Gaya Hidup

Kue Patola, Kudapan Tradisional Bulan Ramadhan di Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Satu lagi kudapan tradisional Banyuwangi yang selalu dinanti saat ramadan tiba. Ya, kue patola namanya. Jenis jajanan ini hanya ditemukan saat bulan puasa, biasanya sebagai makanan pembuka saat berbuka. Corak warnanya yang khas menjadi perhatian tersendiri dan mudah dikenali.

Saat ramadan, kue ini mudah dijumpai di kawasan Banyuwangi Kota. Karena banyak pedagang dadakan jajanan yang menjual makanan khas ini.

Seperti Istifala yang mangkal di Jalan Ikan Bedul, Lingkungan Kaliasin, Kelurahan Karangrejo. Ia memproduksi patola bersama empat saudaranya.

Pedagang ini memulai usahanya itu sejak 20 tahun lalu. Meneruskan bisnis orang tua yang telah turun-temurun menggeluti usaha kue patola. “Sejak tahun 2000 saya sudah ikut orang tua membuat jajanan ini. Ini meneruskan usahanya saja,” kata Istifala, Minggu (10/5/2020).

Setiap hari, satu keluarga ini membuat kue patola dan dipasarkan saat menjelang buka puasa. Dalam sehari, biasanya mampu menghabiskan 40 kilogram bahan. “Tahun ini malah meningkat, Alhamdulillah pesanan bisa sampai menghabiskan 80 kilogram,” katanya.

Awalnya ia ragu, karena di tengah pandemi dikhawatirkan pembeli sepi. Tapi, ternyata tak perlu memasarkan justru pembeli datang sendiri ke rumahnya.

“Ragu lah, karena ada corona apa ya laku. Apalagi suami saya juga kena lockdown di Gilimanuk mau usaha apa. Jadi coba usaha ini, malah banyak yang minat, pembeli pada telpon semua,” ungkapnya.

Selain enak, lembut dan juga gurih, kue patola ini juga cukup terjangkau harganya. Satu paket berisi 15 buah patola dijual dengan harga Rp 6000 saja. “Biasanya dibikin campuran kolak, dikasih santan dan gula dimakan saat berbuka,” ujarnya.

Cara membuat kue ini Cara membuatnya cukup mudah, tepung beras diolah sedemikian rupa sehingga menjadi adonan dan siap dicetak. Setelah itu dikukus hingga matang.

Biasanya, patola dicetak dengan berbagai varian warna. Ada warna merah, hijau atau putih. “Kalau sudah dicetak lalu dimasukkan dalam dandang untuk dimasak sampai precet benar-benar matang,” katanya.

Menurutnya bahan bahan yang digunakan untuk membuat precet atau patola tidak hanya dari tepung beras, tapi juga bisa dari pisang.

Jika precet pisang, dia memilih jenis pisang kepok. Sementara jika precet tepung beras harus menggunakan beras kualitas super. Meski harganya lebih mahal, tapi kualitas rasanya lebih nikmat. “Kalau ini bahannya pakai tepung beras, garam dan pewarna makanan saja,” jelasnya.

Keberadaan kue ini di Banyuwangi, sebenarnya sudah mulai langka. Bahkan, terasa asing di telinga para remaja. Meski demikian, kudapan khas ini masih mendapat minat bagi para pelanggannya. “Saya setiap hari beli di sini, karena saat puasa kalau gak ada patola rasanya gak afdhol. Harganya murah karena di sini langsung ke tempat produksinya,” ungkap Ida Fitria salah satu pembeli.

Selain itu, kata Ida, di tempat ini tidak hanya sekedar membeli. Karena juga bisa melihat langsung proses pembuatan kue patola. “Ya, bisa lihat langsung caranya. Di sini masih tradisional sekali. Biasanya ajak anak ke sini sekalian menunggu buka puasa,” pungkasnya.

Bagaimana, apakah anda tertarik untuk menikmati kudapan tradisional ini?. Kue patola bisa menjadi referensi untuk sajian berbuka puasa. (rin/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar