Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Kisah Warung Sate Pak Manto Meraup Sukses dari Tengkleng Rica-rica

Surabaya (beritajatim.com) – Sekilas tak ada beda antara Warung Sate Pak Manto dengan tempat makan dengan menu sejenis yang ada di Surabaya. Sampai memesan tengkleng rica.

Ya, tengkleng rica adalah menu andalan dari Warung Sate Pak Manto. Bisa dibilang, ini adalah inovasi yang sukses dilakukan Sumanto, sang pendiri. Dia berhasil memadukan kemantapan rasa tengkleng yang sangat khas Jawa dengan pedasnya rica ala Sulawesi.

Menjadi pioner inovasi olahan kambing, ternyata Warung Sate Pak Manto punya kisah tersindiri. Cerita itu dituturkan sendiri oleh sulung almarhum Sumanto, Vita kepada beritajatim.com.

Usaha kuliner keluarga ini telah berdiri sejak 1990. Vita menjelaskan saat itu ayahnya mencoba peruntungan dalam menjajaki bisnis kuliner setelah tuntas pengetahuan dan pengalaman ikut menjadi juru masak selama 3 tahun di kedai milik orang lain.

Saat itu, Sumanto dikaruniai momongan pertamanya. Itu menjadi momen besar lantaran Sumanto memutuskan untuk membuka warung sate kambing miliknya sendiri.

“Saya ingat betul tahun pertama bapak buka warung, 1990, karena saya lahir di tahun itu hanya beberapa bulan sebelum warung dibuka,” cerita Vita.

Sebelum menjadi seterkenal sekarang, Warung Sate Pak Manto buka di sepetak toko kontrakan. Menu yang ditawarkan saat itu tidak beda dengan warung sejenis lainnya yaitu sate, gule, tongseng, sate buntel dan tengkleng kuah kuning.

“Ya awalnya warung biasa, kami juga merintis, nggak langsung ramai begitu, sewajarnya saja seperti warung olahan kambing lainnya, menunya juga sama,” terang Vita.

Memulai bisnisnya dari nol, Sumanto saat itu hanya sanggup membeli daging kambing kiloan. Warung pun hanya dikelola berdua bersama sang istri lantaran tidak mampu mempekerjakan karyawan.

Namun, Warung Sate yang awalnya berada di jalan Pasar Kembang itu cenderung cepat mengambil hati para pencinta kuliner kambing. Hanya dalam waktu singkat, warung ini sudah punya pelanggan setia.

Ini karena keunggulan berupa cita rasa yang sangat kaya akan remah. Selain itu, keramahan dan murah hatinya Sumanto menjadikan pelanggan kangen untuk Kembali makan di tempat itu.

“Sekitar tahun ke dua bapak sudah punya karyawan, saat itu warung jadi lumayan ramai, dan saya selalu dibawa ke warung, intinya saya besar di warung jadi saya ingat kenapa bapak perlahan punya banyak pelanggan setia karena bapak itu loman (murah hati). Kalau ada yang minta tambah nasi, sambal, minum gitu bapak nggak segan ngasih gratis. Jadi dari situ banyak pelanggan yang datang lagi dan datang lagi,” kenang Vita.

Selama menjalankan usaha, Sumanto sempat berpindah ke sejumlah lokasi meski masih din area yang sama. Pun demikian, tidak ada pelanggan yang sampai kehilangan jejak. Mereka mampu dengan mudah mengenali warung milik Sumanto. Hingga akhirnya, Warung Sate Pak Manto pun menetap di Jalan Honggowongso No.36, Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Saat itu, menu olahan kambingnya masih sama dan pada 2012, usaha Sumanto mencapai titik terbaiknya. Menurut Vita, di tahun itulah menu olahan tengkleng rica-rica khas Pak Manto dibuat.

“Awalnya itu bapak cuma coba-coba karena saat itu kami dapat pesanan kambing guling banyak banget dari salah satu pejabat, nah kan kalau kambing guling cuma diambil dagingnya saja ini, jadi bapak mikir kalau dibuat tengkleng kuah kuning nantinya nggak akan habis, jadilah bapak coba inovasi resepnya untuk dimakan kami sekeluarga,” ujarnya.

Keluarga merespon positif inovasi menu tengkleng rica-rica Sumanto. Mereka pun menyarankan untuk menjadikan menu tersebut sebagai andalan. Usulan itu ditanggapi Sumanto dengan menyajikan tengkleng rica-rica di warungnya.

Gayung bersambut, menu tersebut ternyata begitu digemari pelanggan. Inovasi olahan kambing yang semula tengkleng bumbu kuning menjadi tengkleng pedas manis dengan kuah pekat itu dengan cepat menjadi primadona.

Bisnis Pak Manto menjadi begitu cepat membesar. Tengkleng rica-rica jadi bahan pembicaraan penggemar kuliner di Solo saat itu.

Berkat inovasi tengkleng rica, Warung Sate Pak Manto meraih kejayaan. Hanya butuh waktu 4 tahun setelah menu tengkleng rica-rica rilis, Sumanto melebarkan sayapnya ke Semarang pada 2016, Jakarta di tahun 2018, Surabaya di tahun 2019, Jogja pada 2020 dan Malang pada tahun 2021 lalu.

Meski Pak Manto telah meninggal sejak 2018, cita rasa dan resep khas dari formula olahan kambing yang ditinggalkan kepada Vita dan keluarganya terus dijadikan acuan, Vita menambahkan, menu dari almarhum ayahnya sudah dalam formula resep terbaiknya dan tidak ada perubahan hingga saat ini.

Bahkan saat ini di pusat Surakarta, untuk akhir pekan bisa menghabiskan 40 ekor kambing. Sedangkan untuk hari biasa bisa menghabiskan 25 ekor.

“Kami tetap mempertahankan cita rasa dan acuan resep dari Bapak, juga bertekad terus melanjutkan impian bapak memperbesar bisnis kulinernya,” tukasnya.

Dalam pemilihan kambing yang berkualitas, Vita menjalin kerjasama dengan peternak kambing di tiap kota tempat cabangnya berada. Ini untuk membuat ekosistem ekonomi pedagang lainnya juga tetap berjalan dan menjaga kualitas bahan baku yang dipakai. (adg/beq)


Apa Reaksi Anda?

Komentar