Gaya Hidup

Kisah Andong di Kawasan Alun-alun Kota Soto

Salah satu andong di kawasan alun-alun Lamongan yang sedang menunggu penumpang

Lamongan (beritajatim.com) – Saat mengintip salah satu titik paling terkenal di Kota Soto, yakni kawasan Alun-alun Lamongan, keberadaan andong atau delman cukup menarik perhatian para pengunjung. Pasalnya, di tengah geliat modernisasi masyarakat Lamongan yang hidup dengan mengikuti perkembangan zaman, salah satu alat transportasi tradisional yang sudah ada sejak zaman sebelum merdeka itu masih dijumpai di kawasan ini.

Meski demikian, jumlah angkutan tradisional itu tak sebanyak di kota Yogyakarta dan hanya bisa ditemui di sepanjang Jalan Alun-alun yang merupakan wajah dari Lamongan. Tetapi menariknya, para kusir kompak mengenakan setelan batik berbagai macam corak dan blangkon seperti di Yogyakarta, serta seolah tidak mau meninggalkan akar budayanya.

Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana malam sambil berkeliling Lamongan dengan nyaman, maka menaiki andong bisa menjadi pilihan. Diketahui, sejarah andong ini tidak bisa lepas dari kisah raja-raja terdahulu. Ia merupakan kendaraan elit para raja, yakni kereta yang ditarik oleh kuda dengan hiasan sedemikan rupa yang juga bisa disebut kereta kencana.

Bekerja Menyambung Hidup
Susilo, salah satu kusir andong di kawasan Alun-alun Lamongan mengatakan, dirinya bekerja sebagai kusir ini secara turun temurun dari bapak dan kakeknya. Menurutnya, kusir andong ini menjadi pekerjaan satu-satunya yang ia harapkan untuk terus menyambung hidup dan memberikan segenggam uang untuk anak istri.

“Saya bekerja menjadi kusir sejak lulus dari SD, diajari oleh bapak saya. Setiap hari, saya bekerja mulai pukul 16.00 WIB hingga malam pukul 21.00 WIB. Sedangkan khusus untuk Minggu dan tanggal merah (libur) saya mulai di siang hari pukul 12.00 Wib. Ini adalah pekerjaan saya satu-satunya,” ungkap pria berusia 44 tahun tersebut.

Kusir asal Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobokan Jawa Tengah ini juga menyampaikan, untuk mengisi waktunya saat tidak bekerja di siang hari itu ia gunakan untuk merawat, memberi makan, dan memijat kuda. Hal ini dilakukan agar performa kuda tetap terjaga dan tak rewel saat diajak kerja.

“Perawatannya tergolong mudah. Kuda dimandikan tiap hari, dipijat 1 minggu sekali, diberi makan rumput sama dedak lima kali sehari, serta diberikan jamu. Isi jamunya terdiri dari 10 telur bebek, Rheumacyl 1 strip dan Bodrek 1 Strip, diaduk hingga merata lalu diminumkan. Itu saja, ya itung-itung agar saya ada kegiatan saat tidak bekerja,” terangnya sambil beberapa kali menyeka keringat.

Untuk menambah tampilan andong agar lebih menarik, lanjut Susilo, ia menambahkan lampu warna warni dan ornamen di beberapa sisi andongnya. Selain itu, ia juga memberikan motif bintang yang ia gambar di tubuh kuda. Hal itu agar kuda terlihat lebih cantik saat dipandang.

“Lampu-lampu ini dinyalakan dengan aki, saya tambahkan juga sound biar ada musiknya. Untuk motif bintang di tubuh kuda itu saya gambar pakai semir, biar anak-anak lebih tertarik untuk naik kuda saat melihatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Suroto, kusir berumur 55 tahun yang berasal dari Blora Jawa Tengah juga menyampaikan bahwa saat awal pandemi penghasilannya agak menurun. Namun saat ini penghasilan tersebut berangsur normal. Pria yang 30 tahun bekerja sebagai kusir ini terkadang harus menghabiskan waktunya hanya untuk duduk menunggu para pengunjung yang tak kunjung mau menaiki kendaraannya.

“Saat ini, sudah agak lumayan jika dibandingkan kemarin. Tiap hari, biasanya masih dapat Rp 150 ribu. Tapi pas hari minggu atau tanggal merah bisa meningkat 2 kali lipat, yang penting tidak hujan. Yah, lumayan lah saya kumpulkan untuk dikasihkan keluarga. Biasanya saya sebulan sekali pulang kampung ke Blora,” ungkap Suroto yang bekerja sebagai kusir sejak umur 25 tahun itu.

Terkait rute, lebih lanjut Suroto menjelaskan, kuda yang ia jalankan setiap harinya hanya melintasi sekitaran kawasan Alun-alun. Bagi para pengunjung yang minat menaikinya, dalam sekali jalan dikenakan tarif Rp 15 ribu per orang. “Sedangkan untuk 3 orang biayanya Rp 45 ribu. Kadang juga ada beberapa orang yang minta nego,” katanya.

Berdasarkan informasi lebih lanjut, kedua kuda yang dioperasikan oleh Susilo dan Suroto ini ternyata bukan milik sendiri. Diketahui, kedua kuda tersebut milik Zainal Abidin, pria asal Ponorogo. “Kuda ini milik Pak Zainal Abidin, aslinya dia Ponorogo, kami hanya ditugasi merawat dan menjalankannya, tiap Minggu kami harus setoran,” terang Suroto.

Secara spesifikasi, andong memiliki empat roda, seperti yang dijalankan oleh Susilo, yakni dua roda di bagian depan dan dua roda di bagian belakang. Ukuran roda depan lebih kecil jika dibandingkan dengan dua roda di bagian belakang.

Mulai Tergeser

Masing-masing roda memiliki jeruji yang berjumlah 12 batang untuk roda depan, dan 14 jeruji di bagian belakang. Penumpang dapat menaiki andong dari sisi sebelah kanan atau kiri. Satu delman bisa mengangkut 4 sampai 5 orang.

Jumlah roda tersebut yang membedakan bendi, dokar, atau delman yang hanya memiliki 2 roda. Sedangkan seperti yang dijalankan oleh Suroto itu bernama delman. Adapun nama-nama bagian dari andong antara lain; buntutan, palangan, per, as roda, bos, mangkokan, gulungan, cincin, ruji, bengkok, pelah, ban karet, dan roda.

Bahan utama dari andong adalah kayu dan besi. Jenis yang digunakan biasanya kayu jati, karena kayu tersebut memiliki kualitas yang baik dengan serat yang halus. Kendati demikian, keberadaan andong di Lamongan ini rupanya tidak menjadikannya sebagai pilihan utama layanan transportasi hiburan di kawasan tersebut.

Maraknya layanan transportasi hiburan yang menawarkan biaya lebih murah, telah menggeser minat beberapa kalangan masyarakat dan pengunjung untuk menggunakan andong atau delman, seperti kereta odong-odong, becak cinta, dan lain-lain. [riq/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar