Gaya Hidup

Kuda-kuda Bersepeda di Masa Pandemi

Rombongan Drs Rijanto MM, mantan Bupati Blitar, saat bersepeda bersama. (foto : istimewa)

Blitar (beritajatim.com) – Pagi baru beranjak. Matahari belum sempurna menampakkan diri. Dalam dinginnya, Kota Blitar mulai menggeliat. Satu demi satu, kendaraan melintas di jalan utama kota. Beberapa orang mulai mengayuh sepeda dan bertegur sapa.

Satu di antaranya, Drs. Rijanto MM, mantan Bupati Blitar. Dari rumahnya di kawasan Jalan Gunojoyo, Kelurahan Gedog, Kecamatan Sanawetan, ia mengayuh sepeda kesayangannya, di antar beberapa saudara dan kenalan. Penuh semangat mereka menggerakkan kaki melaju ke Hutan Maliran, Kecamatan Ponggok, 10 kilometer dari Gunojoyo.

Jika Maliran jadi tujuan tentu bukan tanpa alasan. Hutan ini dikenal sebagai salah satu tempat wisata dengan etalase alam yang menawan. “Lebih dari satu kali seminggu kami bersepeda keliling Blitar. Berangkat jam 05.00, sampai rumah jam 08.30 WIB,” kata Rijanto.

Bersepeda, lanjutnya, adalah cara untuk menjaga kesehatan. Di luar itu, kegiatan ini juga jadi upaya untuk berwisata murah dan meriah.

“Nanti berhenti buat menikmati kuliner khas Blitar,” tambahnya, kali ini sambil tertawa. Dengan belanja produk kuliner, lanjut Rijanto, pesepeda juga membantu UMKM tumbuh.

Lebih jauh, alumni APDN Malang ini menjelaskan, kegiatan bersepeda di Blitar tumbuh sejak lama. Tapi memasuki pandemi Covid-19, jumlah peminat justru bertambah. “Mungkin karena banyak yang ingin menjaga kualitas imun dengan bersepeda,” tukasnya.

Bersama ‘tim sepeda’-nya, bapak dua anak ini biasa menempuh jarak 30-40 kilometer sekali putaran. Tentu, sepanjang kegiatan ini mereka terus berupaya mematuhi protokol kesehatan. Memakai masker, menjaga jarak, dan selalu mencuci tangan atau membersihkan tangan dengan hand sanitizer.

Sehat tanpa Mahal
Tradisi bersepeda, terlebih di masa pandemi, nyatanya terus tumbuh di banyak tempat. Perlahan tapi pasti tiap komunitas pesepeda punya tempat khusus untuk berkumpul dan melaju. Di Lumajang, ada jalur ke Senduro menuju Pura Mandhara Giri Semeru Agung. Sementara di Surabaya, salah satu kawasan yang kerap jadi rujukan berkumpul dan bersepeda adalah Jl MERR, Surabaya Timur.

“Dalam satu minggu saya bersepeda tiga kali. Tujuannya bisa kemana-mana, kadang lewat MERR sini. Tapi yang sering tujuannya ke Surabaya Barat dan Selatan,” aku Leo Arief Budiman, pegiat batik dari Surabaya.

Total rute yang ditempuh sekitar 15 kilometer. “Gak jauh-jauh, yang penting sehat,” tegasnya.

Jika bersepeda kerap jadi pilihan banyak orang, olahraga bersepeda terbilang murah meriah. Asal tidak gengsi, kita bisa beli sepeda dengan harga di bawah Rp 2 juta.

“Sepeda saya yang baru harganya Rp 1,9 juta. Gak penting merek, yang penting bisa nggowes,” kilah Ahmad Fauzi, warga Rungkut, Surabaya, saat ditemui di kawasan Jl MERR bersama teman-temannya.

Seminggu sekali, karyawan sebuah perusahaan swasta di Surabaya ini biasa berkumpul di sini untuk kemudian berangkat ke Surabaya Utara.

“Nanti ke Ampel, atau ke House of Sampoerna. Ya tetep jaga jarak. Menerapkan prokes itu wajib,” tandasnya. Penentuan tujuan bersepeda biasanya dilakukan via group whatsapp.

Pernah, aku Fauzi, tim berencana ke Mojokerto. Tapi ada anggota yang mengeluh dan pulangnya harus carter mobil. “Wong sudah tua kebanyakan tingkah,” candanya. [hendro/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar