Gaya Hidup

Kreatif, Tanah Ghanjaran Ketapanrame Disulap Jadi Destinasi Wisata

Mojokerto (beritajatim.com) – Wisata baru di Kabupaten Mojokerto mulai bermunculan. Seperti yang ada di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas ini, hamparan sawah untuk para perangkat desa ini disulap menjadi taman yang cocok untuk wisata keluarga.

Tanah persawahan seluas 1 haktare itu, kini disulap menjadi destinasi wisata baru bernama Taman Ghanjaran. Wisata ini resmi dibuka pada awal bulan Desember 2018. Nama Taman Ghanjaran sendiri, diambil dari asal-usul sejarah sebelumnya.

Lokasi Taman Ghanjaran berada di jalur penghubung antara Tretes, Kabupaten Pasuruan dan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Lokasinya yang terletak di pinggir jalan membuat sangat strategis cukup mudah ditemukan. Di bagian depan terdapat replika piala emas yang menjulang tinggi sekitar 6 meter dengan motif khas Majapahit.

Piala emas merupakan ikon Wisata Taman Ghanjaran. Bagi para wisatawan yang hendak mengunjungi Wisata Taman Ghanjaran tak perlu khawatir merogoh kocek dalam. Sebab, pemerintah desa tak mematok tarif biaya tiket masuk. Hanya parkir bagi kendaraan milik pengunjung saja.

Wisatawan hanya membayar tiket parkir saja, untuk sepeda motor Rp2 ribu sedangkan mobil Rp5 ribu. Selain itu, wisatawan juga akan disuguhkan panorama keindahan Gunung Penanggungan di sisi utara. Gunung Welirang di sisi selatan. Ada area spot foto, gazebo untuk beristirahat dan taman bermain bagi anak-anak.

Di sebelah barat juga ada pasar malam dengan beragam wahana bermain salah satunya seperti bianglala. Taman Ghanjaran hampir setiap hari tak pernah sepi pengunjung. Puncak kepadatan pengunjung biasanya terjadi pada akhir pekan. Pengunjung Taman Ghanjaran tidak hanya berasal dari Mojokerto saja, melainkan juga Sidoarjo, Pasuruan dan Jombang.

Kepala Desa (Kades) Ketapanrame, Zainul Arifin mengatakan, Ghanjaran diartikan oleh warga Ketapanrame untuk menyebut tanah yang dikelola atau diperuntukkan bagi perangkat desa. “Kalau bahasa pemerintahan disebutnya tanah kas desa,” ungkapnya, Sabtu (2/3/2019).

Masih kata Zainul, ide membuat tempat wisata di Desa Ketapanrame muncul pada tahun 2016. Saat itu, dirinya dan perangkat desa lain menganggap, tunjangan gaji dari hasil persawahan yang mereka kelola di tanah ghanjaran terbilang rendah. Kemudian mereka mencoba mengubah fungsi tanah ghanjaran menjadi lokasi wisata.

“Di tahun yang sama kami mencoba mengirimkan proposal ke Bupati Mojokerto atas perubahan fungsi tanah ganjaran menjadi wisata. Ternyata di setujui. Pemerintah mengucurkan dana Rp5 miliar untuk pembangunan wisata. Namun pembangunannya baru terealisasi tahun 2018,” jelasnya.

Sejak diresmikan pada Desember 2018 lalu, antusias warga maupun wisatawan dari luar Mojokerto untuk mengunjungi wisata Taman Ghanjaran cukup tinggi. Bahkan saat akhir pekan pengunjung bisa mencapai ribuan. Warga sekitar pun bisa berjualan karena terdapat puluhan stand makanan yang siap memanjakan lidah wisatawan di area wisata.

“Tahun kemarin untuk pertanian, setahun hanya mampu menghasilkan Rp15 juta. Dengan adanya taman ini, satu bulan bisa menghasilkan Rp15 juta sampai Rp20 juta. Kenaikannya berlipat-lipat. Hasil Rp15 sampai Rp20 juta perbulan didapat dari biaya sewa lahan untuk wahana, lapak, dan tiket masuk,” katanya.

Zainul menjelaskan, hasilnya tak serta merta untuk perangkat desa. Pembagiannya, 80 persen untuk pengembangan modal Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan Barulah yang 20 persen untuk perangkat desa. Tujuan pembangunan wisata tak hanya untuk meningkatkan tunjangan gaji perangkat desa saja.

“Melainkan, juga untuk membangun lapangan kerja dan mendongkrak perekonomian warga Desa Ketapanrame. Saat ini sebanyak 300 warga Ketapanrame bekerja dan membuka usaha kuliner di wisata Ghanjaran,” pungkasnya. [tin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar