Gaya Hidup

Keripik Usus Buatan Mbak Lilik Ngasem Kediri Tembus Asia Tenggara

Lilik Rahayuningsih, warga Desa Doko Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri. 

Kediri (beritajatim.com) – Produksi keripik usus di Kabupaten Kediri Jawa Timur, berhasil menembus penjualan hingga pasar ke luar negeri. Sejumlah negara yang menjadi obyek tujuan pengiriman diantaranya Hongkong, Brunai Darussalam, Singapura, dan Malaysia.

Pemilik usaha keripik usus sukses tersebut ialah Lilik Rahayuningsih, warga Desa Doko Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri.

Lilik mengaku, penjualan keripik usus bermula dari usahanya keripik pelepah pisang yang berhasil memikat peminat hingga pasar keluar negeri beberapa waktu lalu. Tak ingin berhenti di zona nyaman dan terus mengembangkan bisnisnya, wanita berusia 35 tahun itu menambah jenis produksi dari bisnis camilan yang ia geluti yakni dengan membuat keripik usus.

“Berawal memiliki keinginan untuk terus berkembang, pada akhirnya saya memilih untuk menambah jenis camilan yakni keripik usus. Alhamdulillah  banyak yang suka. Apalagi momennya juga terbilang tepat di hari mendekati lebaran yang membuat permintaan semakin banyak,” katanya.

Tak hanya diminati sampai ke luar negeri, produksi keripik usus yang baru saja berjalan 2 bulanan itu juga diminati di pasar lokal. Pasar lokal tersebut diantaranya Jombang, Tulungagung, Blitar hingga Surabaya

Lilik menceritakan, jika bisnisnya mampu menembus pasar luar negeri berkat bantuan temannya yang kebetulan  tinggal dan bekerja di luar negeri.

Lilik mengaku, dalam sehari, orderan rutin yang harus ia kirim untuk memenuhi permintaan bisa mencapai 300 kilogram. Hal itu belum termasuk hitungan untuk memenuhi pesanan dari luar negeri yang mencapai 1 ton dalam setiap dua Minggu sekali di masing-masing negara tujuan pemesanan.

Keripik Usus Kediri tembus manca negara

“Kalau untuk memenuhi pesanan di pasar lokal seperti Jombang, Blitar, Tulungagung hingga Surabaya, kita bisa produksi mencapai 300 kilogram keripik usus per harinya,” bebernya.

Dari banyaknya jumlah orderan yang masuk ditempatnya, maka tak heran jika omzet per bulan dari hasil penjualan keripik usus saja bisa mencapai Rp 100 juta. “Rp 100 juta itu hitungan kotor ya. Itu termasuk hitungan belanja bahan baku dan untuk membayar sejumlah karyawannya.
Masih kata Lilik, untuk memenuhi banyaknya permintaan itu, Lilik telah memperkerjakan setidaknya 16 orang dari warga sekitar. Itupun mereka dibagi menjadi 3 shift kerja.

Lebih lanjut, Lilik berharap, dengan banyaknya jumlah pesanan yang datang, ia ingin sekali adanya bantuan dari pemerintah daerah untuk memberikan sarana prasara untuk memudahkan berproduksi. Diketahui, untuk harga usus buatan Lilik ini dibandrol dengan harga Rp 50 ribu per kilogramnya.[nm/ted].



Apa Reaksi Anda?

Komentar