Gaya Hidup

Ludruk The Luntas Bawa Lakon 'Alap-alap Simokerto' di Warung Mbah Cokro

Letnan Achijat Sniper Handal Penembak Jenderal Mallaby

Ipoell dan Robert Bayonet. Duo personel The Luntas memerankan lakon Alap-alap Simokerto di hadapan putera Letnan Achijat, Rabu (13/11/2019).

Surabaya (beritajatim.com) – The Luntas mendapat kehormatan mementaskan ludruk dengan lakon Alap-alap Simokerto di hadapan putra Letnan Achijat, salah satu tokoh pertempuran 10 November 1945.

Momen istimewa ini sekaligus dalam rangka memperingati Hari Pahlawan di Warung Mbah Cokro, Prapen, Surabaya, Rabu (13/11/2019) malam.

Alap-alap Simokerto adalah legenda heroik di kalangan masyarakat Kota Pahlawan. Letnan Achijat sendiri dikenal sebagai pasukan pemuda dari Kampung Simokerto yang berjuang melawan penjajah. Hingga dikaitkan dengan tewasnya Brigjend Mallaby sebagai pemicu pertempuran 10 November.

Nama Letnan Achijat justru moncer setelah 50 tahun peristiwa itu terjadi. Karena, ia harus menyembunyikan identitasnya agar tidak menjadi incaran peradilan militer kejahatan perang.

Meskipun sampai detik ini hal tersebut masih menjadi misteri. Lantaran, anggota Laskar Hizbullah itu tidak pernah mengakuinya secara terbuka bahkan hingga saat tutup usia pada tahun 1976 (48 tahun).

Beberapa dokumen Inggris menyatakan jika pelaku penembakan Mallaby adalah sniper berusia 16-17 tahun. Letnan Achijat pada waktu tersebut berusia 17 tahun. Ia juga seorang sniper handal. Namun ada juga yang mengaku pelaku berusia di atas 30 tahun.

Ipoell dan Robert Bayonet. Duo personel The Luntas memerankan lakon Alap-alap Simokerto di hadapan putera Letnan Achijat, Rabu (13/11/2019).

Kebenaran fakta sejarah itu masih menjadi misteri hingga kini. Karena Letnan Achijat seolah menutup rapat perjuangannya hingga akhir hayat.

Namun tabir yang ditutup erat oleh pria yang jasadnya terkubur di Taman Makam Pahlawan Ngagel, Surabaya itu mulai terkuak. Namanya disejajarkan dengan Bung Tomo dan Muhammad Mangoendiprojo, tokoh Jawa Timur yang berjasa dalam revolusi di Surabaya.

Melalui dokumen dan catatan sejarah, Akbar Achijat, putra sang letnan, menulis buku berjudul Moch Achijat : Alap – Alap Simokerto : Sosok Misterius di Balik Kematian Brigjen Mallaby?

Dalam kesempatan ini, Akbar Achijat mencoba menguak nilai kepahlawanan ayahanda tercinta dengan cara sederhana melalui pementasan ludruk yang dimainkan oleh The Luntas.

Akbar mengaku untuk pertama kalinya ia memperingati Hari Pahlawan secara sederhana dan merakyat. Banyak hal ingin ia sampaikan, bahwa ada satu peristiwa yang terputus pada Hari Pahlawan ini, tentang perjuangan Letnan Achijat.

“Meskipun sederhana yang penting nilainya. Saya ingin menyampaikan pesan pentingnya memperingati Hari Pahlawan,” kata pria yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.

Akbar Achijat dan Nuri Achijat, putra Letnan Achijat

Ludruk, menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan moral kepada millenial agar mengetahui jika Hari Pahlawan memiliki peran sangat penting.

“Karena ludruk juga menceritakan sejarah dengan cara yang lucu agar lebih komunikatif,” tambahnya.

Menurutnya, pertempuran 10 November merupakan tonggak sejarah besar dalam menumpas penjajahan. Sehingga berhasil memukul mundur tentara sekutu.

Dalam kesempatan itu, Robert Bayonet The Luntas, merasa terhormat memperoleh kesempatan bermain lakon tersebut di hadapan putra pejuang. Ia menilai jika itu belum sebanding dengan jasa-jasa Letnan Achijat terhadap Tanah Air. Tidak hanya putra sang letnan, namun pementasan tersebut juga disaksikan cucu WR Soepratman dan keluarga Bung Tomo

“Sebuah apresiasi luar biasa dari keluarga besar Pahlawan kita,” kata Robert.

Ia berterimakasih sudah diperkenankan menceritakan lagi kisah perjuangan sebagai bentuk penghormatan atas jasa pahlawan.

Menurutnya, lakon ini merupakan momen perdana dalam ludruk yang mereka tampilkan. Setelah sebelumnya pernah ditampilkan secara kolosal.

Memang, The Luntas melakukan beberapa penyegaran agar tidak ketinggalan zaman. Antara lain kemasan modernisasi tanpa meninggalkan pakem ludruk itu sendiri. Pakem tersebut meliputi Remo, Jula Juli, lawak dan bercerita.

“Kita mengemasnya agar tetap dapat dinikmati dengan modernisasi, salah satunya kita hadirkan sound effect dan komedi tanpa meninggalkan pakem ludruk yang ada,” katanya usai pementasan ludruk Letnan Achijat, Alap-alap Simokerto. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar