Gaya Hidup

Kenduri Besar Bedingin Bungah, Kearifan Lokal yang Tetap Lestari di Ponorogo

Ponorogo (beritajatim.com) – Selain kesenian Reyog yang sudah mendunia, daerah di Ponorogo juga mempunyai banyak kearifan lokal yang sampai sekarang masih dijaga kelestariannya. Salah satunya acara kenduri yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Bedingin Kecamatan Sambit Ponorogo.

“Acara ini selalu kami adakan karena ini bentuk rasa syukur kami pada Tuhan yang Maha Esa,” kata Kepala Desa Bedingin Marjuki, Jumat (26/7/2019).

Acara yang mengambil tema Kenduri Besar Bedingin Bungah itu bertempat gunung Gemplah, sebuah bukit bekas tambang galian C desa setempat. Dengan adanya lampu warna – warni membuat tempat tersebut tampak begitu indah. “Bungah artinya gembira, kami mengajak masyarakat untuk gembira atas rahmatNya,” katanya.

Marjuki menyebut dalam acara itu ratusan orang dengan membawa nasi dan ingkung ayam. Selain ratusan ingkung ayam yang dibawa warga, ada satu gunungan hasil bumi yang berisi sayur-sayuran dengan tinggi 1,5 meter. Sebelumnya, gunungan dan ratusan ini diarak melintasi jalan di Desa Bedingin ke gunung Gemplah sejauh satu kilometer. Dan setelah selesai doa, gunungan tersebut diporak dan dibagikan kepada warga. “Bersyukur atas limpahan hasil bumi dan panjatan doa supaya Desa Bedingin terhindar dari marabahaya,” ungkapnya.

Acara kenduri itu juga dimeriahkan oleh berbagai pentas seni untuk menarik para warga dari luar desa bahkan masyarakat luas untuk melihat acara tersebut. Selain menguri-uri kearifan lokal, kenduri besar Bedingin Bungah tersebut juga mengangkat isu nasional tentang sampah plastik. Dengan cara meminimalisir penggunaan plastik. Wadah ingkung dan piring yang digunakan pun dari daun pisang. Selain itu beberapa spot selfie juga dari bahan-bahan daur ulang seperti anyaman jerami dan bambu.

“Kami juga menggugah kesadaran masyarakat untuk mengurangi sampah palstik serta beralih kebahan yang lebih ramah pada lingkungan,” pungkasnya.(end/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar