Gaya Hidup

Kue Leker, Jajanan yang Mulai Jarang Ditemui

Sidoarjo (beritajatim.com) — Anak-anak kelahiran tahun 90 hingga awal 2000-an tentu sudah tidak asing lagi dengan jajanan bernama leker. Sejak dulu, jajanan renyah ini banyak digandrungi mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Umumnya, leker banyak ditemui di sekolah-sekolah maupun di pinggir jalan.

Leker terbuat dari campuran tepung terigu, gula pasir, vanili, air, telur, dan sedikit garam yang dipanggang tipis hingga kering dan renyah, kemudian dilipat dengan bentuk setengah lingkaran. Jajanan ini umumnya diberi isian meses, gula, dan potongan buah pisang di bagian lipatan dalamnya. Leker biasa dibanderol dengan harga mulai dari seribu hingga dua ribu rupiah per buahnya.

Namun, kini leker tidak banyak ditemukan seperti dahulu. Menurut Adim (27), salah seorang penjual leker, eksistensi jajanan ini mulai menurun karena tak banyak lagi orang yang tahan untuk berjualan leker.

“Kalau berjualan leker itu harus tahan berdiri lama. Belum lagi, memanggangnya itu juga butuh ketelatenan. Kalau ditinggal ngobrol yang terlalu serius, tahu-tahu bisa gosong adonannya,” ujar Adim.

Menurutnya, hal-hal tersebut yang memicu banyaknya penjual leker untuk menyerah dan berhenti berjualan leker.

“Orang-orang yang jaman dulu berjualan leker itu kan pasti sekarang sudah mulai berumur, jadi ya rata-rata sudah gak kuat lagi berdiri lama. Sedangkan, penjual-penjual yang masih muda itu banyak yang kurang telaten saat memanggang leker. Saya pernah ngajarin (berjualan leker) ke berapa orang itu. Trus mereka sering ngeluh, ‘kok gosong ya’, ‘kok gagal ya’. Akhirnya, sekarang (mereka) jualan yang lain,” tambah Adim.

Banyaknya penjual leker yang menyerah sangat disayangkan oleh Adim. Hal ini karena, menurut Adim, hasil yang didapatkan dalam menjual leker bisa beberapa kali lipat dari modal yang dikeluarkan.

Dalam sehari, Adim dapat menjual sebanyak tiga ratus hingga lima ratus buah leker. Penjualannya seringkali meningkat saat weekend. Bahkan, Adim bisa menghabiskan hingga dua ember adonan pada saat Hari Sabtu dan Minggu.

Meski kini leker sudah tak lagi banyak ditemui, menurut Adim, jajanan ini masih banyak dicari oleh masyarakat.

“Masih banyak yang cari, karena kan jajanan ini sekarang sudah jarang ditemui. Biasanya lebih banyak (yang mencari) kalau habis hujan. Kan kalau habis hujan tuh orang-orang nyarinya makanan berkuah atau makanan yang renyah seperti ini (leker),” tutur Adim.

Adim juga menambahkan bahwa penjualannya cenderung stabil. Masa pandemi tidak berpengaruh banyak terhadap penjualan lekernya. [but]

 





Apa Reaksi Anda?

Komentar