Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Jember Trendsetter Kreativitas, Tak Perlu Mengekor

Jember (beritajatim.com) – Masyarakat Kabupaten Jember, Jawa Timur, tak perlu menjadi pengekor dalam urusan kreativitas. Sebab, kreativitas warga Jember justru bisa menjadi patokan atau trendsetter yang justru memunculkan pengikut.

“Kreativitas ini tidak mesti mengikuti tren, tapi bagaimana Jember sebagai kota kreatif harus menciptakan tren. Ketika menciptakan tren, konsekuensi logisnya pasti ada follower yang mengikuti, Kalau tidak belajar menciptakan tren, maka kita akan menjadi follower fenomena yang sebenarnya tak perlu diikuti,” kata Dosen Pariwisata Universitas Jember dan Direktur Event Jember Fashion Carnaval, David Susilo, sebagaimana ditulis Senin (26/9/2022).

David mengatakan, publik Jember sudah teruji sebagai pencipta tren ketika memunculkan Jember Fashion Carnaval. Belakangan tren kreativitas itu terlihat dengan munculnya julukan ‘Jember Kota Cerutu’ yang menjadi lekat dengan produksi cerutu dan tembakau Na oogst di Jember.


Hal ini ditegaskan David, menyusul munculnya kreativitas fashion jalanan seperti Citayam Fashion Week yang belakangan diikuti warga di sejumlah kota.

“Saya mengapresiasi Citayam Fashion Week. Tapi karena memakai area publik, maka harus ada aturan yang dipatuhi. Sebenarnya aturan melintasi zebra cross sudah jelas. Itu tempat untuk menyeberang, bukan fashion show,” katanya.

Kreativitas memang menembus batas imajinasi. Namun, lanjut David, ketika sebuah kreativitas bersinggungan dengan wilayah publik, maka harus ada ketaatan terhadap regulasi agar tak merugikan masyarakat.

“Sehingga tidak menjadi problem sosial baru,” katanya.

David memandang perlunya konsep jelas dalam mewujudkan kreativitas. Kreativitas yang berkesinambungan tidak bisa bersifat spontan. Ia mencontohkan JFC.

“Kami tetap menggunakan dan mengutamakan konsep. Kami juga mengedepankan perizinan, sehingga apa yang kami lakukan tidak bertentangan dengan regulasi,” katanya.

Kreativitas juga bisa berjalan beriringan dengan pemerintah atau pemangku kebijakan, dan bukannya berhadapan. “Kita tetap membutuhkan peran pemerintah dalam meregulasi penggunaan area publik dari aspek kreativitas, sehingga pemerintah ikut mendorong tanpa merugikan yang lain,” kata David. [wir/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar