Gaya Hidup

Kalau Pakai Kritik Sastra Lama, Kasihan Sastrawan Sekarang

Mashuri (narasumber, kaos putih) dan Rafif Amir (moderator, kaos hitam)

Sidoarjo (beritajatim.com) – Bidang kritik sastra mengalami banyak perubahan di era sekarang. Sebelum tahun 1990-an, kritik sastra lebih banyak bersandar pada kekuatan struktur teks. Kesan yang muncul, kritik sastra semacam kegiatan menghakimi dan mengadili karya sastra.

“Kalau kita pakai tradisi kritik sastra yang lama, kasihan sastrawan kita. Bisa-bisa mereka mati. Pembahasan kritik sastra lebih fokus pada kekuatan struktur karya, menimbang baik dan buruknya karya. Itu kritik sastra yang lama, sehingga berat memang,” kata Mashuri, Selasa (27/4/2021) dalam acara diskusi bertema ‘Membangun Tradisi Kritik Sastra’, di Dekesda Art Center, Sidoarjo.

Penulis yang pernah memenangi Sayembara Novel DKJ itu menyontohkan kegiatan kritikus sastra yang beraliran formalis. “Kritikus sastra beraliran formalis, kata ‘ítu’ dalam puisi saja dihitung jumlahnya, dipersoalkan peran dan maknanya dalam keseluruhan teks. Mereka melihat hal-hal detail. Sehingga karya sastra seperti ditelanjangi,” kata Mashuri, sastrawan yang sekaligus staf ahli Balai Bahasa Jatim itu.

Tradisi kritik sastra yang lama, menurut Mashuri, sangat kejam terhadap karya sastra maupun terhadap sastrawannya. Namun setelah tahun 1990-an, Mashuri melihat ada kecenderungan melunak. “Kritik sastra mulai terbuka pada pendekatan-pendekatan budaya. Menafsirkan karya melalui pendekatan sosial, psikologi, keagamaan, sejarah, dan sebagainya,” kata Mashuri.

Mashuri memberi contoh tentang novel karya Djamil Suherman. “Novel Djamil Suherman berjudul Sarip Tambak-Oso itu lemah dalam beberapa aspek struktur. Tetapi ketika kita masuk melalui pendekatan sejarah dan budaya, keberadaan novel ini menjadi penting,” kata lelaki kelahiran Lamongan yang kini menetap di Sidoarjo itu.

Pembacaan puisi oleh Saddam Achmad dari komunitas Malam Puisi Sidoarjo.

Adanya perubahan tradisi kritik sastra, bagi Mashuri, membuka peluang kepada orang-orang yang bukan lulusan sarjana sastra. “Ini peluang bagi teman-teman semua, teman-teman di Sidoarjo. Sastra Sidoarjo akan lebih berkembang bila tradisi kritik sastranya terbangun,” tandas Mashuri.

Mendapat paparan dari Mashuri, beberapa pertanyaan dan tanggapan dilontarkan oleh audien. Misalnya oleh Yekti Pitoyo dari komunitas ‘Pena Perajut Aksara’, Fahruddin, Kyota Hamzah dari Forum Lingkar Pena (FLP) Sidoarjo, Winda Yulis dari komunitas Yuk Nulis Sidoarjo, Rizka Amalia, Nur Aziz Asmuni, dan beberapa lainnya.

Winda Yulis dari komunitas Yuk Nulis Sidoarjo.

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) Ali Aspandi berharap bahwa diskusi kritik sastra bakal lebih menguatkan ekosistem sastra di Sidoarjo. “Saya liat ekosistem sastra di Sidoarjo sudah bagus. Para pegiat sastranya juga bersemangat. Semoga dengan acara ini, terbangun tradisi kritik sastra dan semakin menguatkan ekosistem sastranya,” katanya.

Sekadar diketahui, acara diskusi bertema ‘Membangun Tradisi Kritik Sastra’, di Dekesda Art Center, Sidoarjo, Selasa (27/4/2021), diselenggarakan oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo. Acara ini mendapat dukungan dari Bait Kata Library dan Yayasan Pusat Amal Kebajikan.

Selain diskusi, digelar pula pembacaan 4 penyair muda. Terdiri dari Adam Rizkita, Bayu Putih, Niswa Hikmah, Saddam Achmad. Keempatnya adalah pemenang sayembara penulisan puisi ‘5 Penyair Muda Terbaik Sidoarjo’tahun 2021.

Usai diskusi, sembari ngaburit, kegiatan diisi dengan pembacaan puisi secara bebas oleh para sastrawan Sidoarjo. Kegiatan ditutup dengan acara buka puasa bersama. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar