Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Kocak, Warganet Identikkan Karakter Joo Yuu Jung di Business Proposal dengan Anak Jaksel

Surabaya (beritajatim.com) – Para pecinta drama Korea kini sedang dibikin tertarik dengan Business Proposal. Serial drama ini menarik perhatian bukan hanya dari segi skenario namun juga karakter perannya.

Salah satu karakter yang begitu unik hingga menyedot perhatian penggemar K-Drama Indonesia adalah Joo Yuu Jung yang diperankan Soe Hye Won. Meski bukan peran utama maupun secondlead tapi mendapat spotlight yang cukup banyak di kalangan penggemar dari Indonesia.

Ini lantaran karakter yang diperankan cukup segar dan lucu. Karakter Yuu Jung pun indentik dengan penggunaan Bahasa Korea yang dicampur dengan Bahasa Inggris mengingatkan para penggemar drakor dari negeri +62 pada anak-anak Jaksel.

“I have no chingu….,” itulah salah satu line terkenal dari karakter Yuu Jung, yang bisa diartikan – I have no pacarrrr….

Salah satu akun instagram @mooddrakor milik warganet Indonesia pun memosting, beberapa cuplikan dari karakter Yuu Jung ini dan menyebut bahwa karakter Yuu Jung seperti anak Jaksel cabang Korea.

Dalam postingan tersebutpun dipenuhi like dan komentar.

“Asli gue ngakak kalo dia lagi ngomong. kalo di kita itu dia kek Cici Panda,” komentar warganet.

“I have no chingu, plis terngiang-ngiang,” tambah lainnya.

“Beneran anak jaksel ini mah,” tulis lainnya.

“Kalau uda doi yang ngomong gua auto fokus translit. keder bener,” ungkap warganet.

Karakter khas Yuu Jung yang identik dengan kebiasaan berbahasa anak-anak Jaksel ini pun jika ditilik dari pengkaji dalam sosiolinguistik (ilmu bahasa dari segi sosial) adalah fenomena alih kode atau code switching.

Menanggapi fenomena bahasa Jaksel itu, Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UNAIR, Dr Dra Ni Wayan Sartini M.Hum, menyebut itu adalah perkembangan fenomena kebahasaan masyarakat, tidak mempermasalahkan itu. Menurutnya, bahasa Jakarta Selatan adalah hasil dari pemikiran atau ide yang kreatif.

“Tidak akan menjadi masalah jika masyarakat menggunakan bahasa yang bercampur. Selama penggunaannya berada dalam situasi yang tepat. Artinya, hanya pada ranah pergaulan atau informal,” tutur Dr Wayan menanggapi fenomena bahasa Jaksel.

Bagi Dr Wayan, bahasa seperti sebuah pakaian. Kita tidak dapat menyamakan penggunaannya pada situasi yang berbeda. Bahasa yang baik adalah ketika bahasa tersebut
menyesuaikan situasinya.

“Hal yang saya lihat selama ini penutur menggunakannya hanya sebagai bahasa pergaulan. “Jadi, sah-sah saja,” sambung Dr Wayan. (adg/beq)


Apa Reaksi Anda?

Komentar