yang bernama asli Erland Setiawan itu menuturkan, berdirinya Ludruk Baladda dilatarbelakangi oleh keprihatinan karena rendahnya minat anak muda terhadap seni tradisi asli Jawa Timur. Dia ingin ludruk bisa menjadi bentuk seni yang mampu merespon semangat zaman. Tujuannya agar ekspresi seni anak-anak muda dapat mengejawantah melalui panggung ludruk.

“Kita ingin membangun dan meregenerasi pelaku dan penonton ludruk yang mulai pudar. Karena ludruk bukan hanya butuh generasi pemain tapi juga generasi penonton. Makanya konsepnya kita mix dengan kekinian agar bisa dekat dengan anak-anak muda,” kata Robets Bayoned.

Apa yang diucapkan Robets Bayoned sebenarnya sudah berulang kali dilontarkan oleh banyak orang atau banyak pelaku seni. Perihal upaya regenerasi ludruk. Perihal pentingnya ludruk didekatkan dengan anak-anak muda. Tetapi karena kali ini diucapkan oleh Robets Bayoned, kalimat-kalimat tersebut menjadi lebih bermakna.

Penari remo dengan latar belakang candi Pari menjadi logo dari Ludruk Baladda.

Dalam beberapa tahun terakhir, Robets Bayoned berhasil menghidupkan Ludruk Luntas atau Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soeroboio. Ludruk dengan gaya anak muda ini memiliki banyak penggemar dari kalangan milenial. Pentasnya tidak hanya di Taman Hiburan Rakyat (THR) tetapi juga di kampung-kampung bahkan di hotel.

Artinya, ucapan meregenerasi ludruk tidak keluar dari pengamat seni atau seniman biasa. Tetapi, ucapan keluar dari tokoh ludruk yang telah beberapa tahun sukses menggarap ludruk anak muda.

Kali ini, Robets Bayoned menggarap Sidoarjo. “Kita prihatin dengan kondisi ludruk di Sidoarjo yang tanpa generasi penerus. Kita juga ingin melestarikan dan menunjukkan bahwa ludruk masih ada di Sidoarjo. Saat ini, ada 9 anak muda yang telah memulai latihan. Kita persiapkan pagelaran perdana dengan lakon ‘Pagebluk’. Kebetulan naskah saya sendiri,” kata pria gondrong yang sekarang masuk dalam kepengurusan Komite Seni Tradisi Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) ini.

Apakah regenerasi ludruk sebatas pagelaran yang melibatkan anak-anak muda sebagai pemain? Ternyata tidak sebatas itu. Pria energik yang sejak SMP sudah tidak asing di panggung ludruk ini juga masuk dalam perubahan wujud estetika.

Poster pagelaran perdana Ludruk Baladda.

“Improvisasi dan kreativitas. Kita melakukan inovasi dengan penuh pertimbangan. Kita juga melakukan penelitian terhadap perjalanan ludruk. Kita melihat perkembangan sejarah ludruk dari zaman ke zaman. Yang pasti, kita masih setia dengan pakem, yaitu remo, kidungan, dan cerita. Selebihnya konsep ‘tradisi inovasi wani’. Improvisasi dan kreativitas, dua hal itu sebenarnya juga menjadi pakem ludruk sejak dulu,” papar Robets Bayoned yang sebelumnya pernah belajar berkesenian di Teater Ragil dan Sanggar Surabaya itu.

Kreativitas, menurut Robets Bayoned, bukanlah sesuatu yang ngawur. Tanpa dasar. Dia bersandar pada tradisi dan filosofi yang melekat dalam kesenian ludruk.

“Semisal Remo. Tari Remo mempunyai filosofi tersendiri. Yang bentuknya tari sebagai penyambut tamu dalam sebuah acara. Melambangkan seorang pangeran Jawa Timur yang tegas lugas dan gagah,” kata Robets Bayoned.

Selain berbekal tradisi dan inovasi, dalam berkesenian, dia menekankan tentang pentingnya idealisme. “Menghidupkan ludruk tidak mencari hidup dari ludruk,” tandas Robets Bayoned. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar