Gaya Hidup

Komplek Makam Troloyo di Mojokerto, Punjernya Wali songo

Mojokerto (beritajatim.com) – Makam Troloyo merupakan kompleks pemakaman Islam jaman Kerajaan Majapahit. Komplek Makam Troloyo yang terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto sudah ada sejak abad ke 14.

Juru kunci Komplek Makam Troloyo, Arifin mengatakan, Troloyo berasal dari bahasa Citra Pralaya, citra artinya tanah yang luas, laya artinya pati. “Sehingga citra Pralaya atau troloyo diperuntukkan untuk orang-orang yang sudah meninggal dan sudah menjadi muslim,” ungkapnya, Jumat (16/4/2021).

Lantaran orang Jawa sulit mengatakan Citra Pralaya sehingga disingkat menjadi Troloyo. Makam Troloyo berkaitan erat dengan Syekh Jamaluddin Al Husain Al Akbar alias Sayyid Hussein Jumadil Kubro atau yang biasa disebut Syekh Jumadil Kubro Sayyid Jumadil Kubro.

Di Komplek Malam Troloyo ditemukan beberapa batu nisan bercorak Islam berangka tahun 1350 dan 1478. Setidaknya terdapat 19 nama yang dimakamkan di Makam Troloyo. Di antaranya Syekh Al Chusen, Imamudin Sofari, Tumenggung Satim Singomoyo, Patas Angin, Nyai Roro Kepyur, Syekh Jumadil Kubro.

Sunan Ngudung, Raden Kumdowo, Ki Ageng Surgi, Syekh Jaelani, Syekh Qohar, serta Ratu Ayu Kenconowungu. Komplek Makam Troloyo mempunyai luas sekitar 3,5 acre atau 152 ribu kaki persegi. Masing-masing kompleks dikelilingi oleh tembok khas Majapahit dan memiliki empat plataran atau empat komplek makam yang cukup luas.

Tembok yang terbuat dari batu bata itu berdiri setinggi 1,8 meter. Antara komplek satu dengan komplek yang lain dihubungkan dengan jalan setapak yang melambangkan keterhubungan antar komplek. Dilihat dari bentuk makamnya, Komplek Makam Troloyo sejak mula diperuntukkan bagi orang Islam.

Hal ini ditandai dengan adanya baru nisan di makam yang ada di kompleks pemakaman Troloyo. Namun, tidak semua orang Islam bisa dimakamkan di Troloyo karena Komplek Makam Troloyo dikhususkan untuk tempat bersemayam orang-orang yang memiliki hubungan darah atau termasuk trah Kerajaan Majapahit.

Di Komplek Makam Troloyo ada satu plataran yang paling luas, yakni sekitar 10,6 meter persegi. Plataran ini memiliki cungkup atau desain bangunan beratap. Komplek makam ini merupakan komplek makam yang paling ramai dikunjungi para peziarah. Di sinilah Syekh Jumadil Kubro dikebumikan.

“Syekh Jumadil Kubro yang merupakan nenek moyang Walisongo diyakini sebagian orang sebagai Wali Allah. Syekh Jumadil Kubro bernama lengkap Sayyid Husein Jumadil Kubro. Ia adalah ulama yang berasal dari kota tua Samarkand, Uzbekistan. Ia merupakan keturunan dari Ja’far Shodiq bin Husein bin Ali bin Abi Thalib,” jelasnya.

Di antara Wali Songo, yang merupakan keturunannya langsung ialah Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat dan Sunan Kudus. Sementara Sunan Kali Jogo merupakan menantu dari Sunan Ampel. Sehingga lanjut Arifin, Komplek Makam Troloyo masih satu kesatuan.

“Sehingga Troloyo adalah punjer (pusat) Wali Songo. Jumlah peziarah yang datang bergantung pada momentum. Pada hari-hari pasaran tertentu dalam penanggalan Jawa ramai. Seperti malam Jumat legi, hari peringatan haul Syekh Jumadil Kubro, grebeg Suro, menjelang puasa seperti kemarin, serta saat Hari Raya tiba. Kalau puasa sepi,” jelasnya. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar