Gaya Hidup

Kecanduan Pegang HP, Waspadai WhatsApp Anxiety Disorder

Pexels

Surabaya (beritajatim.com) – Semakin berkembangnya alat komunikasi saat ini, memudahkan orang untuk bertukar kabar jarak jauh. Apalagi sekarang sudah banyak aplikasi yang memudahkan untuk mengirim pesan, salah satunya whatsApp. Namun tahukah Anda ternyata aplikasi ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan lo.

Mengutip Wikipedia, Rabu (2/9/2021) WhatsApp Messenger merupakan aplikasi untuk mengirim pesan yang dikelola oleh Facebook, Inc. Selain berkirim pesan, aplikasi ini memudahkan pengguna untuk saling berkirim foto atau video, melakukan panggilan telfon, hingga video call. Kemudahan penggunaan WhatsApp membuat orang kecanduan untuk menggunkaan aplikasi ini melebihi batasan.

Banyaknya pesan yang masuk secara bertubi-tubi juga dapat membuat seseorang mengalami gangguan kecemasan atau disebut dengan WhatsApp anxiety disorder. Gejala ini membuat Anda selalu membawa ponsel kemanapun dan mengecek pesan WhatsApp yang masuk. Selain itu Anda juga tidak dapat fokus untuk melakukan aktivitas yang lain karena takut ketinggalan informasi yang penting.

Melansir dari salah satu sumber, Isabella Venour seorang pelatih mindset dan marketing mengatakan bahwa, komunikasi lewat aplikasi digital tidak dapat menggambarkan perilaku seseorang secara utuh. “Ketika seseorang tidak selalu membalas pesan WhatApp yang masuk dengan cepat, mereka akan merasa cemas karena takut dianggap sebagai orang yang tidak cepat tanggap.” Hal-hal tersebut yang sering menyebabkan seseorang mengalami WhatsApp anxiety disorder.

Seperti dilansir dari laman Creativeyatra, spam grup chat di WhatsApp keluarga juga dapat membuat seseorang jenuh saat membuka WhatsApp. Bayangkan saja setiap anggota keluarga yang mengirimkan minimal 25 pesan ucapan selamat pagi setiap harinya, yang jika tidak ditangggapi akan menyebabkan kecanggungan sosial.

WhatsApp juga tidak dapat memfilter konten mereka. Berbeda dengan facebook yang relatif aman dalam hal konsumsi konten karena mereka memfilter konten yang diunggah sesuai dengan kebijaksanaan pemirsa sesaat setelah pengguna mempostingnya. Sedangkan, pengguna WhatsApp bebas mengirimkan apa pun yang mereka inginkan, walaupun hal tersebut termasuk berita hoax, konten yang mengandung sara, bahkan hal-hal yang tidak pantas untuk dishare.

Menggunakan WhatsApp dalam kurun waktu yang lama pasti dapat memengaruhi leher dan tulang punggung Anda. Sayangnya kecanduan digital ini dapat menjadi gejala penyakit mental yang tidak terlalu mencolok.[rsf/esd]


Apa Reaksi Anda?

Komentar