Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Kisah Pengrajin Soundsystem Asal Lamongan, Hadapi Omelan Istri Hingga Pandemi

Usaha produksi audio soundsystem milik Sutarno, warga Desa Wangunrejo, Kecamatan Turi, Lamongan.

Lamongan (beritajatim.com) – Sempat berhenti produksi selama dua tahun akibat dihantam pandemi, Sutarno (32), pengrajin soundsystem di Dusun Prambon, Desa Wangunrejo, Kecamatan Turi, Lamongan ini kembali berkarya dan bangkit dari keterpurukan.

Seiring melandainya Covid-19, Sutarno mengaku, bahwa usahanya kembali menggeliat usai tertatih-tatih. Menurutnya, pesanan dari sejumlah daerah pun kini kembali berdatangan.

“Alhamdulillah, saat ini sudah mulai ramai kembali,” kata Sutarno saat dikonfirmasi wartawan, Senin (24/1/2022).

Meski berada di desa dan proses pembuatannya tergolong manual, namun omset yang dihasilkan Sutarno mencapai Rp 20 juta per bulan. Hal tersebut lantaran permintaan soundsystem kreasinya yang cukup ramai.

“Pesanan datang dari sejumlah daerah seperti dari kota-kota di Jatim ini, lalu Jakarta, Tangerang hingga luar Jawa seperti NTT dan Riau,” tutur pria yang akrab disapa Tarno tersebut.

Dengan banyaknya pembeli soundsystem bikinan Tarno yang datang dari berbagai daerah tersebut, tentu kualitas yang dihasilkannya pun sudah tak diragukan lagi.

Untuk menyelesaikan satu set pesanan soundsystem, Tarno menambahkan, dibutuhkan waktu sekitar 15 hari hingga 1 bulan. Tergantung tingkat kesulitan dan model yang diinginkan pemesannya.

Untuk harga, Tarno menyebut, jika harganya bervariasi, yaitu satu boks soundsystem seharga Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Sedangkan satu set yang berisi 8 boks, harganya sekitar Rp 8 juta. “Untuk yang kualitas terbaik, satu set sekitar Rp 15 juta,” imbuhnya.

Usaha produksi audio soundsystem milik Sutarno, warga Desa Wangunrejo, Kecamatan Turi, Lamongan.

Dalam kesempatan yang sama, seorang penghobi alat soundsystem bernama Miftahuddin menyampaikan, jika soundsystem buatan Tarno memiliki sejumlah kelebihan yang tak dimiliki oleh pengrajin soundsystem lainnya.

Sejumlah kelebihan itu, papar Miftahuddin, diantaranya adalah pemilihan bahan baku yang kuat, anti hujan, serta suaranya yang nyaring dan empuk.

“Beberapa kelebihan itu di antaranya adalah bahan bakunya, anti hujan dan suaranya yang nyaring, empuk dan bass-nya dapat,” tandas Miftahuddin.

Usaha produksi audio soundsystem milik Sutarno, warga Desa Wangunrejo, Kecamatan Turi, Lamongan.

Tak hanya itu, dengan membeli soundsystem karya Tarno, Miftahuddin mengaku, ia tak perlu lagi menyediakan terpal anti hujan. Bahkan, soundsystem ini dinilai sangat cocok untuk parade musik dangdut dengan dominasi suara audio yang nyaring dan nge-bass.

Awal Mula Jadi Pengrajin Soundsystem

Jumlah pengrajin soundsystem seperti Tarno di Kabupaten Lamongan terbilang tak banyak. Meski begitu, usaha soundsystem yang dirintis Tarno sekitar 5 tahun lalu ini bukan berarti berjalan mudah sedari awal.

Tarno menceritakan, jika dulu ia sempat bekerja sebagai joki atau penjaga soundsystem keliling dari satu hajatan ke hajatan lain. Kadang, ia juga dibayar sebagai joki dalam parade soundsystem.

“Dulu, sebelum menjadi pengrajin soundsystem, saya kerja jadi joki atau penunggu soundsystem dari hajatan satu ke hajatan yang lain,” kata Tarno.

Saat masih bekerja jadi joki, Tarno mengungkapkan, istrinya sering marah dan ngomel-ngomel lantaran dirinya jarang pulang dan harus standby jaga soundsystem, lebih-lebih jika job soundsystem tersebut lagi ramai-ramainya.

Namun siapa sangka, seiring berjalannya waktu, omelan istrinya tersebut justru memberikan dorongan kepada Tarno untuk terus berkarya dan berinovasi. Berbekal pengetahuan yang dimilikinya, akhirnya ia memutuskan untuk mulai menekuni usaha produksi soundsystem.

Mendengar hal tersebut, istri Tarno pun mendukungnya. Pasalnya, si istri tak lagi was-was dengan dirinya yang harus menginap berhari-hari dan begadang di rumah warga yang menggelar hajatan untuk menunggu soundsystem.

Meski awalnya Tarno sempat ragu dengan soundsystem bikinannya, namun berkat kerja keras dan ketekunannya, usaha yang digelutinya tersebut kini akhirnya berbuah manis dan merambah ke berbagai daerah.

“Setelah coba-coba dan saya tekuni, akhirnya banyak permintaan,” ujar pria berambut gondrong tersebut.

Tak cukup itu, Tarno kini juga telah memiliki sejumlah karyawan yang membantunya bekerja dalam memproduksi soundsystem. Bahkan, ia juga sudah menamai hasil kreasinya dengan nama 502 Production.[riq/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar