Gaya Hidup

Komunitas di Bojonegoro Bikin Maklumat Bersama Peduli Lingkungan

Kondisi tumpukan sampah di bawah jembatan Kalikethek yang membentang di atas Sungai Bengawan Solo.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Sejumlah komunitas lingkungan yang ada di Kabupaten Bojonegoro berkumpul. Mereka melakukan nonton film bareng berjudul Kinipan produksi Watchdoc dan melakukan diskusi di sebuah cafe.

Dari hasil nonton film dan diskusi yang diwadahi oleh World Cleanup Day (WCD) Kabupaten Bojonegoro itu muncul sebuah maklumat bersama komunitas peduli lingkungan untuk gerakan menjaga lingkungan, khususnya dimana mereka tinggal.

Ketua WCD Kabupaten Bojonegoro Anita mengatakan, dalam maklumat tersebut ada enam isu penting yang kemudian menjadi konsen bersama. Termasuk gerakan bersama dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni mendatang.

“Rangkaian kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu nanti ada beberapa aksi, seperti penanaman pohon, konser peduli lingkungan, tebar benih ikan, dan sosialisasi bahaya sampah,” ujarnya, Sabtu (29/5/2021).

Sementara data awal 2021 dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, setiap warga Bojonegoro menghasilkan sampah kurang lebih sekitar 0,4 kilogram per hari. Jika jumlah penduduk sekitar 1,3 juta, maka diperkirakan jumlah produksi sampah bisa mencapai sekitar 550 ton per hari.

Dalam setahun bisa mencapai sekitar 200 ribu ton sampah perorangan. Padahal TPA yang ada saat ini, hanya cukup bisa menampung sekitar 80 sampai 100 ton per hari.

Dengan melihat kondisi seperti ini, menurut Peneliti Poverty Resource Center (PRC) Indonesia, Aw Syaiful Huda, maka sangat diperlukan adanya upaya pengendalian sampah di daerah melalui edukasi dan penerapan pengelolaan sampah yang baik berbasis rumah tangga maupun berbasis komunitas warga.

“Kegiatan edukasi, penyadaran dan penerapan eco living (gaya hidup ramah lingkungan) kepada warga masyarakat Bojonegoro secara luas, perlu digalakkan,” jelasnya.

Bentuk pengendalian dan pegelolaan sampah yang sesuai konsep eco living, salah satunya dengan memanfaatkan sampah organik dapur sebagai bahan pupuk organik yang sangat berguna bagi kesuburan tanaman. Sampah organik dapur bisa diolah menjadi dua jenis pupuk organik, yakni Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos padat. [lus/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar