Gaya Hidup

Komunitas Jombang Peduli Sambangi Lansia yang Tidur di Kandang Ayam

Komunitas Jombang Peduli saat menyerahkan bantuan kepada lansia yang tinggal di kandang ayam, Selasa (18/5/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Karnadi (74) hanya duduk bersimpuh di depan ruangan yang sempit ketika serombongan ibu-ibu menyambangi tempat tinggalnya. Meski menyalami rombongan yang datang secara bergantian, tapi Karnadi tidak bisa bergeser dari tempatnya duduk di atas lantai semen.

Hal itu bukan tanpa sebab. Semua itu karena warga Dusun Sorak, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Gudo, Jombang ini mengalami kelumpuhan selama puluhan tahun. Praktis, untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, Karnadi harus dibopong.

Mendapat kunjungan dari rombongan komunitas Jombang Peduli, wajah Karnadi langsung sumringah. Hanya saja, untuk berbicara secara panjang lebar, dia harus terbata-bata. Intonasinya kurang jelas. “Dulunya normal. Bisa berjalan. Tapi setelah ditabrak kendaraan di sawah, mengalami kelumpuhan,” kata Isnaini, menantu Karnadi.

Oleh menantunya, pria berkulit hitam ini dibuatkan tempat khusus. Yakni, sebuah ruangan sempit di belakang rumah. Ruangan itu berdinding tembok dan berlantai semen. Hanya saja, di ruangan itulah Karnadi melakukan semua aktifitasnya. Mulai mandi, makan, tidur, buang air kecil, bahkan buang air besar. Kondisi itu semakin miris, karena ketika malam bapak tiga anak ini harus tidur bercampur dengan kandang ayam.

Saat rombongan komunitas Jombang Peduli datang, kandang ayam dari bambu tersebut diletakkan di depan pintu ruangan sempit yang dihuni Karnadi. Di ruangan yang sempit tersebut juga nampak baju-baju berserakan. Bau tak sedap juga meruak dari ruangan tersebut “Hiburannya ngasih makan ayam,” kata Karnadi.

Isnaini mengatakan, awalnya sang mertua tersebut tinggal di rumah induk. Rumah tersebut sangat layak untuk dihuni. Berdinding tembok, berlantai semen. Namun, ada permasalahan muncul. Ketika sang mertua hendak buang air besar, Isnaini tidak kuat membopongnya ke belakang. Karena Isnaini hidup seorang diri di rumah tersebut. Suaminya kerja di Surabaya.

Hingga akhirnya Karnadi dibuatkan ruangan khusus di belakang rumah. Nah, di ruangan itulah sang mertua melakukan segala aktivitas. “Buang air kecil, buang air besar, tidur, di ruangan tersebut. Ayam-ayamnya juga di ruangan itu,” kata wanita berjilbab ini.

Didampingi ibu-ibu lainnya, Koordinator Komunitas Jombang Peduli, Titik Eliyani (50), menyerahkan bingkisan untuk Karnadi. Dia berharap bingkisan tersebut bisa meringankan beban yang dialami pria sepuh tersebut.

Selain itu, perempuan yang akrab disapa Bunda Titi ini juga memberikan semangat kepada Isnaini agar ikhlas dalam merawat sang mertua. Wajah Karnadi kembali berbinar, bibirnya terpulas senyum, ketika menerima bingkisan dari Bunda Titi.

Dua mobil yang berisi emak-emak melaju pelan meninggalkan kediaman Karnadi. Rombongan ini tidak pulang, namun bergeser ke lansia lainnya untuk menyerahkan bingkisan serupa. Lokasi yang dituju adalah Dusun Sawahan, Desa Barongsawahan, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, yakni rumah Wagimah (85).

Ketika rombongan datang, Wagimah sedang duduk di atas ranjang yang berada di ruang tamu. Di rumah yang sederhana itu Wagimah hidup seorang diri. Suaminya sudah meninggal. Sedangkan anak angkatnya berada di Surabaya.

Sehari-hari Wagimah harus mencukupi kebutuhan hidupnya seorang diri. Tubuhnya yang semakin renta, membuat Wagimah tidak bisa apa-apa. “Kadang kalau makan dikasih tetangga. Apalagi kaki saya sudah linu, untuk berjalan ke musala sebelah saja tidak kuat,” kata wanita yang rambutnya sudah memutih ini.

Oleh karena itu, kehadiran rombongan komunitas Jombang peduli ini memberikan hiburan bagi Wagimah. Kesendirian nenek renta ini sedikit terobati. Sebelum pamit pulang, Bunda Titi juga menyerahkan bingkisan untuk Wagimah yang sebatang kara.

