Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Lahan Masih Milik Warga, Tim Penggalian Arkeologi BPCB Jatim Berharap Pemkab Mojokerto Bebaskan Lahan Situs Kumitir

Mojokerto (Beritajatim.com) – Eksvakasi Situs Kumitir di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto tahap keempat selesai dilakukan dengan hasil menampakan gerbang istana Bhre Wengker. Tim penggalian arkeologi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto bisa membebaskan lahan.

Lantaran lahan di Situs Kumitir merupakan milik warga Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Proses dan pasca ekskavasi akan lebih mudah saat lahan yang terdampak Situs Kumitir sudah dibebaskan. Sehingga tim bisa membuat atap untuk melindungi hasil ekskavasi dan melakukan ekskavasi selanjutnya.

“Kumitir belum selesai. Saya minta agar Pemerintah Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur maupun pusat jika ada anggaran untuk lebih diarahkan ke pembebasan lahan dulu. Jangan ekskavasi dulu,” harap Ketua Tim Ekskavasi Situs Kumitir BPCB Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho, Sabtu (2/10/2021).

Pihaknya berharap pemerintah mendahulukan untuk pembebasan lahan dahulu. Menurutnya sudah ada koordinasi dari Pemkab Mojokerto melalui Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati terkait kelanjutan Situs Kumitir. Bupati perempuan pertama di Kabupaten Mojokerto tersebut akan membangun jalan di sekitar lokasi situs.

“Iya sudah ada, jangka pendek yang akan dilakukan Bu Ikfina (Bupati Mojokerto, red) adalah jalan. Beliau minta masukan dari BPCB, jangan-jangan ada situsnya. Kita minta untuk pembebasan tanah dibahas secara internal di kabupaten. Itu yang menjadi keinginan dari kami. Kalau ekskavasi gampang,” katanya.

Trowulan sudah ditetapkan dalam Kawasan Cagar Budaya Nasional, lanjut Arkeolog BPCB Jawa Timur ini, tidak hanya kepentingan pusat. Namun juga Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemkab Mojokerto karena sudah menjadi aset nasional. Sehingga ada kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi dan pusat.

“Siapa berbuat apa? Ini tanah berada di wilayah Pemkab Mojokerto, kaitan dengan tanah harus cepat tanggap. Pemprov ini berada di provinsi, bagaimana kemudian bisa berkoordinasi. Memfasilitasi lagi, mengarahkan lagi. Warga sudah mendukung, tidak ada penolakan tapi belum bahas besaran,” ujarnya.

Terkait besaran ganti untung tanah warga yang terdampak ekskavasi bulan ranah dari BPCB Jawa Timur. BPCB Jawa Timur, lanjut Wicak (panggilan akrab, red), hanya sebatas kegiatan ekskavasi dan memberikan rekomendasi. Jika dibebaskan maka bisa dilakukan Pemkab Mojokerto, Provinsi Jawa Timur maupun pusat.


“Dewan juga mendukung untuk pembebasan karena ini aset penting dari Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan. Dari Kawasan Cagar Budaya Nasional, mana ada aset Pemkab? Tidak ada. Ini lagi dibutuhkan, tidak ada masalah malah warga minta secepatnya karena di sini kebanyakan pemilik tanah itu menyewakan. Tidak mengolah sendiri,” jelasnya.

Menyewakan untuk tanaman tebu dengan luas tanah 5.000 m2, lanjut Wicak, warga mendapat Rp10 juta untuk tiga tahun. Namun untuk pembuatan batu bata merah, harga sewa tanah lebih besar sehingga warga lebih senang disewa untuk pembuatan batu bata merah. Namun penyewa melihat ada Situs Kumitir takut untuk menyewa.

“Kita juga berharap jangan tapi dorongan ekonomi harus ada solusi. Di sini peran pemerintah harus kenceng. Sewa itu hanya di jalur tanah yang terkena dampak ekskavasi, tidak semua dan hanya per kegiatan. Tidak ada ekskavasi ya warga tidak terima sewa tapi tanah terdampak dibiarkan. Akhirnya ya tumbuh rumput, lumut,” paparnya.

Namun jika tanah warga sudah dibebaskan oleh pemerintah, lanjut Wicak, maka BPCB Jawa Timur bisa membuat atap untuk melindungi hasil ekskavasi tersebut. Jika aset masih milik masyarakat, tegas Wicak, maka pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Namun jika sudah aset pemerintah maka lebih mudah dalam melindungi.

Berdasarkan data dari tim ekskavasi Situs Kumitir, luas lahan masyarakat yang terdampak ekskavasi tahap 4 mencapai 1.200 meter persegi. Sawah yang digali merupakan milik 12 warga setempat. Sedangkan pada ekskavasi tahun lalu, luas lahan terdampak mencapai 1.600 meter persegi milik 10 warga setempat. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar