Gaya Hidup

KEE Mangrove Ujungpangkah Gresik Jadi Tempat Makan 72 Jenis Spesies Burung

Gresik (beritajatim.com)- Sejak tahun 2020 kawasan ekosistem esensial (KEE) Mangrove Ujungpangkah, Gresik dijadikan tempat makan bagi 72 jenis spesies burung oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Daerah yang terletak di muara Sungai Bengawan Solo itu, meliputi tiga desa. Ketiga desa tersebut, diantaranya Desa Banyuurip memiliki luas lahan 32,69 hektar, Desa Pangkahkulon 347,03 hektar mangrove, dan Desa Pangkahwetan 763,99 hektar. Sedangkan untuk wilayah perairan seluas 410,56 hektar.

Dari 72 jenis spesies burung itu, ada 44 burung air serta 28 jenis burung migrasi. Semua jenis burung tersebut di KEE Ujungpangkah ada yang berstatus ‘endangered vuinerable’ dilindungi menurut International Union for Conversation Center Nature (IUCN). Burung-burung migrasi tersebut pernah hinggap dan mencari makan saat musim dingin. Menurut cerita nelayan setempat, pernah ada jenis burung migrasi yakni ‘bangau bluwok’ atau nama latinnya mycteria cinerea asal negara Madagaskar, dan burung pelikan Australia (pelecanus conspillatus).

“Burung Pelikan asal negara Australia pernah tersangkut jaring nelayan sewaktu mencari makan di mangrove KEE di desa kami. Setelah dilepas jaringnya diserahkan ke BKSDA karena burung tersebut dilindungi oleh dunia internasional,” ujar Kepala Desa Pangkahwetan Syaifullah Mahdi, Kamis (4/06/2021).

Sesuai karakteristiknya burung pelikan itu, memiliki tinggi 1,5 meter serta panjang sayapnya 2 meter. Burung ini sangat beda dibanding burung migrasi lainnya. Tidak heran jika nelayan setempat terheran-heran melihat burung tersebut.

Lokasi KEE di Desa Pangkahwetan memang sangat cocok bagi burung yang hendak mencari makan. Letaknya yang menjorok di muara Sungai Bengawan Solo. Sehingga, dibutuhkan waktu hampir saja saat menyusuri sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut. Dengan menaiki perahu tempel milik nelayan, letak KEE atau pulau burung itu persis berdekatan dengan Laut Jawa.

Ada 462 tanaman mangrove yang ditanaman di kawasan itu dengan luas 140 hektar. Keberadaan tanaman tersebut, bukan hanya tempat untuk mencari makan bagi burung yang dilindungi. Namun, juga sebagai penahan agar tidak terjadi abrasi.

Polisi Kehutanan (Polhut) BKSDA Jawa Timur, Adnan Aribowo menuturkan, lokasi ini dikenal sebagai kalituri yang dipenuhi anakan ikan baramudi, dan ikan glodok. Makanan bagi burung yang sedang bermigrasi. “Jika air laut pasang, burung-burung tersebut biasanya bersembunyi dibalik rerimbunan pepohonan mangrove. Saat air surut burung-burung itu keluar dengan bergerombolan untuk mencari makanan berupa ikan-ikan kecil,” tuturnya. [dny/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar