Gaya Hidup

Lorong Putih: “Prahara Api Cinta”

Bojonegoro (beritajatim.com) – Seni sebagai laku keindahan yang mampu menembus segala batas zaman. Memasuki Lorong Putih. Menyampaikan realitas sosial dengan begitu lembut, hingga sejatinya kritik dan pesan terdengar begitu halus dan dengan sendirinya memunculkan kesadaran kembali.

Begitulah Lorong Putih, sebuah kelompok teater yang ada di lingkungan SMA Negeri 1 Bojonegoro menyajikan sebuah pertunjukan Ramayana berlakon Prahara Api Cinta. Sebuah pentas tahunan yang tampak megah bukan seperti pertunjukan ala pelajar jika melihat iklim kesenian di Kabupaten Bojonegoro.

Iklim dimana kesenian, khususnya seni modern, menjadi hal yang ekslusif dan masih hanya diterima oleh kalangan seniman itu sendiri. Terkecuali seni tradisi Sandur yang mulai diterima oleh masyarakat secara umum. Lorong Putih menjebol iklim tersebut, melalui kolaborasi naskah teks sebuah cerita epos Ramayana menjadi pertunjukan teater modern.

Dari pertunjukan teater modern tersebut, Sang Sutradara, Mukarom begitu tidak langsung mengajak generasi milenial tetap mempelajari serta memahami cerita atau kisah-kisah klasik menggunakan media yang selaras dengan perkembangan zaman. Pertunjukan teater modern yang bisa diterima daripada harus melihat wayang.

Pertunjukan drama kolosal tari yang berdurasi sekitar dua jam itu bercerita tentang diri manusia. Bahwa semua manusia sejatinya sama. Sama-sama punya rasa, napsu, mayapada, dan nirwana. Sebuah derita cinta yang penuh api, sengsara tiada hentinya. Karena cintalah yang akan menyulut prahara api, bukan hanya Rahwana dan Shinta.

“Bijaklah pada diri, bijaklah pada hati, dan sesungguhnya apa yang akan terjadi itulah semestinya. Aku, kamu, kita, kalian, pria, wanita, dan makhluk di dunia, punya rasa cinta, dan nestapa yang akan menjadikan satu atau prahara diri kita yang akan memutuskan,” begitu tulisnya dalam sinopsis pertunjukan yang digelar di lapangan SMA Negeri 1 Bojonegoro, Sabtu (27/7/2019) malam.

Dikisahkan, Rama dan Shinta merupakan sepasang kekasih yang terpisah. Keduanya dipisahkan oleh nafsu angkara Rahwana yang ingin menguasai Shinta. Sehingga Rahwana menculik Shinta dari Rama saat mereka sedang memadu cinta di hutan. Rama yang tidak terima ingin merebut kembali Shinta dari tangan Rahwana.

Kabar adanya rencana Rama untuk merebut kembali Shinta sudah didengar Kerajaan Alengka. Saudara-saudara Rahwana seperti Kumbakarna, Surpanaka, Wibisana, dan Indrajit menggelar rapat. Wibisana tidak menginginkan perang dan akan memulangkan Shinta agar peperangan tidak terjadi. Hal itu sesuai kebijaksanaan Wibisana karena ulah kandanya, Rahwana yang menculik Shinta.

Sedangkan Kumbakarna akan tetap berperang, namun bukan karena membela kandanya Rahwana, tetapi untuk membela negaranya Alengka. Akhirnya, Indrajit dan Surpanaka yang menemani Kumbakarna. Perangpun terjadi, Wibisana akhirnya membela Ayodya bersama Rama Wijaya dan Hanoman. Perang pun terjadi. Rahwana tewas ditangan Rama.

Namun, tidak sampai berhenti disitu. Setelah Rama mengalahkan kerajaan Alengka dan Shinta kembali ke tangan Rama. Rama justru mempertanyakan kesucian yang sudah dijaganya atas Shinta selama di taman Argasoka. Tempat dimana Shinta disembunyikan oleh Rahwana dan menunggu suaminya, Rama menjemput. Ketika mereka berdua sudah saling jumpa, Rama justru menolak Shinta.

Rama menganggap bahwa kesucian Shinta sudah hilang selama di kerajaan Alengka. Akhirnya, atas kebenaran kesucian Shinta ia melakukan bakar diri untuk menunjukkan kesuciannya kepada Rama. Shinta selamat dari kobaran api.

Diketahui, pentas tahunan tersebut, berkolaborasi dengan Sanggar Sayap Jendela, Komunitas Rawit Jingga, Komunitas Jemparing dan Ganeca Inspirit Dance. [lus/kun]

Nama-nama pemain :
1. Adji Santoso,
2. Adriana Gisella,
3. Diany Kencono Laksmi,
4. Zulkarnain Yanizar,
5. Pinky Ananda Frisca,
6. Galih Putra Wardani,
7. Panji Bagus Ramadhan,
8. Ahmad Illiyanakeo Hafa,
9. Ahmad Nasruddin Riskynanda,
10. Fadila Trianda Puspa,
11. Paramita Karta,
12. Radifa Husna Sabila,
13. Raida Salsabila Oktavia,
14. Reynina Icha Fernanda,
15. Alvin Aditya A.R,
16. Shofiyatul Badriyyah,
17. Hafizatun Naafi’
18. Dwi Suci Amalia,
19. Dimas Aditya Putra,
20. Nanda Ilham
21. Penata Musik : Djagat Pramudjito

Apa Reaksi Anda?

Komentar