Mbah Katinem Tidur di Kandang Kambing

Katinem saat berada di rumah induk

Lansia lainnya yang kondisinya memperihatinkan adalah Katinem (75), warga Dusun Tempuran, Desa Sukorejo, Kecamatan Perak. Katinem hidup dengan sang menantu yang bernama Sunoto. Namun demikian, Katinem tidak tinggal di rumah induk.

Dia ditempatkan di belakang rumah, dekat kandang kambing. Sebelumnya, ranjang lusuh berada di dekat kandang tersebut. Tentu saja, ketika tidur kepala kambing dengan kepala Katinem berhadap-hadapan. Di sebelahnya lagi terdapat sumur dan kamar mandi.

Katinem mengalami depresi berat menyusul tiga anaknya meninggal secara berurutan. Jadilah dia hidup dengan sang menantu. Sejak itu hidup Katinem tak lagi normal. Dia buang air kecil dan buang air besar di manapun yang ia suka. Sang menantu kuwalahan. Sunoto kerap membersihkan kotoroan di dalam rumah dan sekitarnya.

“Dia tidak mengerti buang air kecil dan buang air besar. Dilakukan sewaktu-waktu dan di tempat mana saja. Kemudian kami tempatkan di belakang rumah. Dulu dekat kandang kambing, tapi semenjak ada banjir dipindah dekat sumur. Hanya beberapa langkah dari kandang kambing,” ujar Sunoto.

Komunitas Peduli Sesama yang Digagas Emak-emak

Rombongan Jombang Peduli saat berada di rumah Wagimah

Usai menyambangi tiga lansia, Titik Eliyani berserta rombongan kembali ke rumahnya di Jl Sulawesi No 42 Plandi Jombang. Lewat ponselnya, dia sibuk mengecek beberapa lansia yang selama ini mendapatkan uluran tangan dari komunitas yang dibentuknya. Bersama anggota lainnya, Dewi dan Umi, dia melakukan evaluasi.

“Ada lansia yang perlu dicek lagi. Karena ada keluhan soal penyakitnya. Sepertinya obat yang kemarin tidak cocok. Tadi saya juga sudah konsultasikan dengan dokter,” kata Bunda Titi yang mengenakan celana jeans dan kaus warna hitam.

Titi lalu menceritakan tentang komunitas Jombang Peduli yang sudah berusai satu tahun. Komunitas ini beranggotakan sekitar 25 orang. Sebagian besar adalah ibu-ibu yang memilik kepedulian terhadap sesama. Mereka mengumpulkan donasi untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan.

Donasi tersebut diberikan setiap bulan. Bentuknya bervariasi, disesuaikan dengan kebutuhan orang yang akan diberi bantuan. “Untuk lansia yang sebatang kara diberikan bahan pokok, peralatan mandi, dan lainnya,” ujarnya.

Kalau lansia tersebut tidak bisa memasak, maka komunitas menitipkan uang di warung terdekat. Nah, uang tersebut sebagai ganti pembelian makan (nasi dan lauk) dari warung tersebut. “Kita biasanya menggandeng Dinsos (Dinas Sosial) untuk mencari data, warga yang membutuhkan uluran tangan,” ungkap pemilik Titi Salon ini.

Selain itu, anggota Jombang Peduli juga rajin blusukan ke desa-desa untuk mencari lansia dan warga yang membutuhkan. Jika mendapatkan kabar, beberapa orang dari mereka turun ke lapangan untuk melakukan survei. Dari situlah diketahui apakah yang bersangkutan layak menerima bantuan atau tidak.

Karena bagi Bunda Titi dan anggota komunitas lainnya, memberi itu bukanlah sebuah kehilangan, namun sebaliknya memberi adalah sebuah kebahagiaan. Oleh sebab itu, para emak-emak ini tidak pernah lelah untuk berbagi.

Lantas dari mana dana yang digunakan untuk memberikan sumbangan itu? Titi menjelaskan, dana tersebut dari iuran anggota. Namun terkadang juga berasal dari uang pribadinya. Maka tidak heran, dalam beberapa kesempatan, komunitas ini kuwalahan. Karena jumlah orang yang disantuni semakin banyak, sementara donasi yang masuk sedikit.

“Makanya bagi yang ingin memberikan donasi ke Jombang Peduli, sangat terbuka. Dana tersebut kita distribusikan kepada yang berhak menerima,” katanya menambahkan. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar