Gaya Hidup

Kebersamaan Difabel Kota Kediri Hadapi Pandemik Covid-19

Kediri (beritajatim.com) – Meski pendapatan menurun drastis, namun para difabel ini tak segera putus asa. Mereka mencari cara untuk bertahan dengan kemampuan yang dimilikinya. Demikian semangat yang dibangun oleh Komunitas Disabilitas Mandiri (KDM) Kota Kediri.

Di sekretariat KDM yang berlokasi di Jl. Jaksa Agung Suprapto, Kota Kediri, samping kiri gedung KPU Kota Kediri, berdiri beragam usaha yang dijalankan oleh para difabel. Mulai dari warung kopi “Jreng” milik Apririyanti, usaha jahitan milik Sutiyono, dan usaha tambal ban yang dijalankan oleh Kasiani, karena suaminya sedang sakit.

“Kalau dipikir ya sepi. Di sini biasanya ramai sekali orang ngopi. Sekarang hampir tidak ada, hanya teman-teman kita saja,” kata Apririyanti (Yanti). Biasanya, dari usaha warung kopinya, Yanti bisa mengantongi uang Rp 190.000,-/hari, kini puluhan ribu saja sulit.

Hal senada juga disampaikan oleh Sutiyono. Pada saat ramai, utamanya menjelang tahun ajaran baru, sehari Sutiyono bisa merampungkan 3 stel baju dengan masing-masing bertarif Rp 70.000,-. Kini, pemesan nyaris nol. Ia hanya mendapat orderan permak baju dan jualan sarung bantal saja.

Sama halnya dengan Anshori, Ketua KDM yang dagang bakso. Dalam sehari, biasanya ia bisa menjual 50 mangkuk dengan tiap mangkuk harganya Rp 3.000,-. Kini 10 mangkuk saja susah.

Hanya saja, mereka tak berhenti begitu saja. Ketika pelanggan menurun, Anshori menyerahkan usahanya kepada istrinya. Ia sibuk membuat percobaan berbagai menu baru misalnya sempol daging sapi. Selama dua bulan masa Corona ini, Anshori mengaku sudah menguasai belasan resep penganan yang bisa menjadi varian pendapatan.

Sedangkan Yanti mencoba untuk membuat stik ubi. Penganan ini cocok untuk menyambut Lebaran. Intinya, apapun dilakukan untuk menyambung hidup. Rupanya, upaya Yanti ini bersambut dengan Laznas BMH (Baitul Maal Hidayatullah) yang sedang panen raya ubi.

“Dalam panen berkah, Ahad (19/4) hasil stok ketahanan pangan yang sudah disiapkan oleh Laznas BMH sejumalah 15 ton gabah dan 105 ton ubi jalar untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga Kediri Raya,” ujar Ustadz Abdullah selaku Sepervisor Program.

Jauh sebelum pandemik terjadi, Laznas BMH telah menjalankan program ketahanan pangan dengan penanaman padi di sawah sebagai upaya membantu ketersediaan bahan pangan bagi kaum yang membutuhkan.

KDM merupakan salah satu binaan Laznas BMH. Lembaga amal ini tidak hanya memberikan bantuan sembako salah satunya bergabung dengan Si Jamal (Sinergi untuk Jaring pengaman Sosial) melainkan memberikan insentif bagi para difabel untuk memutar roda perekonomian.

Pada kesempatan ini, secara simbolis Laznas BMH menyerahkan ubi jalar kepada KDM untuk diolah (21/04). Selanjutnya, Laznas BMH dan KDM akan mengadakan pembicaraan lebih lanjut terkait dengan jumlah ubi yang mampu diolah oleh para difabel ini.

“Pokoknya kalau bikin makanan, saya siap. Pasti bisa,” kata Anshori bersemangat. Ia akan mengumpulkan teman-temannya untuk mengolah ubi jalar. Anshori dkk pun langsung merancang langkah untuk merealisasikan produksi penganan ini. Selanjutnya, Laznas BMH akan menggandeng institusi lain terkait mutu agar penganan yang dihasilkan enak dan berkualitas.

“Kami ingin orang membeli bukan karena kasihan, tapi karena memang enak. Selain bantuan bahan baku, kami juga akan bantu pengemasan dan quality control,” kata Ramadhan Niam, BMH. [nm/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar