Gaya Hidup

Kebanggaan dan Sejarah Kejayaan Kerajaan Blambangan

Banyuwangi (beritajatim.com) – Karnaval Etnik bertajuk Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) memang tak sekedar peragaan busana biasa. Selain mengambil tema budaya lokal, tapi jiwa, rasa dan kebanggaan kental di dalamnya. Pasalnya, setiap acara ini digelar tak hanya sekedar penampilan yang lewat begitu saja. Tapi ada cerita dan drama kolosal yang mengisahkan dalam setiap temanya.

Sehingga, para penonton dapat melihat dan mengetahui kisah balik dalam setiap tema budaya yang ditampilkan. Tak hanya itu, para peserta juga melengkapi dengan menampilkan sosok peran yang penuh penjiwaan.

Seperti yang dialami oleh Rizki Amalia Pratiwi. Peserta yang kali ini tampil pada sub tema putri dalam tema besar “The Kingdom of Blambangan” ini cukup bangga mampu tampil dalam perhelatan akbar ini.

Menurutnya, penjiwaan karakter dan keselarasan dalam tema menjadi hal menarik. Terlebih, perjuangan menuju perform menjadi bumbu yang tak mudah untuk dilalui. “Tema memang sudah ditentukan lebih dulu. Meski begitu kita juga perlu latihan untuk menemukan karakter yang sesuai dengan tema yang kita perankan,” kata wanita yang mewakili Inspektorat Pemda Banyuwangi ini, Sabtu (27/7/2019).

Meski sudah kali kedua ambil bagian dalam gelaran yang sama. Tapi, setiap tema tiap tahunnya memiliki perbedaan. “Dulu pernah ikut, tema Puter Kayun. Tapi, selalu saja beda ya. Karena temanya selalu berubah, jadi perlu menemukan karakter yang pas. Ini saja butuh satu bulan setengah untuk bisa menjiwai karakter ini. Belum lagi, menentukan desain kostum yang sesuai dengan tema juga susah,” katanya.

Soal kostum, kata Riski, butuh penanganan khusus. Bahkan, dirinya mengaku harus menggunakan desainer sendiri. “Waktu itu, ada penilaian dari juri suruh ganti karena kostum tidak ada baling-balingnya tidak sesuai dengan tema, akhirnya harus ditambah dengan ukiran Bali. Bahkan, dua kali ganti kostum. Kalau habisnya berapa ini tidak bisa dinilai dengan uang,” ungkapnya.

Selain rasa bangga, lanjut Riski, pengalaman ikut BEC dapat menambah kepercayaan diri. Terlebih, juga mampu mengekspresikan diri dan mengenal kebudayaan asli daerah Banyuwangi. “Yang jelas, mesti tambah banyak teman dan pengalaman,” ujarnya.

Pada tahun ini, BEC mengangkat tema The Kingdom of Blambangan, yang mengisahkan tentang Kejayaan Kerajaan Blambangan pada masanya. Tema ini dibagi lagi dalam sepuluh sub tema yang sarat makna historis tentang kejayaan Kerajaan yang menjadi cikal bakal Banyuwangi.

“Karnaval ini juga etalase kreativitas anak anak muda Banyuwangi untuk berkiprah di level yang lebih luas tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai anak daerah. Inilah yang membedakan kami dengan lainnya meakipum ditampilkan falam kemasan modern namun nuansa etnik sangat kental” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Setiap tahun BEC menampilkan tema yang berbeda, namun tetap berakar pada budaya lokal. Inilah yang membedakan BEC dengan karnaval lainnya di Indonesia. Tema-tema ini lalu diterjemahkan dalam kostum yang diperagakan para talent-nya. “Secara tidak langsung, semua peserta dan penonton akan belajar sejarah dan filosofi tradisi lokal Banyuwangi yang kita angkat tiap tahunnya. Kami mengajarkan sejarah dengan cara kreatif,” pungkas Anas. (rin/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar